BANYUWANGI PUNYA PONDOK PESANTREN MUHAMMAD CHENG HO PERTAMA DI INDONESIA


Kabupaten Banyuwangi bisa menjadi contoh baik tentang kerukunan umat antaragama. Di tengah isu SARA yang merebak, masyarakat setempat serta warga keturunan Tionghoa bersama-sama mendirikan masjid dan lembaga pendidikan.

Yakni, Masjid Muhammad Cheng Hoo dan Pondok Pesantren Adz-Dzikra Muhammad Cheng Hoo yang terletak di jalan Sutawijaya no. 186, Kelurahan Sumberejo, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi. 

Masjid dan pondok pesantren Muhammad Cheng Hoo di Banyuwangi.
Pintu gerbang Masjid dan pondok pesantren Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi (foto : OnkyReno)

Untuk diketahui, Masjid Muhammad Cheng Hoo di Banyuwangi ini adalah masjid Cheng Hoo ke-10 di Indonesia yang telah diresmikan, sedangkan Pondok Pesantren Adz Dzikra Muhammad Cheng Hoo adalah pesantren Cheng Hoo pertama yang diresmikan di Indonesia. Selain itu, di Banyuwangi juga terdapat sebuah mushola yang berarsitektur ala Cheng Hoo di Desa Bagorejo, Kecamatan Srono.

Masjid dan pondok pesantren Muhammad Cheng Hoo ini diresmikan oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto, Sabtu, 26 November 2016.

Wiranto mengapresiasi masyarakat Banyuwangi dan warga Tionghoa karena mereka bisa menunjukkan kerukunan yang luar biasa. "Ini bisa menjadi contoh untuk masyarakat Indonesia seluruhnya,'' katanya.

Dia berharap keberagaman umat dan tradisi tersebut menular ke daerah lainnya. Dengan begitu, Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi kuat dan berdedikasi sesuai cita-cita bersama.
Masjid Muhammad Cheng Hoo yang ke 10 di Indonesia ada di Banyuwangi.
Masjid Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi (sumber : Jawapos.com)

Masjid dan pondok pesantren Muhammad Cheng Hoo ini berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektare. Donatur pembangunan berasal dari masyarakat setempat, warga Tionghoa, serta perhimpunan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jatim. Peresmian itu dihadiri Konjen Tiongkok untuk Indonesia di Surabaya Gu Jingqi, perwakilan PW NU Jatim, tokoh agama, serta warga setempat.

Kadafi, salah seorang pendiri masjid dan pondok pesantren, menyatakan bahwa ide pembangunan fasilitas umum dan lembaga pendidikan itu muncul begitu saja. Dia sering mengikuti pengajian jamaah KH Ahmad Wahyudi.

"Kami sering menggelar kegiatan sosial, tapi tidak memiliki masjid,'' katanya.

Dia mulai berpikir untuk membuat masjid di lahan miliknya seluas 4.500 meter persegi. Ide itu tidak disampaikan secara terang-terangan.

Seiring berjalan waktu, Kadafi bersama KH Ahmad Wahyudi bertemu rekan-rekan dari pengurus Yayasan Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya.

"Muncul ide untuk membentuk pesantren tersebut,''jelas Kadafi.

Tempat wudhu (foto : OnkyReno)

Kurikulum yang diajarkan di pesantren pun beragam. Salah satunya membaca kitab kuning dengan cepat.


Dewan Penasihat Yayasan Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya, Bambang Sujanto menyatakan, masjid tersebut merupakan yang kesepuluh. Sebelumnya, hanya ada sembilan Masjid Muhammad Cheng Hoo yang tersebar di Indonesia.

"Masjid ini menggenapkan menjadi sepuluh dari seluruh yang ada di Indonesia,'' ucapnya.

Bambang juga bangga bahwa kini ada pondok pesantren yang menggunakan nama Cheng Hoo. Harapannya, pondok serupa bakal berdiri di daerah lain. Langkah tersebut merupakan bentuk dakwah kepada masyarakat sekaligus menjunjung tinggi kerukunan umat. (Jawapos.com)



loading...

Back To Top