MISTERI DIBALIK TANGAN PATUNG GANDRUNG GUMITIR BERUBAH POSISI?


Misteri Patung Gandrung di Gumitir - Memasuki Kabupaten Banyuwangi dari arah Jember Anda akan melewati pegunungan Gumitir. Di penghujung jalan sebelum meninggalkan Gumitir, ada belokan tajam menurun membentuk huruf U, pandangan Anda akan tergoda oleh sebuah patung Gandrung di pelataran taman.
Misteri Patung Gandrung di Gumitir.
Patung Gandrung di Gumitir (sumber : Facebook.com/AhmadHarsono)
Letak patung Gandrung itu memang strategis. Ukuran patung yang besar dan posisinya di lengkungan jalan memaksa kendaraan melambatkan kecepatan, membuat keberadaan patung Gandrung tersebut sangat eye catching.

Banyak pelintas Gumitir yang berhenti di dekat bangunan patung tersebut dan memanfaatkan berfoto selfie sendirian maupun bersama-sama. Ada juga pelintas yang niatnya memang ingin sejenak beristirahat atau mengisi perut di deretan warung tak jauh dari lokasi patung, lalu tergoda melihat patung Gandrung didekatnya, selanjutnya menyempatkan diri berfoto-foto.

Patung Gandrung di Gumitir.
Posisi patung Gandrung dari arah Banyuwangi.
Paling tidak dengan keberadaan patung penari Gandrung di hutan Gumitir bisa menjadi penanda bahwa Anda sudah memasuki wilayah Kabupaten Banyuwangi bagian barat.

Sebetulnya patung Gandrung di Gumitir ini tergolong masih baru, yaitu dibangun pada 2012. Infonya, di lokasi patung Gandrung tersebut sebelumnya sudah pernah berdiri patung lama, yaitu patung sepasang penari laki-laki dan perempuan sedang berjoget. Mungkin dengan pertimbangan menyesuaikan perkembangan daerah dimana Gandrung ditetapkan sebagai maskot pariwisata Kabupaten Banyuwangi, maka keberadaan patung yang lama dianggap tidak relevan lagi. Sehingga digantikan oleh patung penari Gandrung yang sekarang ini.
Patung lama sebelum diganti dengan patung Penari Gandrung
(sumber : http://www.kompasiana.com/www.teguhhariawan)
Barangkali banyak yang tidak memperhatikan keberadaan patung Gandrung tersebut sejak awal dibangun hingga sekarang, ternyata telah mengalami perubahan pada tampilan fisik patung. Khususnya dibagian posisi lengan tangan patung Gandrung tersebut.

Ketika kesadaran itu mengusik rasa keingintahuan, tak pelak muncul berbagai pendapat yang menyertainya. Berbagai tanggapan, dari yang iseng, serius, rasional hingga yang beraroma misteri pun bermunculan.

Dalam sebuah postingan dalam grup sosial media Facebook, salah satu pemilik akun bernama Denny Aldas Tiar mengunggah sebuah foto yang terdiri 4 buah rangkaian foto patung Gandrung di Gumitir yang menunjukkan perbedaan posisi tangannya.

Selain foto, dia menuliskan status : Mencoba mengumpulkan lebih banyak lagi bukti perbedaan gerakan tangan kiri patung gandrung di Gumitir. Emang iya loh.. Beda-beda gerakannya. Ada kalanya menyamping, ada kalanya ke bawah. Pertanyaannya.. Ada yang bisa jelasin gak sih ada apa dengan patung gandrung ini? Yang logis aja deh...
Foto patung penari Gandrung di Gumitir yang bikin heboh. Perhatikan, foto atas dan bawah, posisi tangan kirinya berbeda.
(sumber : Grup FB Banyuwangi Bersatu/DennyAldas Tiar)
Diluar dugaan postingan itu mendapat respon beragam dari member grup tersebut. Ada yang meragukan kebenarannya dan menganggap foto tersebut hasil dari editan. Ada yang mencoba menganalisa dengan membandingkan background ke empat foto yang berbeda, ada juga yang mengatakan perbedaan tersebut karena efek sudut pengambilan gambar yang berbeda, sehingga menghasilkan foto berbeda.

Namun yang melihat perbedaan posisi tangan penari Gandrung tersebut dari sudut mistis juga banyak. Itu bukan editan, gerakan sering berubah tiap dia mau brubah biasanya pertengahan malam tertentu, sergah pemilik akun inisial HP. Pendapat ini dibenarkan pemilik akun inisial CD, bahwa kalau pagi sampai sore gerakan tangan patung tersebut ke atas, tapi kalau sudah hampir malam tangannya pasti agak ke bawah. Ditambahkannya, kalau ada orang Banyuwangi tapi nggak tau tentang kenyataanya patung gandrung yang ada di Gumitir dan di Watu Dodol itu bisa bergerak tanpa sepengetahuan kita....iku jenenge nek dolan sek adoan dolane pitek.....

Pemilik akun lain menambahkan, sebagai masyarakat yang hidup di tanah Jawa, mau tidak mau kebiasaan dan mistis orang-orang Jawa kuno tetap ada, boleh percaya boleh tidak.

Pemilik akun inisial JAD memberi kesaksian, bahwa patung tersebut ada yang menjaga, kadang anak kecil, kadang cewek berambut panjang memakai kebaya. Bahkan dulu sering temannya yang lagi nongkrong disana mengalami kerasukan. Menurutnya, keanehan-keanehan di sepanjang jalan itu sudah menjadi hiburan karena tempatnya memang angker, terutama di watu gudang (puncak tertinggi di Gumitir) yang konon merupakan tempat pembuangan kepala orang pada jaman penjajahan dulu.

Selain ulasan berbau mistis yang memang cukup mendominasi, ada juga yang mencoba memberi penjelasan yang rasional. Ceritanya, dulu tangan penarinya sempat patah akibat sering di buat ayunan sama anak-anak disekitar lokasi..... saat perbaikan taman sekitar patung, tangan patung yang patah juga diperbaiki tapi tidak bisa kembali keasalnya karena besi beton eser penyangga tangan sudah melintir, jelas pemilik akun inisial AH.

Hal ini didukung oleh ARM yang menunjukkan foto bukti ketika patung Gandrung tersebut patah.
Bukti patung Gandrung Gumitir saat lengannya patah
(sumber : Grup FB Banyuwangi Bersatu/Ainur Rofik Maharani Canary)     
Tanda panah pada foto diatas jelas menunjukkan kondisi saat lengan kiri patung Gandrung dalam posisi patah, namun tidak sampai terlepas atau jatuh karena masih disangga besi yang tertanam didalamnya. Diduga karena tukang yang memperbaiki bukan ahli patung, lengan tangan kiri patung Gandrung yang patah tersebut lebih kebawah, tidak bisa dikembalikan seperti posisi asalnya. Jika diamati posisi tangan setelah disambung tampak janggal, mungkin tukang yang memperbaiki asal menyambung saja. Nah, perbedaan posisi tangan ini kemudian menjadi bahan perbincangan yang kemana-mana arahnya.

Di kalangan masyarakat Banyuwangi, wilayah Gumitir yang menghubungkan Kabupaten Jember dan Banyuwangi ini memang dikenal angker. Menurut Wikipedia, nama Gumitir berasal dari nama bunga Gumitir yang merupakan tanaman Tagetes erecta yang memiliki bunga berwarna kekuningan, di Bali bunga tersebut banyak digunakan untuk membuat sesajen.
Bunga Gumitir.
Bunga Gumitir , konon prospek ekonomisnya tinggi (sumber : Kampung-media.com)
Menurut legenda, nama Gumitir berasal dari kisah Damar Wulan dalam sejarah kerajaan Blambangan yang sedang berperang dengan kerajaan Majapahit. Dikisahkan Damar Wulan yang berasal dari Majapahit mendapat tugas membunuh Menak Jinggo. Setelah Damar Wulan berhasil membunuh dan memenggal kepala Menak Jinggo, di tengah jalan menuju Majapahit ia bertemu Layang Seta dan Layang Kumitir, putra kembar patih Logender. Dengan tipu muslihat, keduanya berhasil menipu dan membunuh Damar Wulan serta merampas kepala Menak Jinggo. Namun oleh seorang pertapa, Damar Wulan dihidupkan kembali. Nah, gunung tempat terjadinya peristiwa tersebut akhirnya dikenal dengan nama Gunung Kumitir atau Gunung Gumitir.

Pembangunan jalan raya Gumitir yang menghubungkan Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi ini pertama kali dirintis pada awal-awal abad 19 oleh pemerintahan kolonial Belanda. Sebagaimana pembuatan jalan lain, pengerjaan jalan tersebut dilakukan dengan cara kerja paksa atau lebih dikenal dengan istilah kerja rodi. Para pekerja bekerja tanpa upah dan istirahat yang cukup, sehingga banyak pekerja yang mati akibat penyiksaan dan kelaparan.

Berikut foto-foto yang menggambarkan suasana pembuatan jalan Gumitir.
Barangkali ini awal-awal pembangunan jalan lintas Gumitir ? (sumber : Satrinyleneh.blogspot.com)
Pembuatan jalan lintas Gumitir , tidak ada penjelasan waktu pembuatannya. (sumber : Santrinleneh.blogpsot.com)
Pembangunan jalan lintas Gumitir, Banyuwangi.
Kondisi jalan lintas Gumitir pada tahun 1910 (sumber : Antoniuscp.wordpress.com). Jika merujuk data tahun pengambilan gambar ini dan melihat kondisi jalan yang sudah jadi, berarti dua gambar diatas tentang  awal pembangunan jalan lintas Gumitir  sangat mungkin  terjadi pada tahun-tahun  awal atau menjelang abad 19, mengingat bahwa medan jalan tersebut sangat berat, tentunya dibutuhkan waktu yang cukup lama pembuatannya.
Pengaspalan jalan raya Gumitir pada tahun 1922. Perhatikan gambar, jalan tersebut membelah sebuah batu raksasa. Ini adalah lokasi jalan tertinggi di Gunung Gumitir yang dikenal dengan nama Watu Gudang. Jika pada foto sebelumnya jalan  Gumitir pada tahun 1910 sudah jadi meski masih berupa tanah, maka foto ini  dengan tahun pengambilan lebih belakang (1922) justru menunjukkan jalannya sedang dalam proses pengaspalan. Bisa jadi foto ini menunjukkan bahwa jalan Gumitir mengalami perbaikan (diaspal) setelah sebelumnya  masih berupa jalan tanah.
 (sumber : Grup FB Banjoewangi Tempoe Dooeloe)
Di masa-masa awal kemerdekaan, Gunung Gumitir dikenal sebagai salah satu tempat pembuangan anggota PKI yang dibantai. Jasad mereka tersebar hampir di seluruh badan gunung Gumitir, bahkan menurut seorang nara sumber, ada yang dibiarkan tergeletak di pinggir jalan begitu saja.

Melihat legenda dan sejarah pembangunan jalan lintas Gumitir tersebut, maka mudah dimengerti jika masyarakat Banyuwangi menganggap wilayah tersebut termasuk anker dan penuh mistis. Dan kisah tersebut belum termasuk pengalaman mistis berdasarkan kesaksian orang-orang yang pernah mengalaminya sendiri seperti berikut ini. Klik untuk melihat kisahnya.


Satu lagi pengalaman mistis yang pernah dialami seorang bikers yang mengendarai sepeda motor seorang diri di tengah malam melewati hutan Gumitir. Klik untuk melihat kisahnya.
Lepas dari kisah misteri yang menyelimuti Gumitir, kondisi sepanjang jalan yang melintasi gunung Gumitir di malam hari yang gelap dan sepi juga boleh dibilang rawan oleh kecelakaan dan kriminalitas. Gangguan kriminalitas di kawasan Gumitir yang umum adalah begal dan bajing loncat. Karena itu sebagai antisipasi, pada masa liburan dan mudik lebaran biasanya pihak kepolisian akan melakukan pengamanan dengan menempatkan sniper.

Namun membandingkan kondisi jalanan Gunung Gumitir di masa lalu dengan sekarang, perbedaannya sangat jauh. Sekarang jalan raya yang membelah Gumitir sudah menjadi jalan yang beraspal mulus dan dilengkapi lampu penerangan jalan yang berdiri di sepanjang jalan sejauh 8 km ini. Meskipun kenyataannya, hampir semua lampu penerangan yang menggunakan energi sinar matahari ini tidak berfungsi lantaran dicuri tangan-tangan jahil! Selain itu, sudah ada fasilitas Rest Area Gumitir yang sangat bermanfaat bagi pengendara jarak jauh untuk beristirahat. Dan disejumlah titik rawan juga dipasang CCTV.
Kondisi jalan Gumitir yang mulus (sumber : Grup FB Pariwisata Kabupaten Banyuwangi/AchHarisEfendi)
Terlepas dari benar tidaknya faktor mistis seputar patung Gandrung dan gunung Gumitir tersebut, harus diakui jalanan di sepanjang jalur Gumitir memang cukup berbahaya bagi pengendara yang kurang waspada ketika melintasi. Selain jalan yang tidak begitu lebar, banyak tikungan tajam, dan lereng curam di kanan-kiri jalan. Menjelang tengah malam hingga subuh wilayah ini diliputi kabut tebal yang menghalangi jarak pandang normal. Sedangkan di musim hujan rawan dengan longsor dan pohon tumbang. Karena itu bagi pelintas jalan raya Gumitir ini sebaiknya memang selalu hati-hati dan waspada terhadap kemungkinan terjadinya kecelakaan baik yang disebabkan oleh faktor manusia maupun alam. Yang tak kalah penting, jangan ngebut dan ugal-ugalan saat melintasi Gumitir.

Agar selamat dan terhindari dari musibah, sebaiknya para pengendara yang melintasi Gumitir memperhatikan tips berikut yang diberikan oleh seorang bikers :
  1. Selalu sabar, waspada, patuhi peraturan lalu lintas dan safety first.
  2. Pastikan anda dan kendaraan anda dalam kondisi prima.
  3. Gunakan gigi rendah agar kendaraan anda kuat melalui tanjakan dan sebagai engine brake agar kendaraan anda tidak nyelonong ketika melalui turunan.
  4. Kurangi kecepatan ketika hendak melalui tikungan tajam. Beberapa tikungan di gunung Gumitir termasuk tikungan buta alias blind corner. Disini anda tidak dapat melihat area jalan dan kendaraan lain yang mungkin ada selepas tikungan itu karena tertutupi oleh tebing gunung.
  5. Ketika hendak melewati tikungan buta, bunyikan klakson di waktu siang atau nyalakan lampu dim di waktu malam untuk memberitahu keberadaan anda pada pengendara kendaraan lain yang mungkin datang dari arah yang berlawanan.
  6. Selalu berada di jalur yang benar yaitu jalur kita sendiri dengan tidak melewati garis marka yang ada di tengah-tengah jalan. Jalanan di gunung Gumitir cukup sempit sehingga tidak mudah untuk mendahului kendaraan lain. Jika ingin mendahului kendaraan lain, lakukan dengan hati-hati dan di lokasi yang diijinkan.
  7. Tidak melakukan pengereman mendadak dan tidak menginjak rem terus menerus.
  8. Berhenti di rest area untuk mengistirahatkan badan dan kendaraan anda, misalnya di Cafe Gumitir yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara XII. Berhenti selama 30 menit sampai 1 jam dapat menurunkan suhu rem dan mengembalikan komponen rem seperti kampas, cakram, minyak rem, dan lain-lain ke posisi normal.
  9. Walau anda yakin kendaraan anda termasuk irit BBM, usahakan mengisi bahan bakar kendaraan anda dengan cukup. Diatas gunung Gumitir tidak ada penjual bensin eceran apalagi SPBU.
  10. Jaga agar kendaraan anda tidak overheat. Jika ada tanda-tanda overheat, segera berhenti di tempat yang aman. Beberapa titik di tepi jalan gunung Gumitir cukup luas untuk menampung kendaraan roda empat.
Ikuti tips tersebut saat melintasi Gumitir dan jangan lewatkan pemandangan di sepanjang jalan Gumitir yang cukup indah untuk dinikmati.
loading...


1 komentar:

Makasih Banyuwangi Bagus, infonya mantap.

Back To Top