FESTIVAL GANDRUNG SEWU, BUKTI NYATA ATRAKSI BUDAYA MENJADI KEKUATAN WISATA DAERAH


Festival Gandrung Sewu Banyuwangi - Banyuwangi dikenal sebagai kota Gandrung dan Gandrung identik dengan Banyuwangi.Tari Gandrung merupakan kesenian asli yang lahir dan berkembang di Banyuwangi dan memiliki sejarah yang panjang. Gandrung yang berasal dari Bahasa Banyuwangi yang berarti suka, tergila-gila, atau terpesona. Masyarakat Banyuwangi sendiri menterjemahkan gandrung sebagai wujud terpesona atau kekaguman masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Tari Gandrung dipersembahkan sebagai wujud rasa syukur masyarakat sehabis panen (Wikipedia). Filosofi penghormatan terhadap Dewi Sri inilah yang menjadi spirit masyarakat untuk mengembangkan dan melestarikan Tari Gandrung.
Festival Gandrung Sewu Banyuwangi.
Gandrung Sewu 2015 (sumber : Youtube.com)
Awalnya Tari gandrung dibawakan oleh penari laki-laki dengan dandanan perempuan. Namun dengan berkembangnya Islam di bumi Blambangan, Gandrung Lanang mulai pudar. Konon hal ini berkaitan dengan ajaran Islam yang menabukan lelaki berdandan ala perempuan. Dan era Gandrung lanang benar-benar berakhir setelah kematian penari terakhirnya, Marsan.

Setelah itu muncullah Semi, yang saat itu baru berusia 10 tahun, ditahbiskan sebagai Gandrung perempuan pertama pada tahun 1895. Sejak itu tari Gandrung lebih dominan dibawakan oleh perempuan daripada laki-laki.

Di Banyuwangi secara resmi Gandrung telah dinobatkan sebagai ikon daerah. Bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Banyuwangi 2002, Gandrung dikukuhkan sebagai maskot Kabupaten Banyuwangi.  Diberbagai tempat dibangun patung penari Gandrung, menggantikan lambang sebelumnya, ular berkepala Gatot Kaca.

Di sekolah-sekolah, tari Gandrung menjadi sebagai kegiatan ekstra kurikuler yang diwajibkan. Di masyarakat tari Gandrung juga dikembangkan melalui sanggar-sanggar tari.

Melalui SK Bupati nomor 147 tahun 2013, Tari Jejer Gandrung yang merupakan bagian dari tari gandrung ditetapkan sebagai tari selamat datang di kabupaten Banyuwangi. Sejak itu tari Gandrung dijadikan tarian selamat datang untuk kegiatan resmi, seperti menyambut tamu penting atau ditampilkan dalam acara-acara budaya dan pariwisata.

Puncaknya, pada tahun 2013 Tari Gandrung ditetapkan sebagai "Warisan Budaya Tak Benda" oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kini Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah).

Dengan pengakuan secara resmi tersebut, stigma negatif tentang keberadaan penari Gandrung di masa lalu pun berlalu dengan sendirinya. Gandrung yang memang sudah ada sejak berabad-abad lalu semakin mengakar di hati masyarakat Banyuwangi. Gandrung semakin digandrungi. Dimana-mana tari Gandrung selalu dimunculkan, dalam acara disekolah maupun karnaval di masyarakat, selalu ada Gandrung disana.

Bahkan Gandrung pun sudah melalang buana. Diberbagai misi-misi kebudayaan ke luar negeri, tarian Gandrung sering tampil. Setidaknya Gandrung pernah ditampilkan di Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Yang terakhir, legenda gandrung Banyuwangi, Temu, menari di salah satu rangkaian acara Frankfurt Book Fair 2015 di Jerman pertengahan Agustus lalu.

Gandrung memang telah menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Gandrung tidak terpinggirkan didaerahnya, nasibnya tidak seperti berbagai kesenian daerah lain yang mati suri. Meskipun demikian Pemkab Banyuwangi tidak terlena. Pemkab Banyuwangi menyadari untuk menumbuhkan kecintaan dan melestarian budaya tidak bisa dilakukan secara instan dan terpisah dengan pembangunan daerah. Salah satunya melalui pengembangan pariwisata. Dari sini muncul ide menampilkan gandrung secara massal. Maka lahirlah Gandrung Sewu.

Gandrung Sewu adalah ide spektakuler. Selain dirancang untuk mempromosikan Banyuwangi, Gandrung Sewu juga digunakan untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat Banyuwangi terhadap seni dan budaya daerahnya. 
Kami mencari cara bagaimana agar anak-anak penari diberi panggung yang istimewa. Karena selama ini mereka hanya tampil di desa saja. Tidak ada kebanggaan lebih, karena yang nonton hanya orang-orang di lingkungannya," kata Bupati Anas.
Gandrung Sewu menjadi atraksi istimewa karena melibatkan lebih dari seribu penari, panggungnya di bibir pantai, penontonnya berskala nasional dan dikemas secara unik dengan tema yang membumi. Hal ini memberi kebanggaan yang luar biasa bagi si penari Gandrung yang biasanya hanya tampil didepan penonton lokal.

Dan Gandrung Sewu memang menjadi bukti faktual bagaimana sebuah budaya mampu menggerakkan partisipasi rakyat. Pagelaran Gandrung Sewu bukan hanya sekedar pertunjukan tari kolosal, tapi mengandung makna konsolidasi budaya yang melibatkan banyak pihak.
Gandrung sewu telah menjadi daya tarik wisata tersendiri bagi daerah. Namun even ini tidak hanya menjadi sebuah atraksi wisata, tapi sekaligus sebuah konsolidasi budaya yang mampu membangkitkan partisipasi segenap rakyat Banyuwangi dalam memajukan budaya daerah," kata Anas.
Melalui pagelaran kolosal Gandrung Sewu, masyarakat tidak hanya menjadi penonton namun terlibat langsung dalam upaya pelestarian seni budaya daerah itu sendiri. Gandrung Sewu telah menggerakkan semangat anak muda Banyuwangi untuk mempelajari seni budaya daerahnya. Para penari Gandrung dengan semangat tinggi ingin ambil bagian dalam event budaya itu. Besarnya animo masyarakat membuat tim seleksi harus mengadakan audisi di 24 Kecamatan mengingat jumlah pendaftar jauh melebihi kuoto. Mereka yang terpilih berlatih selama 3 bulan dengan sukarela dan membiayai pementasannya, mereka hanya diberi uang pengganti sewa baju.

Di sisi lain, gaung Festival Gandrung Sewu juga mampu menggerakan perputaran ekonomi bagi masyarakat. Banyaknya peserta dan besarnya biaya yang harus ditanggung para penari, tak pelak menjadi berkah bagi para pihak yang terlibat dalam pagelaran. Mereka adalah para pelatih dan koreografer Gandrung, perajin kostum Gandrung, dan perias wajah. Konon harga sebuah kostum penari Gandrung tidak kurang dari Rp 1,5 juta dan ongkos rias wajah Rp 250 ribu. Diperkirakan biaya yang dikeluarkan setiap penari sekitar Rp 2 juta untuk membiayai persiapan dan penampilannya di pagelaran Gandrung Sewu.

Ibarat pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, Gandrung Sewu berhasil memberi dampak yang positif bagi pertumbuhan ekonomi kreatif, regenerasi Gandrung, dan perkembangan pariwisata Banyuwangi secara keseluruhan.

Sukses Banyuwangi dalam mengelola kebudayaan dan melakukan regenerasi gandrung itu mendapat apresiasi Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kacung Marijan.

Guru besar ilmu politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu mengatakan, Banyuwangi telah berhasil membangun sebuah ekosistem kebudayaan yang terbentuk lewat keterlibatan banyak pihak, mulai sekolah, sanggar, hingga pelaku wisata dalam perhelatan ini. Ekosistem ini menjadi dasar bagi pengembangan budaya yang kuat.

Ia menilai Banyuwangi berhasil meletakkan kebudayaan sebagai bagian penting dari pembangunan. Kebudayaan tidak dipinggirkan tapi dikedepankan, menjadi pondasi sekaligus arah bagi pembangunan. 
Kalau daerah mau maju harus menjadikan kebudayaan bagian dari pembangunan. Banyuwangi bisa menjadi contoh bagi daerah lain," ujar Kacung.
GANDRUNG SEWU 2012

Festival Gandrung Sewu pertama kali digelar pada 17 November 2012 di Pantai Boom Banyuwangi, diikuti oleh 1.044 penari yang terdiri para pelajar SD, SMP, dan SMA Banyuwangi. Mereka menari Gandrung secara massal di Pantai Boom. 

Pagelaran Gandrung Sewu yang mengambil tema Jejer Gandrung ini tidak hanya menampilkan tarian semata, namun lengkap dengan drama kolosal sejarah tari Gandrung Banyuwangi. Tujuannya agar masyarakat tahu sejarah tarian Gandrung.
Gandrung sewu 2012 dengan tema "Jejer Gandrung" (foto : Manisnyaberbagi.blogspot.co.id)
Acara diawali dengan kesenian Kuda Lumping Buto. Dan dilanjutkan dengan aksi teatrikal yang mengisahkan sejarah asal muasal tarian Gandrung, lalu dilanjutkan dengan penampilan Gandrung Sewu sebagai acara pamungkas.

Gandrung Sewu 2012 dibuka dengan cerita VOC Belanda yang menguasai Banyuwangi dan memperbudak rakyat Banyuwangi. Setelah melakukan penyiksaan kepada warga pribumi, para penjajah biasa berpesta dengan menari diiringi penari gandrung yang saat itu bukan perempuan, namun laki-laki.

Perlawanan terus dilakukan oleh pribumi, hingga pada saat Belanda berhasil diusir dari bumi Indonesia. Namun tari Gandrung tetap dilestarikan hingga sekarang sebagai warisan budaya Banyuwangi. Diakhir pertunjukan, seluruh penari Gandrung kompak meneriakkan " Isun Gandrung ... gandrungono!" Yang artinya "Saya Gandrung, cintailah...".

Gandrung Sewu 2012 berlangsung sukses. Ribuan warga Banyuwangi memadati Pantai Boom di Desa Mandar, Kecamatan Banyuwangi, sehingga menimbulkan kemacetan lalu lintas yang luar biasa hingga sekitar 4 km mulai dari pintu masuk Pantai Boom.


GANDRUNG SEWU 2013 : PAJU GANDRUNG

Pagelaran Gandrung Sewu 2013 mengambil tema Paju Gandrung Sewu, berlangsung pada 23/11/2013 di Pantai Boom, Banyuwangi. Paju Gandrung adalah tarian Gandrung (perempuan) yang diiringi penari pria (disebut Paju). Tarian ini benar-benar ditampilkan secara kolosal mengingat ada sebanyak 2.106 penari terlibat dalam event ini, baik sebagai penari Gandrung maupun pengiringnya (Paju), ditambah 161 kru dan puluhan penabuh gamelan (wiyogo) dan pesinden.
Paju Gandrung Sewu 2013 (foto : Kompas.com)
Pagelaran Paju Gandrung Sewu merupakan sebuah pertunjukan yang menceritakan cuplikan cerita Gandrung yang berkembang di masyarakat. Paju Gandrung dipilih sebagai tema karena melibatkan interaksi dengan masyarakat, dimana Paju adalah penonton pria yang ikut diajak menari. Di Banyuwangi, Paju Gandrung biasanya dihadirkan pada saat masyarakat Suku Using menggelar hajatan.

Paju Gandrung Sewu diawali dengan pemasangan Kiling oleh belasan laki-laki berpakaian khas Banyuwangi di tengah lapangan. Killing adalah kincir angin yang terbuat dari bambu yang tingginya mencapai 10 meter, yang biasa digunakan petani di Banyuwangi untuk menghalau burung di sawah. Sementara itu, seorang laki-laki paruh baya membakar menyan.

Setelah kiling terpasang, suasana magis semakin terasa. Beberapa penari Seblang memasuki lapangan diiringi dengan lagu Banyuwangi “Podo Nonton”, yang kemudian lagu ini menjadi tema Gandrung Sewu 2015.

Seblang adalah cikal bakal dari penari Gandrung. Lalu muncul Gandrung pertama seorang laki-laki yang bernama Marsan. Lambat laut Gandrung berkembang dan lebih banyak dibawakan oleh perempuan yang dimunculkan pada fragmen seorang penari Gandrung yang diusung menggunakan tandu.
Temu Misti penari Gandrung senior, berperan sebagai Gandrung Semi (foto : Adiw.blogdetik.com)
Penari Gandrung yang menggunakan selendang putih tersebut menggambarkan penari gandrung perempuan pertama yang bernama Gandrung Semi diiringi beberapa penari Gandrung yang membawakan tarian Jejer Gandrung.

Di fragmen ini, digambarkan penari gandrung yang menari hingga tengah malam. Dimana pengiring (paju) bergabung dan menari sambil memberi saweran kepada penari gandrung. Kadang diselingi dengan minuman keras. Yang membuat citra kesenian gandrung menjadi negatif di mata masyarakat.
Di titik ini kemudian terjadi dialog bahwa praktik negatif seperti itu akan menghalangi perkembangan tari gandrung di masyarakat. Lalu diakhir cerita mereka bersepakat bahwa gandrung harus tumbuh di masyarakat dengan citra positif.


Setelah fragmen tersebut selesai, ribuang gandrung diiringi pengiring atau yang biasa disebut "paju" masuk ke dalam lapangan. Usia mereka beragam mulai usia 9 tahun hinggai 71 tahun. Mereka menari Gandrung bersama-sama diiringi dengan gamelan Kembang Waru dan Embat-embat.
Festival Gandrung Sewu 2014 dengan tema Paju Gandrung.
Paju Gandrung Sewu 2013, sebanyak 1053  pasang penari Gandrung menari bersama.  (foto : Elshinta.com)
Salah satu fragmen Paju Gandrung Sewu (foto : Krjogja.com)
Di fragmen pamungkas, muncul ribuan penari gandrung yang meliuk-liuk menari secara kolosal. Disusul munculnya ribuan paju yang bergabung sebagai penari pengiring. Suasana kian meriah saat ribuan pasang penari ini membentuk formasi "I Love BWI (baca Banyuwangi)" sembari melempar selendang yang ditahan di tangannya berulang-ulang.
Paju Gandrung Sewu dan ribuan penonton yang menyemut (foto : Tempo.co). 
Penampilan ribuan penari secara kolosal ini membuat bulu kuduk penonton menjadi merinding. Liukan gerakan penari yang indah dan seirama mengikuti alunan musik khas Banyuwangi bercampur aroma kemenyan yang dibakar menciptakan atmosfer magis yang kuat. Begitu juga dengan senyum manis namun misterius yang selalu hadir dibibir para Gandrung.

GANDRUNG SEWU 2014 : SEBLANG SUBUH

Pagelaran Gandrung Sewu 2014 mengambil tajuk atau tema Seblang Subuh, dibawakan oleh 1.258 penari gandrung, pada 29/11/2014. Seperti tahun-tahun sebelumnya, para penarinya terdiri dari para pelajar SD, SMP, SMA dan penari Gandrung profesional di Banyuwangi.

Pada pagelaran Festival Gandrung Sewu yang pertama pada tahun 2012  ‘Jejer Gandrung’ menjadi episode pembuka, yang dilanjutkan dengan tema ‘Paju Gandrung’ di tahun kedua, maka di tahun ketiga ini tema ‘Seblang Subuh’ mengemas tarian Gandrung dengan sajian yang lebih lengkap dan iringan musik yang rancak, ditambah sedikit sentuhan teatrikal.
Gandrung Sewu 2014 bertema Seblang Subuh
Pertunjukan Seblang Subuh (sumber : Jawapos.com)
Festival Gandrung Sewu yang mengangkat tema Seblang Subuh menceritakan asal-usul Gandrung pada masa pemerintahan Bupati Pringgokusumo, yang merupakan bupati Banyuwangi yang kelima. Diceritakan kala itu para pejuang menyamar sebagai penari Gandrung saat berperang melawan penjajah. Gandrung laki-laki ini dikenal sebagai Gandrung Marsan yang merupakan penari Gandrung laki-laki pertama di Banyuwangi.
Gandrung Marsan Seblang Subuh 2013.
Gandrung Marsan (sumber : Greatindonesia.com)
Pertunjukan Gandrung Subuh diawali dengan munculnya beberapa lelaki membawa penjor yang menggambarkan sebagai mantan prajurit Kerajaan Blambangan. Mereka sedang mengumpulkan rekan-rekan seperjuangannya yang tersebar pasca peperangan. Setelah terkumpul beberapa orang, mereka mentasbihkan diri sebagai Gandrung Marsan (Gandrung laki-laki).

Pada awalnya, penari Gandrung memang seorang laki-laki atau yang biasa disebut Gandrung Marsan. Lambat laun Gandrung berkembang dan lebih banyak dibawakan perempuan. Penari Gandrung perempuan pertama adalah Gandrung Semi.

Pertunjukkan kolosal ini dilanjutkan  adegan munculnya Gandrung Semi diikuti ribuan penari gandrung berkostum merah yang menghambur dari berbagai arah dan kemudian menyatu di satu titik.
Sebuah fragmen Seblang Subuh (foto: Kabarbisnis.com)
Keberadaan Gandrung Marsan tidak lama. Terjadi peristiwa pajuan, yaitu perebutan posisi sebagai gandrung antara gandrung laki-laki dan gandrung perempuan. Pertikaian diantara mereka dikisahkan berlangsung hingga subuh tiba. Saat terdengar suara adzan subuh, mereka pun tersadar akan kesalahannya. Kedua belah pihak memohon ampun pada Yang Maha Kuasa. Mereka menyadari bahwa menjadi gandrung adalah suratan tangannya, jadi harus dijalani, dan tak perlu diperebutkan.

Ketika itu pula, mereka dinasihati tetua adat agar selalu berhati-hati, karena menjadi gandrung berarti harus berhadapan dengan banyak resiko. Mulai dari pencemaran nama baik, dihina sesama perempuan hingga dilecehkan laki-laki yang lupa diri.
  Gandrung Sewu Seblang Subuh (foto : Portalkbr.com)
Melanjutkan tariannya, ribuan penari itu pun mengembangkan kipas kuning diiringi dengan munculnya Dewi Sri ditengah-tengah para penari. Kemunculan Dewi padi yang melambangkan kesuburan itu pun mengakhiri pertunjukkan tari kolosal di hari yang memasuki senja.


GANDRUNG SEWU 2015 : PODO NONTON

Festival Gandrung Sewu tahun 2015 kembali digelar di Pantai Boom pada 26/9/2015, kali ini mengangkat tema Podo Nonton atau nonton bersama. Sebanyak 1.208 penari terlibat dalam pagelaran tari kolosal ini. Tarian Gandrung sendiri terdiri dari tiga segmen, yaitu Jejer Gandrung, Paju Gandrung dan sebagai penutupnya, Seblang Subuh. Nah, Podo Nonton adalah salah satu bagian dari pertunjukan Jejer Gandrung.

Podo Nonton sejatinya merupakan tembang wajib yang menjadi musik pengiring pada pertunjukan Jejer Gandrung. Selain Podo Nonton, dalam pertunjukan tari gandrung sendiri, sebenarnya ada banyak tembang yang dinyanyikan, seperti Sekar Jenar, Layar Kumendung, Keok-Keok, dan Jaran Dawuk. 
Gandrung Sewu 2015 (foto : Detik.com)
Tema Podo Nonton diangkat karena syairnya mengandung makna heroisme dan perjuangan sangat berat dari para pendahulu di Bumi Blambangan saat melawan Belanda. Hal ini dimaksudkan untuk mengingatkan masyarakat akan perjuangan para pendahulu. Akibat peperangan melawan penjajah, penduduk Banyuwangi yang kala itu berjumlah puluhan ribu, berkurang menjadi hanya ribuan orang saja.


Dalam Festival Gandrung 2015, tema Podo Nonton dikisahkan dalam sebuah drama teaterikal, tari dan nyanyian yang sarat pesan dengan mengambil setting sekitar tahun 1771 Masehi, yang merupakan tahun kelahiran Banyuwangi. Dimana kondisi saat itu, tanah-tanah di Banyuwangi sangat subur dan makmur. Namun tiba-tiba Belanda datang dan memporak-porandakan desa dan hasil tani rakyat.
Fragmen penjajah Belanda membantai rakyat dan merampas hasil pertanian (foto : Merdeka.com)
Dalam kondisi yang tertindas tersebut, para petani bangkit dan melakukan perlawan terhadap kesewenang-wenangan tersebut. Hingga akhirnya pecahlah perang awal antara penduduk pribumi dan kolonial. Di masa peperangan tersebut lalu muncul tokoh-tokoh yang menjadi motor penggerak perlawanan terhadap penjajah yakni tokoh Rempeg Jogopati dan Sayuwiwit.
Visualisasi lautan ombak (foto : Detik.com)
Festival diawali dengan masuknya ribuan penari Gandrung ke venue dari segala penjuru. Mereka menari secara rancak dan dinamis. Lalu disusul dengan fragmen Podo Nonton yang menceritakan bagaimana makmurnya rakyat Banyuwangi sebelum kedatangan Belanda, hingga Belanda datang merusak tatanan kehidupan rakyat. Selanjutnya dalam fragmen dipertontonkan perjuangan rakyat Banyuwangi yang melawan penjajahan Belanda.

Selama fragmen berlangsung, ribuan penari Gandrung itu tetap menari menjadi latar pertunjukkan. Sesekali mereka membentuk formasi di tengah pertunjukan sambil memainkan kipas warna-warninya. Di akhir cerita, ribuan Gandrung tersebut menjelma menjadi lautan ombak, yang memvisualisasikan para pejuang Banyuwangi yang di akhir peperangan mereka dibuang ke Selat Bali.



loading...

Back To Top