![]() |
| Tradisi Barong Ider Bumi di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi (via Banyuwangikab.go.id) Banyuwangi dikenal sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal. Di antara sekian banyak warisan budaya yang masih hidup hingga hari ini, Barong Ider Bumi menjadi salah satu yang paling menarik perhatian. Tradisi sakral suku Osing yang digelar di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi ini bukan hanya sekadar pertunjukan budaya, tetapi juga ritual turun-temurun yang sarat nilai spiritual, sosial, dan sejarah. Setiap kali tradisi ini digelar, suasana Desa Kemiren berubah menjadi sangat meriah. Ribuan warga lokal dan wisatawan memadati sepanjang jalan desa untuk menyaksikan arak-arakan barong yang menjadi inti prosesi. Di balik kemeriahan itu, tersimpan makna mendalam tentang doa keselamatan, rasa syukur, dan harapan agar desa selalu dijauhkan dari marabahaya. Tradisi Sakral yang Menjadi Identitas Masyarakat Osing |
![]() |
| Arak-arakan Barong Ider Bumi di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi 2026 (via RadarBanyuwangi) |
Barong Ider Bumi merupakan salah satu tradisi penting dalam kehidupan masyarakat Osing di Banyuwangi.
Tradisi ini digelar setiap hari kedua Idulfitri atau 2 Syawal. Bagi masyarakat Desa Kemiren, perayaan ini bukan hanya agenda budaya tahunan, melainkan bagian dari identitas spiritual dan sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam pelaksanaannya, tradisi ini memadukan unsur ritual, doa, simbol budaya, dan kebersamaan warga.
Kehadiran barong yang diarak keliling desa dipercaya memiliki kekuatan simbolik sebagai penjaga kampung, penolak bala, serta lambang perlindungan bagi seluruh masyarakat.
Selain itu, tradisi ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat Osing tetap menjaga harmoni antara adat, agama, dan kehidupan sosial.
Di tengah perubahan zaman, Barong Ider Bumi tetap bertahan sebagai bukti bahwa budaya lokal masih memiliki tempat yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi.
Asal-Usul Barong Ider Bumi
Menurut penuturan tokoh adat Osing Desa Kemiren, tradisi Barong Ider Bumi telah ada sejak sekitar tahun 1840-an.
Pada masa itu, Desa Kemiren dikisahkan mengalami masa sulit akibat wabah penyakit dan gagal panen yang disebabkan oleh serangan hama. Kondisi tersebut membuat warga hidup dalam kekhawatiran dan keresahan.
Sebagai bentuk ikhtiar spiritual, masyarakat kemudian melaksanakan ritual khusus untuk memohon keselamatan kepada Sang Pencipta.
Prosesi ini dipercaya sebagai upaya tolak bala agar desa kembali tenteram dan terhindar dari musibah. Sejak saat itulah, Barong Ider Bumi terus dilestarikan dan menjadi tradisi yang tidak pernah terputus sampai sekarang.
Dari masa ke masa, tradisi ini bukan hanya bertahan sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga berkembang menjadi salah satu ikon budaya Banyuwangi yang paling dikenal luas.
Keberadaannya menunjukkan bahwa masyarakat Osing memiliki ikatan kuat dengan leluhur dan nilai-nilai tradisi yang diwariskan.
Makna Barong Ider Bumi bagi Masyarakat Kemiren
Bagi masyarakat Osing, Barong Ider Bumi bukan sekadar pertunjukan arak-arakan. Tradisi ini mengandung makna yang sangat dalam sebagai simbol tolak bala, perlindungan, dan ungkapan rasa syukur atas karunia Tuhan.
Barong yang diarak keliling desa dipercaya sebagai lambang penjaga dan pengayom masyarakat.
Dalam kepercayaan lokal, kehadirannya memberikan kekuatan batin dan rasa aman bagi warga desa.
Sementara itu, prosesi ritual yang menyertainya menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia selalu bergantung pada kehendak Tuhan dan harus dijalani dengan rasa syukur.
Makna lain yang tak kalah penting adalah semangat kebersamaan. Tradisi ini melibatkan banyak pihak, mulai dari tokoh adat, pemerintah desa, aparat daerah, hingga masyarakat umum.
Semua bergotong royong menjaga agar prosesi berlangsung khidmat dan tertib.
Hal ini menjadikan Barong Ider Bumi bukan hanya ritual sakral, tetapi juga perayaan persatuan sosial.
Prosesi Pelaksanaan Barong Ider Bumi
![]() |
| Prosesi Sembur Utik-Utik, menegas beras kuning dan koin, mengawali Barong Ider Bumi (via Facebook) |
Barong Ider Bumi dilaksanakan melalui beberapa rangkaian ritual yang penuh makna. Prosesi dimulai dengan sembur utik-utik, yaitu ritual menebar beras kuning dan koin kepada masyarakat. Kepala desa bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) biasanya ikut dalam prosesi ini.
Beras kuning melambangkan kemakmuran, kesuburan, dan doa untuk keberkahan rezeki. Sementara koin atau uang logam menjadi simbol berbagi rezeki dan rasa syukur atas limpahan berkah yang diterima warga. Ritual ini disambut antusias oleh masyarakat yang hadir, karena selain memiliki nilai spiritual, juga menjadi bagian dari kebersamaan desa.
Setelah itu, barong diarak keliling desa. Prosesi ini diiringi dengan musik tradisional yang menambah suasana sakral sekaligus semarak. Arak-arakan berlangsung menyusuri jalan-jalan utama Desa Kemiren, disaksikan oleh warga dan para wisatawan yang sengaja datang untuk menyaksikan tradisi unik ini.
Di sepanjang prosesi, nuansa budaya Osing sangat terasa. Busana adat, irama musik, suasana desa, dan partisipasi masyarakat membuat tradisi ini menjadi pengalaman budaya yang sangat kuat dan autentik.
Ditutup dengan Selamatan Pecel Pitik
Rangkaian Barong Ider Bumi kemudian ditutup dengan selamatan kampung yang dilakukan secara massal di sepanjang jalan desa.
Salah satu hidangan khas yang menjadi sajian utama dalam penutupan ini adalah tumpeng pecel pitik, kuliner tradisional Banyuwangi yang juga memiliki nilai budaya dan filosofi tersendiri.
| Pecel Pitik (via Facebook) |
Tradisi makan bersama ini bukan sekadar acara penutup, tetapi juga simbol solidaritas dan persaudaraan antarwarga.
Dalam suasana penuh kebersamaan, masyarakat duduk bersama menikmati hidangan sambil merayakan tuntasnya prosesi ritual.
Pecel pitik yang disajikan dalam selamatan ini memperkuat nuansa tradisional khas Osing.
Kehadirannya menegaskan bahwa dalam budaya Banyuwangi, makanan bukan hanya soal konsumsi, tetapi juga bagian dari simbol syukur, doa, dan identitas komunitas.
Barong Ider Bumi sebagai Daya Tarik Wisata Budaya
Seiring waktu, Barong Ider Bumi tidak hanya dipandang sebagai ritual adat, tetapi juga menjadi salah satu daya tarik wisata budaya unggulan Banyuwangi. Tradisi ini kini masuk dalam kalender resmi Banyuwangi Attraction, yang sebelumnya dikenal sebagai Banyuwangi Festival atau B-Fest.
Masuknya tradisi ini dalam kalender event daerah memberi dampak positif bagi pariwisata lokal. Ribuan wisatawan yang hadir tidak hanya menyaksikan ritual, tetapi juga ikut mengenal lebih dekat budaya Osing, kehidupan masyarakat Kemiren, dan kekayaan tradisi Banyuwangi secara keseluruhan.
Bagi daerah, hal ini tentu menjadi nilai tambah karena budaya lokal dapat berperan sebagai magnet wisata. Sementara bagi masyarakat desa, pelestarian tradisi ini juga membuka peluang ekonomi melalui sektor pariwisata, kuliner, dan produk budaya.
Edukasi Budaya untuk Generasi dan Wisatawan
Meski Barong Ider Bumi sudah cukup populer, tidak semua orang memahami makna dan tahapan ritualnya secara utuh.
Karena itu, penting bagi masyarakat dan wisatawan untuk tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi juga sebagai pembelajar budaya.
Kepala Desa Kemiren mengingatkan bahwa banyak orang mengenal nama Ider Bumi, tetapi belum tentu mengetahui rangkaian prosesi dan filosofi di baliknya.
Oleh sebab itu, masyarakat diajak untuk mengikuti setiap tahapan dengan saksama agar dapat memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Pendekatan edukatif ini sangat penting, terutama bagi generasi muda.
Dengan memahami sejarah dan makna Barong Ider Bumi, mereka akan lebih menghargai warisan budaya leluhur dan terdorong untuk ikut menjaga kelestariannya.
Tradisi yang Menyatukan Spiritual, Sosial, dan Budaya
Barong Ider Bumi adalah contoh nyata bagaimana tradisi lokal dapat menggabungkan banyak unsur sekaligus: spiritualitas, sejarah, budaya, dan sosial.
Di satu sisi, tradisi ini merupakan ritual sakral yang dipercaya membawa keselamatan.
Di sisi lain, ia juga menjadi ruang pertemuan warga, sarana pelestarian budaya, dan daya tarik wisata.
Kebertahanan tradisi ini hingga sekarang menunjukkan bahwa masyarakat Osing memiliki komitmen kuat untuk menjaga warisan leluhur.
Di tengah modernisasi dan arus globalisasi, Barong Ider Bumi tetap hidup karena ditopang oleh keyakinan, kebanggaan identitas, dan partisipasi masyarakat.
Penutup
Barong Ider Bumi Banyuwangi bukan hanya tradisi tahunan, melainkan cermin perjalanan panjang masyarakat Osing dalam menjaga warisan budaya dan spiritualitas mereka.
Dari sejarahnya yang berakar pada masa sulit sekitar tahun 1840-an, hingga pelaksanaannya yang kini menjadi magnet wisata budaya, tradisi ini terus menunjukkan daya hidup yang luar biasa.
Melalui arak-arakan barong, sembur utik-utik, dan selamatan pecel pitik, masyarakat Kemiren menyampaikan pesan sederhana namun bermakna: hidup harus dijalani dengan syukur, kebersamaan, dan penghormatan pada nilai-nilai leluhur.
Barong Ider Bumi pun tidak hanya layak dipandang sebagai ritual adat, tetapi juga sebagai simbol kuat bahwa budaya lokal adalah identitas yang harus dijaga, diwariskan, dan dikenalkan kepada dunia.




0 komentar:
Posting Komentar