AWAS, SUNGAI KALILO JADI VIRUS, SUNGAI LAIN DI BANYUWANGI IKUT TERTULAR!

Sungai Kali Lo atau Kalilo semakin cantik setelah direvitalisasi, kini berkembang menjadi wabah virus yang menulari sejumlah sungai lain. Tak lama lagi saat Anda mengunjungi tempat-tempat wisata di Banyuwangi, jangan kaget akan melihat sesuatu yang cantik di sepanjang bantaran sungai yang Anda lewati. Itu berkat virus Sungai Kalilo yang menyebar ke seluruh penjuru sungai di Banyuwangi.
Sungai Kalilo Banyuwangi makin cantik.
Jembatan cantik di Sungai Kalilo (via Twitter.com/ramada16

Tekad Pemkab Banyuwangi menjadikan sungai sebagai wajah kota tidak sekedar wacana. Sungai Kalilo yang mengalir di tengah kota Banyuwangi menjadi prioritas awal. Setelah mempercantik bantaran sungai Kalilo dan rumah-rumah disekitarnya dengan mengecatnya menjadi berwarna-warni bak pelangi, sejumlah langkah dilakukan sebagai tindak lanjut. Terutama bagaimana menjaga agar kebersihan Sungai Kalilo dapat dipertahankan, khususnya dari sampah.

Mendidik warga agar punya kesadaran untuk menjaga lingkungan tidak cukup dengan himbauan, terlebih kebiasaan membuang sampah sembarangan konon telah berlangsung lama. Pendangkalan sungai Kalilo pun tak terhindarkan akibat sampah yang menggunung. Namun, setelah direvitalisasi Sungai Kalilo menjadi kawasan wisata pemukiman warna-warni yang banyak dijadikan jujugan wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Berikut ini upaya yang dilakukan Pemkab Banyuwangi dan komunitas setempat untuk menjaga kebersihan dan keindahan Sungai Kalilo agar dapat menjadi kebanggaan warganya.

JEMBATAN SELFI

Wajah Sungai Kalilo sekarang (via Facebook.com/romdhan.eroloveporeperbeyy

Di atas Sungai Kalilo dibangun jembatan yang menghubungkan bantaran sungai di kedua sisi. Selain berfungsi sebagai jembatan penghubung, juga menjadi spot selfi yang menarik. Setiap sore banyak warga Banyuwangi dan wisatawan yang mejeng di atas jembatan ini. Berikutnya di bagian kanan-kiri jembatan akan dibuat taman dan tempat bersantai untuk keluarga menikmati bersihnya sungai. Sebuah jembatan lagi akan dibangun untuk menambah akses wisatawan menikmati keindahan sungai Kalilo.

Jembatan Sungai Kalilo di malam hari (via Twitter.com/ftoPengairanBWI

ADA CCTV DI SUNGAI KALILO, PERILAKU MASYARAKAT PUN BERUBAH

Setidaknya ada 4 titik strategis di Sungai Kalilo yang dipasang CCTV untuk memantau aktivitas warga sekitar. Bukan untuk mengintip warga yang mandi di sungai lho. Pemasangan CCTV oleh Dinas Kominfo dan Persandian Banyuwangi ini sebagai upaya untuk mengurangi perilaku masyarakat yang berdampak mengotori sungai, seperti buang sampah dan limbah rumah tangga.
CCTV di Sungai Kalilo terpantau di Lounge Pemkab Banyuwangi (via Timesindonesia.co.id)

Tujuan lain agar warga malu BAB (buang air besar) di sungai kalilo. Hasilnya sangat efektif dan langsung bisa dirasakan. Sebelumnya warga di sekitar bantaran sungai Kalilo, meskipun telah memiliki MCK, sering BAB di sungai. Pemandangan orang BAB di sepanjang sungai sehabis subuh adalah hal biasa karena sudah jadi kebiasaan sejak lama. Tapi setelah dipasang CCTV, budaya tersebut kini sudah tinggal kenangan.

Jangankan BAB, dampak CCTV, sekarang tak ada lagi warga yang berani buang sampah sembarangan! Malu Boss!

Sungai Kalilo Salah satu CCTV di Sungai Kalilo (via Banyuwangikab.go.id)

PASANG JARING SAMPAH

Screen Jaring sampah di Sungai Kalilo.
Pemasangan screen jaring sampah di sungai Kalilo (via Portal.banyuwangikab.go.id

Di beberapa titik Sungai Kalilo dipasang screen jaring sampah oleh Dinas PU Pengairan Banyuwangi. Tujuannya untuk menjaring sampah yang hanyut terbawa aliran sungai. Sampah yang tersangkut pada jaring kemudian dibersihkan dan diangkut ke tempat pemungutan sampah. Dengan begitu kebersihan Sungai Kalilo dari sampah dapat dikurangi. Mendidik warga agar punya kesadaran terhadap lingkungan tidak cukup dengan himbauan, terlebih kebiasaan membuang sampah sudah terlanjur mengakar di masyarakat. Jadi harus ada tindakan kongkrit.


ADA RUANG BACA DI SUNGAI KALILO

Salah satu sisi bantaran Sungai Kalilo , di sini akan dibangun ruang baca (via Timesindonesia.co.id)

Pemkab Banyuwangi punya misi meningkatkan minat baca warganya. Bahkan perpustakaan di Banyuwangi akan direvitalisasi besar-besaran. Ini adalah bagian dari usaha meningkatkan kualitas SDM Banyuwangi.

Langkah yang dilakukan adalah mengembangkan secara massif sarana pojok baca di ruang-ruang publik. Salah satunya di tempat wisata. Pojok baca ini akan didesain semenarik mungkin agar bisa menarik minat anak-anak muda.

Di sekitar Sungai Kalilo akan dibuat kampung baca. Saat ini masih dipelajari kampung mana yang siap, termasuk kades atau lurahnya. Nantinya di pinggir sungai akan ada ruang baca, sehingga pengunjung bisa baca buku di tepi sungai yang bersih dan warna-warni. Keren ya?


LOMBA CEBURAN, CIBLUNGAN DAN NYAWUK IWYAK

Lomba ceburan di Sungai Kalilo.
Lomba ceburan dimanfaatkan warga untuk membangkitkan tradisi lama ceburan dan ciblukan (via Kompas.com)

Setelah Sungai Lo semakin bersih, masyarakat sekitar memanfaatkan kebersihan aliran sungai itu dengan berbagai aktivitas. Salah satunya lomba ceburan. Ini dilakukan Kelurahan Singonegaran yang wilayahnya dibelah Sunga Kalilo. Kegiatannya berupa lomba lompat dari jembatan selfie Kalilo setinggi 5 meter, yang diikuti 39 peserta individu dan kelompok (8/1/2017).

Lomba sederhana ini ternyata sarat makna. Selain itu untuk mendukung Kalilo sebagai destinasi wisata sungai, acara tersebut adalah bagian dari kegiatan masyarakat Kelurahan Singonegaran Banyuwangi untuk mengembalikan kembali fungsi sungai Kali Lo serta memperingati hari jadi Singonegaran yang ke 117 tahun.

Suasana meriah lomba ceburan (via Koran-radar-banyuwangi.blogspot.com)

Menurut Budayawan Banyuwangi,  Hasnan Singodimayan, sejak dulu sungai Kalilo yang bermuara langsung ke Selat Bali ini sudah menjadi pusat nadi kehidupan masyarakat Banyuwangi.

Dulu sungai Kalilo bening, bersih, banyak ikan dan bisa dilewati perahu kecil. Masyarakat setempat banyak yang memanfaatkan Sungai Kalilo untuk terjun dan mandi-mandiri di sungai, yang disebut ceburan. Sambil berenang mereka memukul-mukul permukaan air dengan telapak tangan hingga menghasilkan nada yang saling bersahutan. Tradisi ini disebut ciblungan.

Setelah kondisi Sungai Kalilo semakin kotor dan airnya menyusut akibat pendangkalan, perlahan kebiasaan ceburan dan ciblungan itu pun mulai ditinggalkan. Kini, setelah Sungai Kalilo direvitalisasi, tradisi lama itu kembali dihidupkan. 

Lomba Nyawuk Iwyak sungia Kalilo
Ibu-ibu mengikuti lomba nyawuk iwyak (via Timesjatim.com)

Lain anak lain ibu. Kalau anak-anak dan remaja mengadakan lomba ceburan, maka ibu-ibu warga Kelurahan Singonegaran diajak mengikuti lomba Nyawuk Iwyak alias menyerok ikan. Orang Banyuwangi menyebut iwak (ikan) dengan iwyak.

Sebanyak 60 ibu-ibu ikut turun ke sungai membawa ember dan 'irig' atau saringan dari anyaman bambu lalu berebut menangkap ratusan ekor ikan wader yang dilepas ke sungai Kalilo.

VIRUS SUNGAI CANTIK DI BANYUWANGI


Virus sungai cantik berkembang di Banyuwangi. Sejumlah dam (bendungan air) dan bantaran sungai di berbagai wilayah Banyuwangi ikut tertulari virus cantik Sungai Kalilo. Semua bersaing bersolek dan mempercantik diri.


Dam Gembleng yang berlokasi di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, adalah salah satu dam yang siap mengikuti virus sungai cantik Kalilo. Dam Gembleng dulunya sangat kumuh dan tidak terawat, dengan rumput ilalang yang tumbuh liar.

Dam Gembleng Rogojampi, Banyuwangi.
Dam Gembleng kian cantik setelah ikut virus cantik Sungai Kalilo via Detik.com)

Dengan dukungan warga dan Karang Taruna setempat, kini diatas lahan dam sekitar 1 hektar dilakukan pembersihan dan pengecetan di sekitar bantaran sungai. Nantinya akan ada tempat khusus anak-anak dapat bermain air dan sekaligus menjadi wisata edukasi tentang fungsi pengairan.

Dam Gembleng via https://twitter.com/banyuwangi_kab

Dam Gembleng berada di bawah Korek (Koordinator Eksploitasi) Air Irigasi Srono yang berfungsi mengairi 1.979 hektar sawah ini memiliki potensi wisata yang baik. Pemandangan di sekitar dam cukup asri, dikelilingi sawah hijau dan tumbuh-tumbuhan yang menyejukan mata yang memandang.


Dam Gembleng dipercantik (via Twitter.com/banyuwangi_kab)

Meskipun revitalisasi Dam Gembleng belum selesai, namun antusias warga lokal tak terbendung lagi. Pada hari Sabtu dan Minggu banyak masyarakat yang berdatangan di lokasi Dam Gembleng ini bersama keluarganya. 

Masih di Kecamatan Rogojampi, ada juga dam Concrong yang tak mau ketinggalan mempercantik diri.

Dam Concrong di Rogojampi tak mau kalah bersolek. (via Twitter.com/PengairanRGJ)

Salah satu bendungan irigasi di Sungai Cluring, Kecamatan Cluring juga dipercantik dengan cat warna-warni mencolok. Selain itu juga ada lukisan khas Banyuwangi, seperti gandrung dan motif batik gajah oling.

Kalau yang ini Dam Cluring (via Banyuwangi.merdeka.com)

Dam Cluring (via Banyuwangi.merdeka.com)
Dam Cluring (via Facebook.com/KabupatenBanyuwangi)

Dam kali setail Genteng.
Dam Kali Setail Genteng (via Facebook.com/anton.tri.16)

Dam kali setail Genteng (via Facebook.com/anton.tri.16)

Bendungan Porolinggo, Glenmore (via Twitter.com/kabarbanyuwangi)

Bendung Watu Kemloso Banyuwangi.
Bendung Watu Kemloso (via https://www.facebook.com/anton.tri.16)


Artikel BANYUWANGI BAGUS Lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar

Scroll to top