INTERNATIONAL TOUR DE BANYUWANGI IJEN, LOMBA BALAP SEPEDA TERBAIK DI INDONESIA


International Tour de Banyuwangi Ijen kembali digelar pada 11-14 Mei 2016. Inilah ajang balap sepeda di Indonesia yang melibatkan unsur olahraga dan pariwisata yang digarap dengan sangat serius. Ada misi besar yang dibalik penyelenggaraan olah raga berskala internasional yang berlangsung di Banyuwangi. Yaitu sebuah pembuktian bahwa event olahraga yang dikemas dengan baik merupakan cara yang efektif untuk mendatangkan turis, baik asing maupun domestik. Faktanya, event olahraga (sport) ternyata sangat baik dikembangkan untuk mendukung pariwisata (tourism).
Balap sepeda International Tour de Banyuwangi Ijen.
Pebalap beradu sprint pada etape terakir ITdBI 2014 (sumber : Metrotvnews.com)
Diluar negeri konsep sport tourism disebut mempunyai kontribusi besar dalam menarik wisatawan. Pada tahun 2000, The British Tourist Authority dan English Tourism Board menyatakan, 20 persen dari jumlah total wisatawan yang datang ke Inggris adalah wisatawan olahraga. Begitu juga di Kanada, 37 persen perjalanan di negara tersebut dilakukan oleh wisatawan olahraga. Dari ajang wisata olahraga ini diharapkan akan menjadi bola salju untuk menunjang pembangunan daerah.

Sport tourism menjadikan olahraga sebagai pintu untuk membuka banyak manfaat bagi ekonomi lokal. Daerah bisa berpromosi untuk mengajak wisatawan dan investor. Konsep sport tourism ini oleh Pemkab Banyuwangi diadopsi untuk menarik wisatawan berkunjung dengan mengadakan even olahraga internasional. Salah satunya adalah International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI).
International Tour de Banyuwangi Ijen 2015.
Etape 2 ITdBI 2015 (sumber : Merdeka.com)
ITdBI merupakan kombinasi ideal antara event sport berkualitas, keindahan alam dan kekhasan budaya lokal yang khas. ITdBI sengaja didesain melewati berbagai kawasan dan rute yang bervariasi. Di setiap titik tertentu disiapkan sambutan berbagai atraksi budaya setempat. Sedangkan di garis finish, para pebalap disuguhi berbagai pertunjukan kesenian khas Banyuwangi yang berbeda-beda, sehingga peserta bisa lebih mengenal budaya Banyuwangi. 

Sesuai dengan konsep sport tourism, rute yang dilalui para pebalap akan melintasi berbagai destinasi wisata andalan Banyuwangi, baik itu wisata pantai, perkebunan, city tour, hingga kaki Gunung Ijen. Pada ITdBI 2012 para pebalap diajak melepas 241 tukik (anak penyu) di Pantai Pulau Merah seusai menyelesaikan etape pertama. Angka 241 itu sesuai dengan Hari Jadi Kabupaten Banyuwangi ke 241 yang diperingati pada 18 Desember 2012.
Pebalap ITdBI 2016 melepas tukik di Pantai Boom.
Para pebalap ITdBI 2016 melepas tukik (anak penyu) pada H-1 di Pantai Boom. (sumber : Twitter.com
Sedangkan untuk ITdBI 2016 ini ada dua tempat wisata yang sedang dikembangkan Pemkab Banyuwangi dipilih sebagai tempat start pebalap. Yaitu Waduk Sidodadi sebagai start etape pertama dan Grand New Watu Dodol sebagai start etape ketiga.

Sehari sebelum acara, pebalap peserta ITdBI diajak melepas tukik di Pantai Boom. Selanjutnya mereka diajak bersepeda santai city tour bersama masyarakat umum.
International Tour de Banyuwangi Ijen 2014.
Pebalap melintasi perkebunan Kalibendo pada etape 1 ITdBI 2014. (sumber : Tribunnews.com)
Berikut fakta-fakta tentang balap sepeda International Tour de Banyuwangi Ijen 2016 yang cukup menarik untuk diketahui :

ITdBI BALAP SEPEDA TERBAIK INDONESIA DENGAN PREDIKAT EXCELLENT DARI UCI

Balap sepeda ITdBI sudah terdaftar secara resmi dalam agenda rutin UCI (Union Cycliste Internationale) atau Persatuan Balap Sepeda Internasional untuk kelas 2.2. Sejak Tour de Ijen sendiri telah mendapatkan peringkat excellent dari UCI. Hal ini menjadikan ITdBI sebagai kejuaraan balap sepeda terbaik di Indonesia.

Excellent level adalah merupakan poin tinggi dalam kejuaraan balap sepeda internasional dengan nilai diatas 90 poin. Di Asia terdapat 27 event balap sepeda di kelas 2.2, namun hanya ada dua event yang mendapat predikat excellent. Salah satunya ITdBI.

Sangat sulit untuk mendapatkan predikat excellent tersebut. Ada beberapa penilaian yang diukur oleh UCI. Pertama, teknis pengelolaan lomba, seperti hubungan antara organizer dan tim peserta, serta organizer dan wasit/penilai.

Kedua, dilihat dari keamanan selama lomba berlangsung. Parameternya adalah terjaganya keamanan sepanjang jalur yang dilalui pebalap, serta koordinasi lintas aparat keamanan yang terlibat, mulai dari kepolisian, TNI dan dinas terkait.

Ketiga, promosi ajang balap sepeda internasional melalui media massa. Di setiap akhir lomba, tim UCI biasanya langsung memantau lewat media-media. Semakin banyak berita yang muncul, semakin baik penilaiannya.

Keempat, dampak positif event bagi masyarakat, seperti berputarnya ekonomi masyarakat saat event berlangsung, infrastruktur jalan yang semakin membaik dan menumbuhkan kebanggaan warga.

Dari keempat indikator tersebut, ITdBI mendapat nilai indikator paling tinggi pada aspek keamanan. Tingkat keamanan selama lomba dinilai UCI "very good secure", dianggap paling aman.

PESERTA ITdBI 2016

Para pebalap yang akan mengikuti ITdBI 2016 datang dari 24 negara, antara lain Spanyol, Italia, San Marino, Irlandia, Uni Emirat Arab, Kenya, Jepang, Australia, Thailand, Malaysia, Filipina, Singapura, Korea, Cina, Laos dan Indonesia. San Marino dan Irlandia direncanakan akan mengirim pebalap timnas.

Para pebalap tersebut tergabung dalam 20 tim, yaitu terdiri dari tim luar negeri (termasuk continental team) dan tim dalam negeri. Setiap tim terdiri dari 5 pebalap. Tim continental yang bertanding di ITdBI 2016 adalah Skydive Dubai Al Ahli (UEA), Kinan Cycling Team (Jepang), Singha Infinite Cycling Team (Singapura), Kenya Down Under (Kenya), Terengganu Cycling Team (Malaysia), Swiss Welness Cycling Team (Australia), dan Team 7 Eleven Road Bike Philippines (Filipina).

Dari 20 tim tersebut terdapat tim papan atas Asia seperti Pishgaman Giant Team, Skydive Dubai Al Ahli dan Tabriz Shadari Team yang merupakan jawara 1, 2 3 Asia. Para pebalap yang siap meramaikan ITdBI 2016 diantaranya Peter Pouly (Singha Infinite Cycling Team), Jeremy Cameron (Swiss Wellness), Benjamin Prades (Team Ukyo) dan tak ketinggalan juara Asia, Jang Sunjae (LX-IIBS Cycling Team Korea).

JARAK TEMPUH ITdBI 2016

Ada yang menarik dengan jarak tempuh dalam ITdBI 2016, yaitu sejauh 567 km. Entah sengaja atau kebetulan, yang jelas ini angka yang cantik. Mudah diingat. Ini juga berlaku pada ITdBI 2015 yang menempuh jarak total 555 km.

Jika dibandingkan ITdBI sebelumnya, maka dua tahun terakhir ITdBI terjadi pengurangan jarak tempuh balapan. Pada tahun 2014 ITdBI menempuh jarak 622 km, sedangkan 2013 606,6 km. Untuk ITdBI pertama tahun 2012 hanya menempuh jarak 382,1 km dengan 3 etape.

Meskipun secara jarak berkurang, namun secara kualitas kompetisi justru meningkat. Belajar dari pengalaman, dengan rute yang jauh/panjang, pebalap memilih strategi mengandalkan ketahanan, sehingga lomba berjalan kurang seru. Tapi dengan memangkas rute lomba menjadi lebih pendek, membuat para pebalap merubah strategi perangnya.

Termasuk menempatkan rute terberat tanjakan Ijen menjadi rute terpendek. Rute tanjakan Ijen yang semula jaraknya 171,3 km pada ITdBI 2013 dan 201,7 km pada 2014, dipangkas menjadi hanya 123 km pada ITdBI 2015 dan 2106. Mau tak mau, para pebalap dipaksa bertarung dengan speed tinggi serta full power sejak start sampai finish. Apalagi rute tanjakan memperebutkan poin yang paling besar, otomatis akan menjadi target utama setiap pebalap. Efek positifnya, balapan menjadi makin seru dan sangat kompetitif. Apalagi tahun ini kekuatan antar tim relatif berimbang dengan absennya tim Iran yang dikenal sebagai jagoan tanjakan.

HADIAH JUARA ITdBI 2016

Berbeda dengan jarak tempuh balapan yang cenderung makin berkurang, nilai hadiah bagi para juara ITdBI malah semakin meningkat dari waktu ke waktu. Pertama kali ITdBI digelar pada 2012 lalu, nilai hadiahnya hanya Rp 300 juta. Lalu meningkat pada 2014 menjadi Rp 700 juta. Tahun 2016 sebetulnya panitia juga menganggarkan nilai hadiah yang sama. Namun berkat campur tangan Kemenpar, total hadiah untuk ITdBI 2016 ditingkatkan menjadi Rp 1,5 M.

Kemenpar Arief Yahya punya alasan untuk ini. Menurutnya nilai hadiah dalam event sport berpengaruh terhadap kualitas atlit yang berkompetisi. Boleh jadi pak menteri juga risi jika ada kompetisi berlabel internasional tapi hadiahnya berasa lokal.

Hadiah tersebut terbagi untuk beberapa kategori. Yaitu Klasemen umum individual (Yello Jersey), Best spint classification (Green Jersey), Best Indonesia rider (White Jersey) dan Red Jersey untuk juara umum tanjakan (best KOM).

RUTE ITdBI 2016

Seperti tahun sebelumnya, balap sepeda Tour de Banyuwangi Ijen 2016 berlangsung dalam 4 etape, yaitu :

Etape 1: Rabu, 11 Mei 2016
Start: Waduk Sidodadi Glenmore
Finish: Taman Blambangan
Jarak : 171,4 km
Rute Etape 1 ITdBI 2016.
Etape 1 ITdBI 2016

Etape 2: Kamis, 12 Mei 2016
Start: RTH Maron Genteng
Finish: Taman Blambangan
Jarak : 145,7 km
Rute etape 2 ITdBI2016.
Etape 2 ITdBI2016

Etape 3: Jum'at, 13 Mei 2016
Start: Pantai Grand New Watudodol
Finish: Taman Blambangan
Jarak : 126,9 km
Rute etape 3 ITdBI 2016.
Etape 3 ITdBI 2016.

Etape 4: Sabtu, 14 Mei 2016
Start: Pelabuhan Ikan Muncar
Finish: Kawah Ijen
Jarak : 123 km
Rute etape 4 ITdBI 2016.
Rute ITdBI 2016.

Ke 4 etape tersebut keseluruhannya menempuh jarak 567 km. Namun ada perbedaan yang pokok pada ITdBI tahun 2016. Pada dua penyelenggaraan ITdBI sebelumnya, etapa terakhir selalu dianggap sebagai rute recovery setelah pebalap bertarung habis-habisan sehari sebelumnya di etape 3 yang sangat menguras energi. 

Makanya rute yang dipilih untuk etape 4 adalah melalui jalanan dalam kota Banyuwangi yang lempang tanpa tanjakan. Istilahnya circuit race. Akibatnya persaingan antar pebalap sangat tajam karena sejak start hingga finish terjadi adu sprint yang ketat. Para pebalap selalu berada dalam kelompok besar. Perbedaan waktu antar pebalap sangat tipis. Juara etape terakhir hampir mustahil mempengaruhi hasil akhir klasemen. Karena tidak mungkin mampu mengejar selisih waktu yang dicapai pada etape sebelumnya. Juara pada etape 3 yang sudah meraih selisih waktu yang banyak dari pesaing lainnya dan biasanya sudah kehabisan tenaga, memilih sekedar menjaga posisi aman di etape akhir.

Kesan yang muncul adalah anti klimaks. Etape 4 yang seharusnya menjadi klimaks kompetisi, tidak terjadi. Sebab juara maupun kalah di etape 4 tidak banyak mempengaruhi posisi akhir klasemen.
Nah, kondisi ini diubah total pada ITdBI 2016. Posisi etape 3 dan 4 ditukar. Rute keliling kota yang tahun-tahun sebelumnya jadi etape terakhir yang relatif paling ringan kompetisinya, dijadikan Etape 3 yang diplot menjadi fase konsolidasi menjelang etape akhir.

Sedangkan etape yang melakoni jalur tanjakan Ijen, diposisikan menjadi etape pamungkas sekaligus penentuan. Alhasil, roh kompetisi benar-benar terjaga dari etape pertama sampai akhir.

Ibarat pertandingan final, etape 4 ITdBI 2016 merupakan pertarungan klimaks antar pebalap. Siapa yang menang di etape terakhir ini, dialah yang berpeluang besar menjadi jawara. Dengan rute yang sangat ekstrim, maka selisih waktu antar pebalap cukup besar. Pebalap yang gagal juara pada etape-etape sebelumnya yang biasanya dimenangani pebalap tipe sprinter, sangat mungkin mengubah peta pertandingan jika menenangani etape 4 yang melakoni medan super berat.

Pebalap jago tanjakan bisa jadi memainkan strategi mengalah di etape awal, menyimpan energi untuk dimuntahkan di etape akhir ini dan langsung merebut tropi jawara. Sehingga tak salah etape 4 ITdBI 2016 pantas disebut sebagai the battle for champion.

TANJAKAN NERAKA ITdBI

Balap sepeda ITdBI memiliki rute ekstrim yang sangat menyiksa para pebalap. Yaitu jalur tanjakan di lereng Erek-erek yang memiliki sudut kemiringan 45 derajat. 

Tanjakan menuju kaki Gunung Ijen ini merupakan tanjakan terekstrem di Asia karena berada di ketinggian 1.871 meter di atas permukaan laut (mdpl), mengungguli tanjakan balap di luar negeri seperti di Genting Highland dalam Tour de Langkawi Malaysia yang hanya di kisaran 1.500 mdpl.

Dalam dunia balap sepeda tanjakan semacam ini tergolong dalam Horst Category (HC) yang merupakan tanjakan berat dan melelahkan. 


Para pebalap yang ikut ITdBI pasti bisa merasakan betapa beratnya medan yang harus ditaklukkan dalam etape Ijen. Seakan para pebalap disiksa untuk melahap tanjakan yang ekstrim tersebut. Dari sini kemudian muncul istilah Rute Neraka untuk etape Ijen. Energi benar-benar terkuras habis, bahkan beberapa pebalap mengalami dehidrasi.
Tanjakan ekstrim di rute Ijen dalam International Tour de Banyuwangi Ijen.
Tanjakan  di  rute menuju Kawah Ijen yang mencapai 45 derajat sangat menguras energi pebalap  ITdBI. (sumber: Antarafoto, Liputan6.com, Merdeka.com)
Sebagian pebalap bahkan harus didorong sepedanya (sumber : Liputan6.com, Merdeka.com)
Bahkan ada yang terpaksa menuntun sepedanya (sumber : Tempo.co, Merdeka.com)
Maka pebalap yang mampu menjadi juara di rute neraka ini sepertinya memang layak mendapat sebutan Raja Tanjakan sejati. Nah, siapa saja mereka?

POULLY SI RAJA TANJAKAN

Predikat sebagai KOM (King of Mountain) alias raja tanjakan diberikan pada pebalap yang memenangi etape yang finish di kawasan Gunung Ijen. Selama 4 kali penyelenggarakan ITdBI, ada tiga nama yang berhasil mencatatkan namanya sebagai juara. Yaitu Chol Ki Hol, Rahim Emami dan Peter Poully.     

Pada gelaran Banyuwangi Tour de Ijen 2012, predikat raja tanjakan jatuh ke tangan Chol Ki Ho asal Hongkong. Sedangkan pada ITdBI 2013 giliran Rahim Emami dari tim RTS Santic Taiwan yang mencatatkan namanya sebagai raja tanjakan.
Peter Pouly raja tanjakan ITdBI.
Peter Pouly (kanan) raja tanjakan ITdBI sedang menerima ucapan selamat dari Bupati Azwar anas (sumber  : Jpnn.com)
Dari ketiga nama tersebut, raja tanjakan Ijen pantas disematkan untuk Peter Poully dari Perancis. Pasalnya ia berhasil mempertahankan predikat raja tanjakan pada ITdBI 2015, setelah setahun sebelumnya pada 2014 ia juga menjadi juaranya. Ada kisah manis dibalik kemenangan Pouly.

Ketika pertama kali menjadi raja tanjakan, Pouly sebenarnya berniat memberi nama anak keduanya dengan nama Ijen sebagai bentuk kebahagiaan atas kemenangannya. Saat itu sang istri sedang hamil muda, namun rupanya usul Pouly kurang didukung sang istri.

Menjelang pertarungannya di etape Ijen pada 2015, sang istri yang tengah hamil tua dan tinggal menghitung hari untuk melahirkan, tiba-tiba menelponnya dan menjanjikan, jika ia menang lagi di etape Ijen, sang istri setuju memberikan nama Ijen untuk sang bakal bayi.

Rupanya  ini membuat motivasi Pouly berlipat. Hasilnya ia berhasil dua kali menaklukkan etapa yang dikenal sebagai etape neraka ini. Dan sang anak pun akhirnya resmi bernama Ijen Pouly.

3 FINISH DI TAMAN BLAMBANGAN

Dalam 2 gelaran ITdBI terakhir, panitia memilih Taman Blambangan sebagai tempat finish untuk tiga etape. Ternyata ini ada tujuannya.

Tiga finish dipusatkan di Taman Blambangan sengaja dilakukan karena di lokasi ini selama empat hari ITdBI berlangsung akan digelar semacam pesta rakyat di sana. Tiap hari masyarakat dan peserta ITdBI akan disuguhi beragam pertunjukan budaya, produk-produk hasil karya masyarakat Banyuwangi, hingga beragam atraksi kreatif anak muda. Mulai dari sepeda free style, skate board, hingga parade sepeda onthel.

1000 PNS TERLIBAT PANITIA PELAKSANA ITdBI 

ITdBI 2016 yang melibatkan 100 pebalap dan berlangsung dalam 4 etape dengan menempuh rute sejauh 567 km sepenuhnya dinakhodai Pemkab Banyuwangi, tanpa melibatkan tenaga event organizer swasta. Kepanitiaan ITdBI sepenuhnya diisi oleh pegawai Pemkab Banyuwangi dengan melibatkan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Banyuwangi, dengan tidak kurang sekitar 1000 orang yang terlibat didalamnya. Seluruh Camat yang wilayahnya dilewati ITdBI menjadi koordinator di wilayahnya masing-masing.

Ajang balap sepeda Tour de Banyuwangi Ijen yang masuk dalam kalender Banyuwangi Festival 2016 ini memang merupakan kegiatan yang paling banyak melibatkan masyarakat Banyuwangi. Belasan kecamatan di Banyuwangi yang dilewati rute ITdBI terlibat secara langsung melihat dan meyambut para pebalap yang melintas di daerahnya. Panitia lokal dan aparat harus bekerja secara cermat mempersiapkan lintasan jalan agar saat pebalap melintas kondisinya sudah steril dari aktivitas warga setempat. Di awal ITdBI penutupan jalan sudah dilakukan 2 jam sebelum pebalap lewat. Hal ini tentu sangat menganggu. Namun seiring dengan makin tingginya jam terbang panitia, tahun lalu hanya butuh sekitar 15 menit saja untuk mensterilkan jalan sebelum pebalap lewat. Dengan demikian warga tidak dipaksa menghentikan atau menunda kegiatannya selama berjam-jam untuk menunggu momen balapan yang berlangsung hanya dalam beberapa detik saja!


loading...

3 komentar

trek balapnya subhanallah sekali yah.. ^^
kalo aku kayaknya gak bakal kuat, apalagi kalo balapan..hmm

luaaar biasa ITdBI 2016, terutama rute maut etape 4.

lokasi "tanjakan neraka" nya keren, pak

Back To Top