BANYUWANGI LUNCURKAN GERAKAN JUMAT MINUM JAMU AGAR MASYARAKAT SEHAT


Banyuwangi Jumat Minum Jamu - Jumat pagi itu (28/8/2015), halaman Pemkab Banyuwangi dipenuhi ratusan PNS yang usai melakukan senam pagi. Tak seperti biasa, mereka tidak segera membubarkan diri. Mereka malah menyerbu seluruh stand jamu yang ada di sekitar lokasi. Rupanya pada hari itu Pemkab Banyuwangi sedang melaunching  Gerakan Jumat Minum Jamu. Berbagai jenis jamu yang disediakan, mulai dari sinom, temulawak, beras kencur, kunyit asam, pace, kunci suruh hingga jamu dari daun kelor, ludes dalam sekejap.
Gerakan Jumat Minum Jamu ala Kabupaten Banyuwangi.
Pemkab Banyuwangi mencanangkan gerakan Jumat Minum Jamu (foto : Banyuwangikab.go.id)
Tidak aneh, seperti sebagian masyarakat Indonesia lain, orang Banyuwangi pun memang menyukai jamu tradisional. Dikutip dari laman Banyuwangikab.go.id, gerakan minum jamu ini, seperti diungkapkan Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pertambangan, Hary Cahyo Purnomo, digagas untuk menciptakan Banyuwangi yang sehat, dan akan dilaksanakan rutin serta berkelanjutan setiap Jumat pagi.

Dalam peluncuran gerakan Jumat Minum Jamu tersebut, Pemkab Banyuwangi menggandeng sejumlah bakul jamu. Totalnya ada 98 orang penjual jamu yang dilibatkan dalam acara ini. Ada mbok-mbok yang membawa gendongan, ada yang menjual dengan bersepeda, dan ada pula penjual jamu kemasan. Penjual jamu gendong khusus dibina oleh Dinkes, sedangkan penjual kemasan berada di bawah binaaan Disperindagtam. 
Masyarakat antri minum jamu gratis (foto Antaranews.com)
Diantara deretan jamu tersebut, ada sebuah jamu yang memang baru satu-satunya dikembangkan di Banyuwangi, yakni jamu dari daun kelor. Daun kelor yang selama ini dikenal sebagai peluntur ilmu hitam, ternyata sangat tinggi manfaatnya. Jamu daun kelor ini dikembangkan oleh Suwondo, pengusaha jamu rumahan asal Glenmore. Produk jamunya khusus ia beri nama ‘Kristal Daun Maronggi’.

Menurut Suwondo, awalnya dia dipanggil oleh Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur bersama 40 pengusaha jamu lainnya. Mereka diminta untuk mengembangkan jamu dari daun kelor yang berdasarkan penelitian Universitas Jember (UNEJ) punya banyak khasiat dan berguna untuk mengobati berbagai penyakit. Seperti liver, encok, reumatik, bronkhitis, kolesterol, dan kanker. Bahkan bisa menghaluskan kulit, memenuhi gizi anak dan ibu hamil, serta menunjang pertumbuhan anak-anak, dewasa hingga lansia.

Dari ke-40 penjual jamu tersebut, hanya dirinya yang berhasil menciptakan jamu berbahan dasar daun kelor. Melalui treatment khusus, yakni usai dipetik daun kelor basah diekstrak kemudian disangrai. Cara mengkonsumsinya cukup dengan diseduh saja. Agar jamu yang ia ciptakan tepat sasaran mengobati penyakit, Suwondo juga membuka konsultasi bagi para konsumennya. 
Meski memiliki banyak khasiat, faktanya minum jamu masih belum menjadi budaya dan gaya hidup karena dianggap kuno oleh sebagian masyarakat Indonesia. Mayoritas masyarakat yang sakit banyak bergantung pada obat-obatan kimia, yang jika digunakan dalam waktu lama dapat merusak fungsi ginjalnya. Karena itu, dibalik gerakan minum jamu itu, ada misi back to nature atau kembali ke alam, mengingat jamu adalah ramuan tradisional yang merupakan warisan nenek moyang yang wajib dilestarikan.

Dan di Banyuwangi, terdapat potensi alam untuk bahan baku jamu yang cukup besar.  Selain itu pembuat dan penjual jamu di Banyuwangi juga banyak. Keduanya harus disinergikan. Menurut Hary, harus ada kolaborasi antara petani penanam tanaman obat keluarga (toga) dengan pedagang jamu gendongan dan perusahaan-perusahaan jamu kemasan. “Dengan begitu, ini tak hanya berdampak baik bagi kesehatan, tapi juga bagi perekonomian masyarakat Banyuwangi,” katanya.

Senada dengan Hary, Kepala Bidang Penyehatan Lingkungan & Pemberdayaan Masyarakat (PLPM)  dan SDM Kesehatan dari Dinas Kesehatan Banyuwangi , dr. Kurnianto mengatakan, pihaknya sangat mendukung kegiatan ini. Menurutnya, jamu itu berfungsi untuk menjaga kesehatan jika diminum secara rutin, berasal dari bahan alam, dan tidak ada bahan kimianya. Karena itu Dinkes mengawal beberapa puskesmas di Banyuwangi untuk membina para bakul jamu gendongan agar mereka terus menjaga kualitas jamunya.
Pengawasan dan pembinaan pada para pembuat dan penjual jamu di Banyuwangi memang mutlak harus dilakukan. Pasalnya, beberapa kali terungkap kasus dimana terbukti diantara banyak jamu-jamu yang beredar di Banyuwangi dan diproduksi oleh pengusaha lokal diindikasikan tidak memiliki ijin dan tanpa label Depkes. Selain itu terdapat oknum pengusaha yang mencampurkan obat-obatan kimia terlarang ke dalam ramuan jamunya dengan dalih lebih meningkatkan khasiatnya. 

Menurut data di Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi, hingga 2015 sedikitnya ada 26 industri jamu yang mengantongi izin resmi. Yang tidak resmi diperkirakan jumlahnya jauh lebih banyak lagi. Sejak lama Banyuwangi dikenal sebagai salah satu sentra penghasil jamu tradisional. Masalahnya, Banyuwangi pula disebut sebagai salah satu daerah, yang berdasarkan temuan Badan POM tahun 2011-2013, tercatat 13 obat tradisional mengandung BKO (Bahan Kimia Obat) yang berasal dari Banyuwangi. 

Akibat jamu yang mengandung BKO berbahaya bagi kesehatan. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang dan dosis yang salah akan mengakibatkan berbagai penyakit, mulai dari yang ringan sampai berakhir kematian.  


Pemkab Banyuwangi rupanya menyadari, cara terbaik melindungi masyarakat dari bahaya jamu berbahan kimia adalah dengan memberikan edukasi dan pembinaan kepada masyarakat tentang bahaya jamu BKO. Salah satunya melalui gerakan Jumat Minum Obat ini. Dengan cara ini bisa dilakukan edukasi pada masyarakat tentang efek jamu BKO, sehingga diharapkan akan mengubah cara berpikir bahwa mengkonsumsi jamu sejatinya untuk pemeliharaan kesehatan, bukan untuk mendapatkan efek instan. Sedangkan untuk UMKM, dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat, mereka dituntut menyediakan obat tradisional yang aman, bermanfaat dan bermutu.
 
Gerakan Jumat Minum Jamu ala Banyuwangi ini memang bukan ide orisinil. Sebelumnya, Puan Maharani selaku Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sudah memelopori gerakan minum jamu setiap Jumat di kementerian-kementerian. Tujuannya agar jamu bisa mendunia dan tidak punah.
Saya sangat berharap seluruh kementerian dan lembaga beserta para ahli dan stakeholder terkait, terus mendorong upaya-upaya yang lebih terstruktur dan lebih masif dalam upaya mengembangkan produk Jamu Brand Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar seluruh kebutuhan obat dan bahan obat asli Indonesia dapat menjadi primadona di negeri sendiri," ujar Puan.
Bagaimanapun langkah Pemkab Banyuwangi membuat tradisi minum jamu setiap Jumat harus diapresiasi dan didukung aksi nyata. Jamu asli Indonesia harus diselamatkan sebelum diklaim negara lain. Jika Puan Maharani memelopori gerakan "Bude Jamu" (bugar dengan jamu) dalam tataran kementerian, Pemkab Banyuwangi sudah mencangkan jamu gendong bisa menjadi welcome drink dalam setiap acara yang digelar di Banyuwangi.

Jika semua daerah melakukannya secara bersama, maka kita bisa berharap jamu Indonesia akan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Ayo minum jamu! (TS)


loading...

Back To Top