FESTIVAL KALI BERSIH 2016, MENJADIKAN SUNGAI SEBAGAI WAJAH BANYUWANGI

Festival Kali Bersih Banyuwangi – Konon budaya bersih suatu bangsa bisa dilihat dari kondisi sungainya. Masyarakat yang menghargai lingkungannya, maka kebersihan sungainya sangat terjaga. Maka tak heran di negara-negara maju, dimana sungai menjadi simbol kemajuan budaya masyarakatnya,  kondisinya selalu bersih dan terawat. Bahkan di Korea ada sungai yang membelah kota tapi airnya sangat bening dan dasar sungainya bisa terlihat.

Kondisi kontras dialami sungai-sungai di Indonesia. Sangat sulit menemukan sungai yang tidak tercemar. Umumnya perhatian masyarakat untuk ikut menjaga kebersihan sungai bisa dibilang rendah sekali, bahkan banyak masyarakat yang memperlakukan sungai sebagai tempat sampah. Tak heran jika di Indonesia sungai pun dituding menjadi biang bencana banjir, yang sebenarnya bersumber pada perilaku manusianya sendiri.
Festival Kali Bersih Banyuwangi 2016.
Festival Kali Bersih 2016 melibatkan seluruh pimpinan Pemkab Banyuwangi (sumber : Rri.co.id)
Tak terbilang sudah banyak dilakukan himbauan dan usaha untuk mendidik masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai dan kali, termasuk ancaman hukuman bagi para pelaku yang bandel, tapi sampai hari ini belum ada perubahan sikap dan perilaku masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai. Tidak banyak upaya sistematis yang dilakukan pemerintah daerah dalam mendidik masyarakat untuk terlibat menjaga kebersihan lingkungan.

Tapi hal ini tidak berlaku di Banyuwangi. Kota di ujung timur Pulau Jawa ini punya cara pandang yang berbeda terhadap kelestarian dan kebersihan sungainya.

Di Banyuwangi upaya menjaga kebersihan lingkungan, salah satunya sungai, bukan hanya didengungkan dan sebatas slogan, tapi dijadikan gerakan massal melalui kegiatan terencana dan berkelanjutan. Di Banyuwangi soal kebersihan lingkungan difestivalkan.

Pemkab Banyuwangi bertekad menjadikan sungai sebagai wajah Banyuwangi. Sampah tidak disembunyikan, tidak dianggap sebagai bencana tapi diatasi dengan cara membudayakan gaya hidup bersih masyarakatnya. Bukan dengan cara memberi hukuman, tapi melalui kegiatan nyata dalam bentuk rangkaian festival pro lingkungan hidup, diantaranya :
- Festival Toilet Bersih, yang merupakan gerakan untuk menjaga kebersihan toilet di ruang publik.
- Festival Sedekah Oksigen, yaitu gerakan massal penanaman pohon untuk menjaga kelestarian lingkungan.
- Green and Recycle Fashion, yaitu peragaan karya cipta busana menggunakan bahan-bahan bekas.
- Festival Kali Bersih yang bertujuan mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai di Banyuwangi. 
- Selain itu DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan) melalui program Merdeka Dari Sampah telah bertekad agar Banyuwangi bebas sampah pada 2020.

Festival dianggap sarana yang tepat untuk mengajak peran serta masyarakat, karena festival identik dengan sesuatu yang menyenangkan.

“Festival identik dengan orang senang,  harapan kami difestivalkan akan tumbuh semangat bagi rakyat untuk terus menjaga dan melestarikan kebersihan sungai. Sungai pun bisa berfungsi kembali sebagai sumber mata air,” kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas. 
Melalui Festival Kali Bersih, Pemkab Banyuwangi berupaya mengubah sudut pandang warga. Kalau selama ini bantaran dan sepanjang aliran sungai sebagai keranjang sampah, diubah menjadi halaman belakang rumah yang bersih dan terawat.

"Mendorong kesadaran dan kepedulian warga berperilaku hidup bersih. Jangan hanya wajah Banyuwangi saja yang bersih tapi halaman belakang seperti sungai juga harus bersih. Festival Kali bersih ini sebagai upaya membudidayakan hidup bersih dan menjadikan sepanjang sungai sebagai halaman. Sehingga sepanjang sungai ini bisa bersih dan bukan jadi tempat buang lagi," ujar Anas usai pelaksanaan Festival Kali Bersih di Sungai Kalilo, Banyuwangi, Jumat (15/4/2016).
Mengapa Banyuwangi serius mengurus kebersihan lingkungannya ? Ada beberapa alasan kuat yang melatarbelakanginya.
HIDUP BERSIH SEBAGAI BUDAYA
Sampah itu sumbernya dari manusia, maka menghilangkan sampah adalah dengan membudayakan manusianya agar bergaya hidup bersih. Hidup bersih menjadi sebuah budaya. Bukan dengan upaya paksaan.
Untuk membiasakan hidup bersih warganya, Pemkab Banyuwangi tidak memilih cara memberlakukan denda atau hukuman tetapi dengan membangun kesadaran.
"Hidup bersih itu budaya. Maka untuk membiasakannya harus diberikan contoh, itulah mengapa festival Kali Bersih kami gelar tiap tahun, langsung di dalam sungai. Minimal agar orang tahu kalau kita semua memberikan perhatian pada sungai, hingga akhirnya akan segan untuk mengotori," kata Bupati Anas.
KEBERSIHAN SUNGAI SEBAGAI DAYA TARIK WISATA
Kebersihan sungai penting untuk menarik wisatawan berkunjung. Untuk menunjang Banyuwangi sebagai kabupaten wisata, kebersihan sungai merupakan upaya untuk menentukan daya saing wisata karena wisatawan sangat menikmati daerah yang lingkungannya bersih.
"Kalau sungai dan lingkungan disekitarnya bersih pasti banyak wisatawan yang akan senang dan betah berada di Banyuwangi, itu merupakan modal penting untuk meningkatkan daya saing pariwisata,"  kata Bupati Abdullah Azwar Anas. 
Terlebih lagi, sungai di sekitar Kota Banyuwangi bermuara di Pantai Boom yang sedang dikembangkan menjadi kawasan marina, sehingga konsekuensinya, kebersihan sungai harus mendapat perhatian khusus.
MENINGKATKAN KUALITAS SUNGAI DI BANYUWANGI
Menurut Pelaksana Tugas Kepala Badan Lingkungan Hidup Pemkab Banyuwangi, Chusnul Chotimah, kondisi sungai di daerah kota Banyuwangi termasuk kategori kelas D atau sungai yang diklasifikasikan aman untuk minum ternak. Namun, di pedesaan Banyuwangi, sudah ada sungai yang kategorinya lebih tinggi.

Lewat Festival Kali Bersih ini sungai-sungai tersebut ditargetkan bisa naik kelas menjadi sungai kelas C, yaitu bisa digunakan untuk budi daya perikanan.

Gerakan sungai bersih itu akan dilakukan secara masif dan terus menerus di setiap kecamatan, antara lain lewat lomba kali bersih, yang penilaiannya dilakukan per tiga bulan sekali di seluruh kali  di Banyuwangi. Penghargaan diberikan untuk kecamatan dengan kali terbersih.
Festival Kali Bersih ini dianggap efektif. Sejak difestivalkan tahun 2015 lalu, mulai tumbuh kesadaran warga untuk tidak membuang sampah sembarangan.

"Sejumlah sungai di Banyuwangi kini lebih berfungsi sesuai peruntukannya dan dijaga agar tidak dijadikan sebagai pembuangan limbah," ujar Chusnul.

PELAKSANAAN FESTIVAL KALI BERSIH 2016 
Ratusan masyarakat Banyuwangi masuk ke sungai Kalilo (sumber : Pemkab Banyuwangi)
Festival Kali Bersih yang merupakan rangkaian Banyuwangi Festival 2016 berlangsung pada Jum’at pagi (15/4) pukul 06.00 WIB, di Sungai Kali Elo, Kelurahan Singonegaran, Banyuwangi.

Bupati Anas didampingi istrinya Ipuk Festiandani datang ke Sungai Kalilo  menggunakan perahu karet milik BPBD Banyuwangi. Bersama ratusan orang lainnya, bupati Anas terjun ke Sungai Elo yang terletak di jantung Ibu Kota Banyuwangi, mulai pelajar, PNS, kader lingkungan, wisatawan, dan masyarakat umum beramai-ramai memunguti sampah plastik dan ranting pohon yang terbawa arus air.

Tahun kedua pelaksanaan Festival Kali Bersih ini, Anas sengaja memboyong seluruh aparatur pemerintahan untuk bersama masuk ke Sungai Kalilo yang telah menjadi cuplikan peradaban Banyuwangi.

Dengan menggelar Festival Kali Bersih di seluruh sungai di Kabupaten Banyuwangi secara tak langsung kegiatan ini juga berkampanye menanamkan 'budaya malu' jika buang sampah sembarangan. 

Usai bersih-bersih sungai, masyarakat menebar 10.000 benih ikan nila, tombro, dan wader di Sungai Kalilo. Total ada 350.000 benih ikan yang disebar di seluruh sungai Banyuwangi.

Artikel BANYUWANGI BAGUS Lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar

Scroll to top