INILAH DESA PANCASILA DI BANYUWANGI, ADA 4 TEMPAT IBADAH BERBEDA TAPI WARGANYA HIDUP RUKUN


Bicara tentang kerukunan antar umat beragama, barangkali kita perlu belajar dari warga Desa Sarongan, Banyuwangi. Di desa yang jaraknya sekitar 65 km dari kota Banyuwangi ini terdapat empat buah tempat ibadah berbeda, namun warganya hidup rukun damai berdampingan.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas bersama tokoh lintas agama saat upacara hari Kesaktian Pancasila (via Kompas.com)

Mencapai Desa Sarongan yang berada di Kecamatan Pesanggaran di ujung selatan Banyuwangi ini memang membutuhkan perjuangan tersendiri. Diperlukan kesabaran dan kehati-hatian dalam berkendara karena jalan menuju desa ini cukup berkelok, terlebih saat usai turun hujan ada kabut tipis yang menutupi jalan.

Desa Sarongan yang berada di pinggir hutan kawasan Taman Nasional Meru Betiri ini memiliki bentangan alam yang indah dan memiliki destinasi wisata andalan Banyuwangi.

Yaitu Pantai Sukamade yang terkenal sebagai tempat konservasi penyu dan Teluk Hijau yang memiliki pantai cantik.

Saat memasuki desa Sarongan, Anda akan disambut dengan pemandangan alam yang masih alami serta gugusan gunung Beteng dan Gendong dikejauhan. 

Selain alam yang indah, masyarakat yang tinggal di desa ini mampu mempertahankan nilai-nilai kerukunan antar umat beragama. Di Desa Sarongan ada tempat ibadah dari masing-masing agama dan mereka hidup rukun tanpa pernah berkonflik selama puluhan tahun.

Di desa ini lengkap tempat ibadahnya mulai dari masjid, gereja, wihara dan pura, namun warganya hidup rukun dan memiliki semangat kegotongroyongan yang tinggi.

Tercatat ada empat gereja, 21 masjid/musala, satu wihara, dan satu pura di Desa Sarongan. Malah ada tempat ibadah jaraknya ada yang hanya 20 meter, seperti Gereja Pantekosta Tabernakel yang tempatnya berhadap-hadapan dengan masjid, namun tak pernah ada masalah.

Karena itu Bupati Banyuwangi mengapresiasi Desa Sarongan sebagai Desa Pancasila.

"Di sini kita bisa melihat pluralisme dalam kehidupan di desa yang jauh dari hingar-bingar perkotaan. Ini menjadi pukulan bagi kita warga perkotaan yang selalu berbenturan dengan adanya perbedaan. Bisa dilihat masjid di sini bisa bersebelahan dengan gereja dan jaraknya tak jauh dari Pura. Yah bisa kita sebut ini sebagai Desa Pancasila," ujar bupati yang pernah menjadi mantan ketua IPPNU Pusat ini.

Desa Sarongan, Banyuwangi.
Salah satu panorama Desa Sarongan (via http://www.imgrum.org/user/andhika_liu/258793213)

Semangat gotong royong warga Desa Sarongan ini tampak dalam kehidupan bertetangga. Masyarakat Sarongan terkenal akan toleransinya dalam keberagaman, di desa ini semua unsur masyarakat serta agama saling membaur. 

Di mata pendeta anang Sugeng, tokoh agama yang tinggal di Sarongan, kerukunan warga di sini juga terlihat saat ada warga yang meninggal. Semua tetangga akan ikut mempersiapkan pemakaman tanpa pernah melihat agamanya apa.

"Untuk ibadah pemakaman, yang mengurusi keluarga tapi persiapannya ya kami semua yang bantu," tambahnya.

Menurutnya, sekitar tahun 1970-an, sering digelar pertemuan bersama-sama masyarakat seluruh desa.
Pada pertemuan tersebut, masing-masing pemuka agama akan menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan kerukunan.

"Sekarang pesan itu disampaikan di masing-masing tempat ibadah."

"Contohnya di gereja. Sebelum ibadah kami selalu menyanyikan lagu Indonesia Raya dan meletakkan simbol negara seperti Bendera Merah Putih."

Di matanya, Desa Sarongan ini adalah desa yang tenang dan damai, sedangkan masyarakatnya hidup rukun damai berdampingan yang benar-benar mencerminkan Pancasila.

Bupati Anas pun sepakat bahwa nilai-nilai Pancasila yang sebenarnya sudah ada di Desa Sarongan. Baginya desa ini sungguh luar biasa, diberkahi alam yang indah serta masyarakat yang rukun. Sangat sesuai dengan nilai kebangsaan yang ingin dicapai Pemerintah Indonesia saat ini. 

"Satu makna dari Pancasila adalah gotong royong dan hidup rukun. Nah, Desa Sarongan ini adalah contohnya," ungkapnya.

Dengan potensi alam dan masyarakatnya yang sangat menjaga pluralisme, Pemkab Banyuwangi sedang mengejar perbaikan infrastruktur jalan dan melakukan promosi wisata. Salah satunya dengan menjadikan Sarongan sebagai salah satu rute balap sepeda International Tour de Ijen.

Ke depan, Desa Sarongan akan dikembangkan sebagai destinasi wisata dengan potensi keindangan pemandangan gunung dan hasil perkebunan.

"Masyarakat di sini sudah punya modal daya tarik pengunjung. Dengan keramahan, senyum, orang lapar ditawari makan. Ini tinggal tugas saya membangun infrastruktur," ujar Anas.

Alam yang indah, warga yang ramah, tunggu apalagi?

Ayo ke Sarongan, tak hanya untuk menikmati keindahan hijaunya pantai Teluk Hijau, tapi juga melihat indahnya kehidupan bermasyarakat salah satu contoh nyata desa Pancasila di Indonesia ini.

(Kompas.com, Merdeka.com)



loading...

Back To Top