![]() |
| Ilustrasi |
Banyuwangi tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya. Di balik pesona pantai, gunung, dan budayanya, kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini juga tengah mengembangkan wisata literasi sebagai alternatif aktivitas edukatif yang menarik bagi masyarakat maupun wisatawan.
Banyuwangi Bukan Hanya Wisata Alam, tetapi Juga Destinasi Wisata Literasi
Ketika berbicara tentang Banyuwangi, banyak orang langsung teringat pada Kawah Ijen, Pantai Pulau Merah, atau Taman Nasional Alas Purwo.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Banyuwangi juga mulai dikenal sebagai daerah yang serius mengembangkan budaya literasi melalui berbagai ruang belajar, taman baca, perpustakaan, komunitas, hingga pusat literasi modern.
Konsep ini dikenal sebagai wisata literasi, yaitu kegiatan wisata yang menggabungkan rekreasi dengan aktivitas belajar, membaca, berdiskusi, mengenal budaya, sejarah, dan berbagai pengalaman edukatif lainnya.
Wisata literasi tidak hanya berfokus pada buku, tetapi juga mengajak pengunjung memahami lingkungan, tradisi, dan pengetahuan lokal secara langsung.
Bagi wisatawan yang ingin mendapatkan pengalaman berbeda saat berkunjung ke Banyuwangi, wisata literasi menawarkan cara baru untuk mengenal daerah ini lebih dalam.
Apa Itu Wisata Literasi?
Wisata literasi merupakan konsep perjalanan yang memadukan kegiatan rekreasi dengan aktivitas belajar dan pengembangan wawasan.
Tidak seperti wisata pada umumnya yang berfokus pada hiburan atau keindahan alam, wisata literasi mengajak pengunjung untuk memperoleh pengalaman baru melalui membaca, berdiskusi, mengikuti pelatihan, mengenal budaya lokal, hingga praktik langsung di lapangan.
Menurut Rumah Literasi Indonesia (RLI), wisata literasi merupakan kegiatan edukatif yang dirancang melalui pengalaman langsung, pelatihan, kunjungan lapangan, serta aktivitas kreatif yang mendorong peserta untuk belajar secara menyenangkan.
Wisata literasi memiliki cakupan yang luas, antara lain:
- Mengunjungi perpustakaan dan taman baca.
- Mengikuti bedah buku dan diskusi literasi.
- Mengunjungi museum dan situs sejarah.
- Mengikuti workshop kerajinan atau budaya lokal.
- Belajar tentang lingkungan dan pertanian.
- Mengikuti kegiatan komunitas pendidikan.
- Mengenal sejarah dan kearifan lokal suatu daerah.
Melalui pendekatan ini, proses belajar tidak terasa seperti berada di ruang kelas, melainkan menjadi bagian dari pengalaman wisata yang menyenangkan.
Mengapa Wisata Literasi Semakin Diminati?
Perkembangan wisata literasi sejalan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pengalaman wisata yang lebih bermakna.
Banyak wisatawan kini mencari aktivitas yang tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menambah wawasan dan keterampilan.
Beberapa manfaat wisata literasi antara lain:
- Meningkatkan minat baca dan budaya belajar.
- Menambah pengetahuan tentang lingkungan dan budaya lokal.
- Mengembangkan kreativitas dan keterampilan praktis.
- Menjadi sarana edukasi yang menyenangkan bagi anak-anak dan keluarga.
- Mendukung pengembangan komunitas dan ekonomi kreatif setempat.
Karena itulah, berbagai daerah di Indonesia mulai mengembangkan ruang-ruang literasi sebagai bagian dari daya tarik wisata mereka, termasuk Banyuwangi.
Gramedia Banyuwangi, Ikon Baru Wisata Literasi di Tengah Kota
![]() |
| Toko buku Gramedia Banyuwangi, mengembangkan wisata literasi (Banyuwangikab.go.id) |
Perkembangan wisata literasi Banyuwangi mendapat dorongan baru dengan hadirnya Gramedia di kawasan NX Point, Jalan Kepiting, Kelurahan Sobo, yang resmi dibuka pada 15 Juni 2026.
Kehadiran Gramedia tidak hanya menambah akses masyarakat terhadap buku dan bahan bacaan berkualitas, tetapi juga menghadirkan ruang publik yang nyaman untuk belajar, berdiskusi, bekerja, maupun berinteraksi dengan komunitas.
Konsep modern yang memadukan toko buku, area membaca, working space, dan coffee shop menjadikan tempat ini menarik bagi pelajar, mahasiswa, pekerja kreatif, maupun wisatawan yang ingin menikmati suasana literasi di tengah kota.
Ke depan, ruang seperti ini berpotensi menjadi titik temu berbagai kegiatan literasi, mulai dari peluncuran buku, temu penulis, workshop kreatif, hingga kegiatan komunitas.
Konsep tersebut menjadikan Gramedia sebagai destinasi yang cocok bagi pelajar, mahasiswa, pekerja kreatif, maupun wisatawan yang ingin menikmati suasana berbeda di tengah kota.
Pada masa pembukaannya, Gramedia Banyuwangi juga menghadirkan berbagai kegiatan seperti:
- Temu penulis.
- Diskusi buku.
- Lomba mewarnai anak.
- Permainan edukatif.
- Demonstrasi produk kreatif.
Kegiatan semacam ini memperlihatkan bahwa ruang literasi modern dapat menjadi destinasi wisata edukatif yang menarik bagi keluarga.
Rumah Literasi Indonesia Kalipuro, Pelopor Wisata Literasi Banyuwangi
![]() |
| Salah satu kegiatan di Rumah Literasi Indonesia Banyuwangi (via Google maps) |
Meski Gramedia menjadi wajah baru literasi di pusat kota, Banyuwangi sebenarnya telah lebih dahulu memiliki destinasi wisata literasi berbasis komunitas, yakni Rumah Literasi Indoneisa (RLI).
Rumah Literasi Indonesia (RLI) yang berlokasi di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, telah berdiri sejak tahun 2014 dan berkembang menjadi salah satu gerakan literasi yang cukup dikenal di Banyuwangi.
Rumah Literasi Indonesia yang berada di Dusun Gunung Remuk, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, telah berdiri sejak 2014 dan berkembang menjadi salah satu gerakan literasi komunitas yang cukup dikenal di Indonesia.
Yang membuat RLI unik adalah pendekatannya yang tidak hanya berfokus pada membaca buku.
Literasi di sini dipadukan dengan aktivitas kehidupan sehari-hari, lingkungan, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Beberapa kegiatan yang pernah dikembangkan antara lain:
- Membaca dan berdiskusi bersama.
- Wisata edukasi pertanian.
- Program Rumah Sayur.
- Program Rumah Lobster.
- Pelatihan kewirausahaan UMKM.
- Workshop kerajinan tangan.
- Kegiatan memasak bersama.
- Trekking dan eksplorasi lingkungan.
Melalui pendekatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan dari buku, tetapi juga dari pengalaman nyata yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Lokasi Rumah Literasi Indonesia Banyuwangi
Mengunjungi Museum Blambangan, Melengkapi Pengalaman Wisata Literasi
![]() |
| Salah satu ruang di Museum Blambangan (via Google maps) |
Bagi wisatawan yang ingin memperdalam pengetahuan tentang sejarah Banyuwangi, perjalanan wisata literasi dapat dilanjutkan ke Museum Blambangan.
Museum yang berada di kawasan pusat kota ini menjadi salah satu tempat terbaik untuk mengenal perjalanan panjang Banyuwangi dari masa ke masa.
Lokasinya yang mudah dijangkau membuat museum ini sangat cocok dimasukkan ke dalam agenda wisata edukasi keluarga maupun pelajar.
Di museum ini, pengunjung dapat menemukan berbagai koleksi yang berkaitan dengan:
- Sejarah Kerajaan Blambangan.
- Artefak arkeologi dan benda bersejarah.
- Tradisi masyarakat Banyuwangi.
- Perkembangan budaya Osing.
- Koleksi etnografi dan peninggalan lokal.
- Informasi tentang perjalanan sosial budaya masyarakat Banyuwangi.
Kunjungan ke Museum Blambangan memberikan perspektif yang lebih luas tentang identitas Banyuwangi sebagai daerah yang kaya sejarah dan budaya.
Pengalaman ini melengkapi wisata literasi yang sebelumnya berfokus pada buku dan komunitas.
Banyuwangi Sedang Membangun Ekosistem Literasi
Keberadaan Gramedia dan Rumah Literasi Indonesia menunjukkan bahwa Banyuwangi sedang membangun ekosistem literasi yang kuat dari berbagai sisi.
Di pusat kota, masyarakat memperoleh akses terhadap ruang baca modern, buku-buku terbaru, dan kegiatan kreatif.
Sementara itu, di Kalipuro, masyarakat dapat merasakan pengalaman wisata literasi berbasis komunitas yang menyatu dengan alam dan kehidupan sehari-hari.
Kedua model ini saling melengkapi dan memperkaya pilihan wisata edukatif di Banyuwangi.
Aktivitas Wisata Literasi yang Bisa Dicoba di Banyuwangi
Jika Anda tertarik mencoba wisata literasi, berikut beberapa aktivitas yang dapat dilakukan saat berkunjung ke Banyuwangi:
- Berburu buku dan mengikuti diskusi di Gramedia Banyuwangi.
- Mengikuti program wisata literasi di Rumah Literasi Indonesia.
- Mengunjungi perpustakaan daerah dan taman baca masyarakat.
- Mengikuti pelatihan menulis atau workshop kreatif.
- Menghadiri bedah buku dan temu komunitas.
- Mengikuti kegiatan edukasi lingkungan dan pertanian.
- Mengenal UMKM lokal melalui program pembelajaran berbasis komunitas.
Rekomendasi Itinerary Wisata Literasi Sehari di Banyuwangi
Bagi wisatawan yang ingin mencoba wisata literasi, berikut contoh agenda satu hari:
Pagi
- Berkunjung ke Museum Blambangan.
- Mengenal sejarah Kerajaan Blambangan dan budaya Osing.
- Mendokumentasikan koleksi museum dan mengikuti tur edukasi jika tersedia.
Siang
- Makan siang di pusat kota Banyuwangi.
- Mengunjungi Gramedia Banyuwangi.
- Berburu buku tentang sejarah, budaya, dan pariwisata Banyuwangi.
Sore
- Bersantai sambil membaca di area coffee shop dan ruang baca.
- Mengikuti diskusi komunitas atau kegiatan literasi jika sedang berlangsung.
Alternatif Akhir Pekan
- Mengunjungi Rumah Literasi Indonesia di Kalipuro.
- Mengikuti program wisata edukasi berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Banyuwangi, Destinasi Wisata yang Tidak Hanya Menghibur tetapi Juga Mencerdaskan
Selama ini Banyuwangi dikenal melalui destinasi populer seperti Kawah Ijen, Pantai Pulau Merah, dan Taman Nasional Alas Purwo.
Namun perkembangan wisata literasi menunjukkan bahwa daya tarik Banyuwangi tidak hanya terletak pada keindahan alamnya.
Melalui ruang-ruang literasi yang terus tumbuh, Banyuwangi menghadirkan pengalaman wisata yang lebih mendalam.
Wisatawan tidak hanya pulang membawa foto dan kenangan, tetapi juga pengetahuan, inspirasi, serta pengalaman belajar yang bermanfaat.
Melalui perpaduan antara buku, komunitas, sejarah, budaya, dan pengalaman belajar langsung, Banyuwangi sedang membangun identitas baru sebagai destinasi yang tidak hanya menarik untuk dikunjungi, tetapi juga menginspirasi untuk dipelajari.
Jika tren ini terus berkembang, bukan tidak mungkin Banyuwangi akan dikenal sebagai salah satu destinasi wisata literasi terbaik di Indonesia—tempat di mana membaca, belajar, berkarya, dan berwisata dapat berjalan beriringan.





0 komentar:
Posting Komentar