BANYUWANGI BERWARNA SULAP BANTARAN SUNGAI KALILO WARNA-WARNI BAK PELANGI


Kampung warna-warni tidak hanya terdapat di kota Malang. Di Banyuwangi juga ada. Siapapun yang sedang melintas di kawasan Sungai Kalilo akan tergoda melihat warna warni bangunan dan dinding rumah warga di sepanjang bantaran sungai tersebut.
Sungai Kalilo Banyuwangi berwarna-warni.
Wajah bantaran sungai Kalilo yang berwarna-warni (sumber : Instarix.com)
Banyuwangi sedang membenahi wajah kotanya. Lewat program Banyuwangi Berwarna, lingkungan sungai dipulihkan dan diartistik ulang. Bantaran sungai Kalilo di Kelurahan Singonegaran, Kecamatan Banyuwangi yang berada di tengah kota, disulap menjadi bersih dan berwarna-warni bak pelangi. Hasilnya, wajah kota Banyuwangi tampak cantik dan menarik serta berpotensi menjadi obyek wisata baru.

Wajah baru di sekitar sungai Kalilo ini merupakan realisasi awal dari kerjasama antara‎ Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh November (IKA-ITS) Surabaya dan Pemkab Banyuwangi. Pengerjaan mengecat tembok dan bantaran sungai dilakukan oleh sekitar 90 alumni ITS, masyarakat sekitar dan Pemkab Banyuwangi, Sabtu (12/11/2016). Mereka bergotong royong membuat sungai lebih indah dan sedap dipandang.

Bagi Pemkab Banyuwangi, kerjasama dengan perguruan tinggi negeri seperti ITS akan menjadi energi positif. Dengan tenaga ahli dan pengalaman yang dimiliki, pihak ITS diharapkan bisa melakukan percepatan pembangunan di Banyuwangi. Ini menjadi harapan Bupati Banyuwangi, Azwar Anas.
Sungai Kalilo Banyuwangi.
Sungai Kalilo sebelum dicat warna-warni (sumber : Ringtimes.net)
Sejak beberapa tahun lalu Pemkab Banyuwangi telah mencanangkan sungai sebagai wajah kota Banyuwangi yang mencerminkan budaya masyarakatnya. Seperti di banyak negara maju, Korea Selatan dan Prancis misalnya, sungai menjadi bagian penting kota yang sangat dijaga kebersihannya dan menjadi simbol kemajuan budaya penduduknya.

"Kami ingin masyarakat Banyuwangi bisa mulai memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan sungai. Mari jadikan sungai sebagai halaman depan kota kita yang bersih dan indah," kata Bupati Anas saat melakukan bakti sosial warga Banyuwangi di sekitar Kalilo, Sabtu (12/11/2016).

Bagi masyarakat Banyuwangi, sungai Kalilo bernilai sejarah yang penting. Sunga Kalilo yang mengalir di pusat kota Banyuwangi ini lokasinya sangat strategis dan memiliki fungsi yang vital di masa lalu. Banyak lagu-lagu Banyuwangi yang terinspirasi dari sungai Kalilo.

Dulu orang bisa menikmati kejernihan Kalilo sepanjang hulu hingga hilir. Airnyanya bersih dan dalam, bahkan banyak perahu nelayan ditambatkan di Sungai Kalilo. Sedangkan sekarang kondisinya dangkal karena sudah dicemari limbah industri kecil maupun rumah tangga. Pemkab Banyuwangi ingin mengembalikan sungai Kalilo seperti dulu.
Sungai Kalilo yang berwarna-warni.
Sungai Kalilo sekarang (sumber : Insharee.com)

Langkah awal adalah mempercantik wajah bantaran sungai Kalilo dengan melakukan pengecetan bangunan di sekitarnya. Warna-warni cat akan membuat areal sungai menjadi segar dan tampak menarik. Dengan mempercantik wajah sungai, diharapkan mindset masyarakat mulai berubah.

Ditahap awal cerobong atau pipa pembuangan yang menjorok ke sungai mulai dihilangkan. Sebagai gantinya akan dibuatkan sumur resapan.

Berikutnya dilakukan edukasi terhadap masyarakat sekitar sungai supaya tidak mengotori sungai dengan membuang sampah sembarangan. Jika lingkungan sekitar sungai menjadi indah dan bersih, diharapkan masyarakat menjadi malu mencemari sungai.

Upaya Pemkab Banyuwangi menjaga lingkungan yang bersih telah dilakukan secara serius. Mungkin baru Banyuwangi yang mengangkat gerakan peduli lingkungan yang bersih dan sehat melalui sebuah festival. Antara lain melalui Festival Kali Bersih dan Festival Toilet Bersih.
Festival Kali Bersih Banyuwangi 2015 di Kalilo (sumber : Terbanyuwangi.blogspot.co.id)
TENTANG KALILO ATAU KALI ELO

Menurut cerita masyarakat, Kalilo berasal dari kata kali dan elo. Kali adalah sungai, sedangkan Elo merupakan nama pohon yang dulu banyak tumbuh di Kelurahan Singonegaran dan Pengantigan. Namun saat ini tidak ada lagi pohon Elo di sekitar sungai Kalilo.

Seperti dilansir Ringtimes.net, menurut penuturan Asnawi, seorang yang tinggal di dekat Kalilo, dulu pohon Elo banyak tumbuh di bantaran Kalilo. Pohon elo tidak terlalu tinggi. Diameter batangnya juga tidak terlalu besar. Daun pohon elo berwarna hijau tua dan ukurannya kecil-kecil.

Selain itu, pohon elo merupakan pohon yang dikeramatkan warga. Zaman dulu pohon elo digunakan masyarakat dalam ritual-ritual tertentu dan menjadi bahan baku pembuatan kepala barong.

Karena di sekitar sungai itu banyak tumbuh pohon elo, maka sungai itu oleh warga zaman dulu disebut Kali Elo atau Kalilo. Dan hal ini berlanjut sampai sekarang. Bedanya, wajah sungai Kalilo saat ini sudah berubah jadi warna-warni bak pelangi yang indah dipandang.

Semoga rencana merevitalisasi sungai Kalilo berjalan baik, dan pada saatnya nanti masyarakat dapat melihat sungai Kalilo dipenuhi hilir mudik perahu seperti di masa lalu. Bukan perahu nelayan, tapi perahu wisata yang dikelola oleh warga setempat.

UPDATED :

Jembatan selfie di atas Sungai Kalilo.
Sungai Kalilo sekarang dilengkapi jembatan selfie yang cantik
Setelah bantaran Sungai Kalilo dipercantik dengan pengecatan warna-warni, kini diatasnya dibangun sebuah jembatan yang selain berfungsi sebagai penghubung, juga menjadi lokasi favorit untuk berswa foto.

Untuk melayani pengunjung yang ingin berfoto, obyek wisata sungai Kalilo dikelola warga sekitar dari soal pengamanan, pengaturan lalulintas hingga pemeliharaan lokasi. Pengunjung hanya dikenakan tarif parkir Rp 2 ribu per motor. 


loading...

Back To Top