BANYUWANGI, MUSIK JAZZ DAN PARIWISATA


Jazz Pantai Banyuwangi - Di pecaturan musik tanah air, Banyuwangi memang bukan kiblat musik jazz. Banyuwangi juga sama sekali bukan kota yang dikenal banyak melahirkan penyanyi atau musisi jazz. Bahkan genre musik jazz bagi sebagian besar warga Banyuwangi mungkin masih dianggap asing. Maka terbilang aneh bin ajaib jika kemudian kota di ujung timur Pulau Jawa ini, begitu antusias menggelar pertunjukan musik jazz. Bukan hanya sekali, tapi dua kali dalam setahun, dalam rentang waktu yang relatif berdekatan dan melibatkan penyanyi sekaligus musisi berskala nasional!
Jazz Pantai Banyuwangi 2015 menampilkan Marcell.
Aksi Marcel di Jazz pantai Banyuwangi 2015 (foto : Metrotvnews.com)
Bulan lalu masyarakat baru saja menikmati Jazz Ijen Banyuwangi, tak sampai sebulan dalam hitungan hari, kali ini masyarakat kembali disuguhi Banyuwangi Beach Jazz Festival. Serupa tapi tak sama. Sama-sama musik jazz, beda konsepnya. Jazz Ijen bisa dinikmati gratis, sebaliknya Jazz pantai berbayar. Jazz Ijen ada unsur sosialnya, berupa pengumpulan dana dan pengobatan gratis untuk warga sekitar Gunung Ijen, sedangkan Jazz pantai murni komersial. Meskipun sama-sama diadakan diluar ruang  dan panggung terbuka, Jazz Ijen mengambil venue di pegunungan, sedangkan Jazz pantai - seperti namanya - berlangsung di tepi Pantai Boom. Dua nuansa tempat yang berbeda, berbeda sensasinya. Nonton Jazz Ijen merasakan dinginnya pegunungan, nonton Jazz pantai ditemani desiran angin laut.

Namun ada satu kesamaan penting dari dua event musik jazz Banyuwangi ini, yaitu sama-sama suksesnya! Jazz di gunung dan jazz di pantai sama-sama laku dan mampu mendatangkan penonton. Padahal harga tiket jazz pantai dibandrol cukup fantastis. Untuk mendapat tiket terendah, yaitu Silver, penonton harus merogoh kocek Rp 500 ribu, kelas Gold Rp 1,5 juta dan termahal Platinum Rp 2 juta. Bandingkan dengan tiket konser Bon Joni yang digelar sehari sebelumnya antara Rp 500 ribu - Rp 3 juta. Jelas terasa mahal, apalagi ini dihelat di daerah. Faktanya, hingga dihari H 80% tiket dinyatakan sold out.

Meskipun berbayar, masyarakat masih bisa menyaksikan acara tersebut secara gratis melalui layar raksasa di amphitheatre Pantai Boom. Bahkan yang tidak sempat datang ke lokasi acara, bisa menikmati acara secara live dari internet. Ya, seperti juga Jazz Ijen dan event-event lain, Pemkab Banyuwangi juga menyiarkan jazz pantai ini live streaming melalui Youtube secara penuh dari awal sampai akhir. Satu lagi persembahan dari digital society ala Banyuwangi.

Jazz pantai yang digelar pada Sabtu, 12 September 2015 di Pantai Boom ini adalah kali keempat dari pagelaran serupa tahun-tahun sebelumnya dan masih merupakan rangkaian dari Banyuwangi Festival 2015. Kemegahan jazz pantai ini bisa dilihat dari besarnya panggung yang disiapkan panitia, yaitu seluas 30x40 meter dengan didukung sound berkekuatan 200 ribu megawatt dan lampu 150 ribu megawatt.

View panggung yang langsung menghadap selat Bali membutuhkan sound system yang cukup besar untuk menghadapi tiupan angin yang cukup kencang. Maka tak heran jarak antara panggung dan bangku penonton diatur cukup jauh, hal ini sebetulnya membuat interaksi antara penyanyi dengan penonton kurang maksimal. Dan ini memaksa Vincent dan Desta yang memandu acara, termasuk para penyanyi, harus turun panggung mendekati deretan penonton agar terjalin interaksi yang lebih intens. Kondisi ini berbeda dengan Jazz Ijen dimana jarak antara panggung dan penonton relatif dekat. Alhasil dari segi komunikasi dengan penonton, Jazz Ijen lebih unggul. Secara keseluruhan, Banyuwangi Beach Jazz Festival 2015 yang menampilkan penyanyi Shena Malsiana (finalis X Factor), Marcel Siahaan, Once Mekel (eks vokalis Dewa), Citra Scholastika (finalis Indonesian Idol) dan Vina Panduwinata ini berlangsung sukses sepanjang 5 jam pertunjukan.

Pertama kali Banyuwangi menggelar pertunjukan jazz pada 2012 lalu. Saat itu tempatnya belum di pantai, tapi masih di Gesibu (Gelanggang Seni Budaya) yang berada di Taman Blambangan. Musisi yang tampil adalah Syaharani and Queenfireworks. Setahun kemudian, muncul konsep mengalihkan lokasi di pantai untuk memberikan nuansa berbeda yang masih jarang ditemukan pada pementasan jazz pada umumnya.

Jadilah jazz pantai pertama kali diselenggarakan pada 2013 dengan nama Banyuwangi Beach Jazz Festival dengan menampilkan musisi Trio Lestari yang terdiri Glenn Fredly, Tompi dan Sandhy Sandoro. Selain itu juga tampil Syaharani and Queenfireworks yang membawakan lagu legendaris suku Using Banyuwangi, Pethetan, berkolaborasi dengan penyanyi aslinya.

Pada tahun 2014 Banyuwangi Beach Festival tampil dengan tema "Gulung Ombak, Jazz Bersemarak" disemarakkan oleh Kua Etnika featuring Trie Utamai, Tohpati & Friends, Kahitna dan kolaborasi seni tradisi Banyuwangi. Dikawal oleh Cak Lontong dan Insan Nur Akbar sebagai pembaca acaranya.

Bila dilihat dari 4 tahun penyelenggaraan musik jazz di Banyuwangi, tahun 2015 ini ada pergeseran pengisi acaranya. Tahun-tahun sebelumnya pengisi acaranya adalah para penyanyi dan musisi jazz, sedangkan tahun ini para penyanyi yang didapuk meramaikan acara tidak ada yang merupakan penyanyi/musisi jazz murni. Semuanya penyanyi musik pop. Karena itu para penampil sempat merasa bingung dan keheranan, ajang musik jazz tapi yang diundang penyanyi pop. Salah satunya seperti dilontarkan Vina Panduwinata, "Bingung, kenapa aku? Aku ini kan bukan penyanyi jazz. Tapi merasa tersanjung juga karena sudah mendapat kehormatan untuk bergabung di acara ini," ujar Vina saat jumpa pers, seperti dikutip Merdeka.com.

Ternyata tuan rumah punya pertimbangan lain. Menurut Bupati Azwar Anas, pihaknya ingin memadukan jazz dengan musik yang lebih familiar.

"Masyarakat Banyuwangi masih baru merangkak naik. Dan ternyata belum bisa menerima musik jazz yang murni, belum nyampe. Jadi kami pilih para artis dari musik lain untuk menyajikan jazz dengan nuansa yang lebih familiar agar bisa dinikmati semua orang," papar Abdul Azwar Anas.

Sebelumnya Anas pernah menyatakan hal serupa seperti dimuat Liputan6.com, "Konsep Banyuwangi Jazz Festival harus yang funky supaya bisa dinikmati oleh anak-anak muda. Karena itu kita siapkan konsep yang jauh berbeda dari sebelumnya," ujarnya. Malahan saat itu nama Afgan dan Raisa sempat disebut sebagai penyanyi yang akan mengisi acara. Namun belakangan nama tersebut tidak terdengar.


JAZZ DAN BANYUWANGI

Apa hubungan Banyuwangi dan musik Jazz? Apakah Banyuwangi sedang menggalakkan musik Jazz? Apakah ini semata wujud kesenangan sekelompok elit berduit? Mengapa jazz, mengapa bukan musik lain yang lebih punya penggemar banyak, seperti musik pop atau malah dangdut saja? Ini pertanyaan-pertanyaan yang pasti bermunculan di benak masyarakat awam, tak terkecuali warga Banyuwangi sendiri.

Kalau saja pagelaran jazz ini dilaksanakan di kota besar macam Jakarta atau Bandung, orang masih maklum. Tapi ini di Banyuwangi, kota yang selama ini tak pernah terdengar berkaitan dengan atribut musik jazz yang secara nasional pun penggemarnya terbatas di kalangan tertentu. Ada apa ?

Ayo dicari benang merahnya. Yang pasti Pemkab Banyuwangi tidak ngawur atau asal-asalan mengagendakan pertunjukan musik yang jelas menyedot dana yang tidak kecil ini. Di sinilah jelinya para pengambil keputusan dalam melihat peluang. Jazz Ijen dan Jazz Pantai adalah bagian dari segmentasi kepariwisataan Banyuwangi.

Dalam mengembangkan kepariwisataaan daerah, Pemkab Banyuwangi mempunyai konsep segmentasi pasar sektor pariwisata berdasarkan karakter demograsi dan psikografi untuk membidik pasar yang potensial.

Segmentasi berdasarkan demografi merujuk pada usia dan jenis kelamin wisatawan, sedangkan segmentasi psikografi menunjukkan gaya hidup, nilai-nilai yang dipercayai dan kepribadian pasar.
Berdasarkan segmentasi itu, ada tiga segmen utama wisatawan yang dibidik, yaitu kaum perempuan, anak muda dan pengguna internet (netizen). Ketiga kelompok konsumen/wisatawan ini pasarnya sangat besar.

Jumlah perempuan di Indonesia hampir 120 juta jiwa.
Jumlah anak muda yang berusia 16-30 tahun mencapai 62 juta jiwa.
Dan jumlah netizen 82 juta.

Jika dikalkulasi, total ada ada 264 juta pasar wisatawan yang dibidik Pemkab Banyuwangi. Tapi tentu saja tiga kelompok tersebut saling beririsan pasarnya. Misalnya ada perempuan yang berusia muda dan sekaligus pengguna internet.  Namun, ketiganya tetap memerlukan pendekatan pemasaran yang spesifik.

Berbeda Pasarnya, Beda Cara Penanganannya

Untuk segmen perempuan, Banyuwangi mempunyai event wisata Festival Batik. Perempuan dianggap penting, karena sangat memegang pengaruh keputusan keluarga dalam berwisata. Kalau kaum ibu bisa digaet, maka satu keluarga bisa ikut semua. Dan dampak family tourism sangat besar, karena nilai belanjanya lima kali lebih besar daripada wisatawan individual. Di sinilah Pemkab Banyuwangi akan menyiapkan event pendamping, seperti wisata pantai atau pegunungan.

Untuk segmen anak muda, Pemkab Banyuwangi menyiapkan beberapa event wisata, seperti selancar, selancar layar, selancar angin, maupun balap sepeda. Banyuwangi juga punya wisata berkonsep adventure yang cocok untuk jiwa muda, yaitu ke Teluk HijauPulau Tabuhan, Pantai Sukamade, dan Taman Nasional Alas Purwo. Sedangkan yang berkonsep non-alam, ada festival jazz  hingga Banyuwangi Art Week untuk anak muda.

Bagaimana dengan segmen pengguna internet? Netizen dijadikan medium untuk mempromosikan wisata. Banyuwangi punya aplikasi Android yang dinamai Banyuwangi  In Your Hand di telepon pintar untuk memasarkan wisata. Selain itu, sarana media sosial seperti Twitter, Youtube, Path dioptimalkan untuk menjaring wisatawan. Rekomendasi dan foto-foto selfie yang di-upload di dunia maya terbukti sangat memengaruhi keputusan orang dalam berwisata.

Secara berkala Banyuwangi juga menyelenggarakan lomba foto dan tulisan bagi blogger, sehingga menarik mereka untuk berkunjung. Banyuwangi adalah kota yang ramah terhadap netizen, karena tersedia sekitar 1.500 titik wifi di seluruh Banyuwangi, di tempat-tempat wisata, taman, dan fasilitas publik lain yang tentunya sangat memanjakan dan memudahkan netizen berinteraksi dengan komunitasnya di dunia maya.

Dengan  promosi dan segmentasi yang digarap berkelanjutan, kunjungan wisatawan domestik maupun asing ke Banyuwangi  meningkat secara signifikan. 

Nah, terjawab sudah pertanyaan mengapa ada pagelaran Banyuwangi Beach Jazz Festival di Pantai Boom Banyuwangi. Itulah bagian dari segmentasi yang dilakukan Pemkab Banyuwangi untuk menjaring wisatawan.

Secara logika, penggemar musik jazz memang tidak sebanyak musik pop atau dangdut. Masalahnya kedua jenis musik itu sudah terlalu umum dan sering dipertunjukkan di semua daerah Indonesia. Tidak ada nilai lebihnya jika Banyuwangi menggelar musik pop atau dangdut dengan deretan penyanyi papan atas sekalipun. Tidak ada pembedanya dengan daerah lain. Tapi jazz beda, segmennya mungkin kecil tapi ada penggemarnya. Jazz dipilih karena musik ini sedang digandrung kelas menengah di Indonesia. Terselip harapan, acara ini bisa memperbanyak investor datang ke Banyuwangi. Sponsor utama jazz pantai kali ini adalah grup Bosowa.

Belum ada daerah lain yang melakukannya seperti Banyuwangi. Dan kalaupun nantinya ditiru, Banyuwangi tetap beda. Daerah lain belum tentu punya dan mampu melaksanakannya di dua tempat sekaligus, di gunung dan di pantai. Banyuwangi bisa!

Berkat jazz, Banyuwangi menjadi pemberitaan di media mainstream. Orang pun ramai membicarakan. Siapa tahu, bukan hanya dampak wisata, event jazz sekaligus dapat membangkitkan minat kaum muda Banyuwangi menekuni musik ini secara lebih serius. Bukan mustahil nantinya muncul penyanyi atau musisi jazz Banyuwangi yang mampu berbicara di level nasional. Mengapa tidak? (TS)
video live streaming Banyuwangi Beach Jazz Festival 2015


loading...

4 komentar

wow!! banyuwangi emang the best in the word!!

wah mantap nih banyuwangi, maju terus ya kota banyuwangi

Keren nih ngadain konser jazz di banyuwangi. Solo kapan yah diadain jazz kayak gini.

Back To Top