GELIAT DESA WISATA BANJAR DI KAKI GUNUNG IJEN


Desa Wisata Banjar di Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi sedang berbenah untuk menarik minat wisatawan berkunjung. Terletak di kaki Gunung Ijen, Desa Banjar memiliki daya tarik tersendiri. Selain letaknya yang strategis karena dilewati para wisatawan yang akan mendaki Kawah Ijen, Desa Banjar memiliki potensi alam berupa pemandangan sawah dengan sistem terasiring yang tak kalah memikat dengan desa wisata di Ubud, Bali. Pemandangan  persawahan di Desa Banjar terhampar luas membentang di beberapa dusun dan antara dusun satu dengan yang lain biasanya dipisahkan oleh sungai. Ditambah lagi banyaknya pohon buah yang tersebar di setiap kebun warga, seperti Durian, Manggis, Rambutan, Kelapa muda, bahkan Pala. Ini menjadi nilai tambah lain dari Desa Banjar.
Wisata Desa Banjar di Kec. Licing, Banyuwangi.
Pemandangan sawah terasiring di Desa Banjar, Kec. Licin, Banyuwangi (sumber : Banyuwangi.merdeka.com)
Peluang ini lah yang ditangkap oleh pemuda Karang Taruna Pemuda Kreatif (Pemtif). Pihak perangkat desa setempat pun mendukung ide memoles Desa Banjar menjadi sebuah desa wisata.
Mereka pun bersepakat untuk membuat jalur tracking melewati persawahan milik warga, agar bisa menjual pemandangan yang tak kalah dengan desa wisata di Ubud, Bali. Jalur yang di tempuh pun bervariasi. Yaitu jalur terpanjang (5 kilometer), menengah dan pendek.
Desa Banjar, Kec. Licin.
Pemandangan desa Banjar (sumber : Banyuwangi.merdeka.com)

Selain menyuguhkan bentangan sawah terasiring, masyarakat Desa Banjar juga memiliki tradisi pembuatan gula aren yang masih tradisional ditambah adanya legenda rakyat yang menarik dibaliknya. Apalagi desa ini juga mewarisi tradisi seni budaya khas suku Using.

TRADISI MISTIS SADAP NIRA DESA BANJAR
Masyarakat suku Using Desa Banjar yang agraris, memiliki tradisi menyadap nira atau aren yang unik dan mistis.

Ketika menyadap nira, mereka melakukan prosesi yang dibumbui nilai mistis khas using. Saat menyadap pohon aren, warga Desa Banjar diwajibkan memakai baju hitam sambil menyanyikan kidung dan mantra khusus. Dengan memakai baju hitam dan bernyanyi, mereka percaya pohon aren ini bisa meneteskan niranya dengan deras. Sebaliknya jika mereka tidak melakukan hal itu, air nira yang akan disadap tidak akan keluar.

Ritual penyadapan nira biasanya dilakukan pada sore hari sekitar pukul 15.00 dengan menyiapkan bambu untuk menampung air nira yang disebut Denden Nira. Denden Nira ini sebelumnya telah diasapi dulu agar nira yang dihasilkan tidak berasa kecut atau asam.

Selanjutnya dilakukan muket atau mengikat kembang nira, lalu ngenyun atau mengayun kembang nira tersebut seperti mengayun bayi. Sambil diayun penyadap nira akan menyanyikan kidung-kidung dan mantra agar pohon nira mengeluarkan air yang banyak.


Ritual selanjutnya adalah ‘malu' atau memukul bagian bunga nira lalu dipotong atau 'ngiris' dan air yang keluar ditampung dalam Denden Nira. Jika dipasang jam 3 sore, maka hasil nira dalam bambu tersebut bisa diambil jam 6 pagi keesokan harinya.

Setelah nira berhasil dikumpulkan, selanjutnya akan dimasak dan diolah secara tradisional menjadi berbagai makanan dan minuman manis.

Proses pengolahan nira dimulai dengan menuangkan nira ke dalam wajan besi di atas tungku api yang menyala. Selanjutnya bagian dalam denden nira atau bambu tempat menampung cairan nira diasapi dengan asap dari tungku. Proses ini disebut nyorog atau mengasapi bambu tempat air sebelum digunakan lagi. Air nira tersebut dipanaskan selama 4 sampai 5 jam hingga mengental 
Pembuatan gul aren yang masih tradisional (sumber : Banyuwangi.merdeka.com)
Uniknya, nira ini bisa dinikmati dalam setiap tahapan olahannya. Saat masih berupa nira, bisa dinikmati sebagai minuman Mentak (air gula aren). Cara memasak niranya masih tradisional. Nira dimasukkan kuali besar di atas tungku kayu dan dimasak hingga kental. Nira yang sudah mendidih ini bisa langsung dinikmati yang disebut Sajeng, atau berupa nira kental yang biasa disebut dengan Ketek Banyu atau Ketek Semut. Nira yang mengental ini selanjutnya dicetak dengan cetakan bambu kecil yang dipotong-potong yang disebut Kerek.
Kuliner desa wisata Banjar, Banyuwangi.
Kentalan nira dicampur dengan kelapa parut, lezatnya. (sumber : Kompas.com)
Kentalan nira ini sangat enak dinikmati dengan dicampur kelapa parut. Selain itu, kentalan gula ini bisa dicetak bulat-bulat ditaburi kacang. Bisa juga kentalan gula ini untuk pelengkap minum kopi pahit dengan cara menggigit gula tersebut, bukan mencampurnya.

LEGENDA RONDO RENI
Konon tradisi menyadap nira itu berawal dari sebuah legenda yang mengisahkan seorang Rondo (janda) bernama Reni yang sangat mencintai anak lelaki satu-satunya. Namun karena suratan takdir, Rondo Reni meninggal dunia. Tak kuasa menahan sedih ditinggal ibunya, sang anak terus menangis di makam ibunya.

Saat mengadukan kelangsungan nasibnya tersebut, tiba-tiba ada seekor burung gagak di atasnya. Melihat gagak tersebut, si anak itu takut sehingga dilempar lah burung itu. Lemparan sang anak tersebut malah mengenai batang pohon aren di sebelahnya.

Bekas lemparan pohon tersebut ternyata meneteskan air. Saat dijilat airnya manis, sang anak terpikir untuk menyadap air pohon aren dan dijadikan nira dan gula aren hingga sekarang. Legenda ini dikisahkan oleh Mohamad Lutfi, Camat Licin.

Namun, ternyata ada versi legenda Rondo Reni yang sedikit berbeda. Versi ini meniadakan tentang burung gagak. Diceritakan ketika si janda meninggal dunia hingga harta benda yang dimiliki si anak pun lambat laun mulai habis. Dalam masa sulit itulah kemudian si anak berkunjung ke makam ibunya.

Sesampainya di makam sang ibu, si anak terkejut dengan adanya pohon aren. Anak tersebut pun mengambil batu dan melemparkannya ke arah buah aren berada di atasnya. Hingga ketiga kalinya ia melempar batu tersebut, tiba-tiba meneteslah air. Anak tersebut semakin terkejut ketika lidahnya merasakan rasa manis dari air cucuran buah yang dilemparkan tadi. Berjalannya waktu, air manis yang tumbuh dari pohon aren di makam sang ibu tadi menjadi sumber penghasilan anak tersebut karena ia berhasil mengolahnya menjadi gula aren.

Meskipun sedikit berbeda versi, namun masyarakat setempat meyakini bahwa kisah tentang Rondo Reni tersebut bukan cerita rekaan. Bisa jadi kisah tentang Rondo Reni dan asal mula tradisi sadap nira di Desa Banjar itu benar adanya, namun versi ceritanya telah berkembang sedemikian rupa di masyarakat, diceritakan secara turun-temurun secara lisan, sehingga ada lebih dari satu versi cerita. 

Berawal dari tradisi sadap nira ini, masyarakat Desa Banjar kemudian mengangkatnya dalam sebuah event yang bertajuk Using Culture Festival yang digelar Sabtu (7/5/2016), yang masih merupakan rangkaian perhelatan Banyuwangi Festival 2016.

Festival akan diawali dengan trekking mengelilingi Desa Banjar lalu pengunjung diajak menyaksikan masyarakat yang menyadap nira serta melihat pagelaran sendratari Legenda Sadap Nira. Selain itu, pengunjung festifal yang baru pertama diadakan ini juga akan diajak untuk melihat proses memasak nira dan mengolahnya menjadi berbagai makanan yang siap saji. Pengunjung juga diajak menikmati keunikan Kopi Uthek Gula Aren yang disajikan dengan gule merah asli serta jajanan khas Desa Banjar, seperti bolu kuwuk, jenang procot, iwel-iwel dan kulupan sawi (singkong yang dibalut gula aren).
Jajanan khas desa Banyuwangi.
Salah satu jajanan khas Desa Banjar dari gula aren (sumber : Detik.com)

RUTE MENUJU DESA BANJAR KECAMATAN LICIN
Dari pusat kota Banyuwangi menuju Desa Banjar, Kecamatan Licin, jaraknya hanya sekitar 15 km. Bisa dicapai dengan kendaraan roda dua maupun empat karena jalannya sudah beraspal mulus. Letaknya di tengah perjalanan menuju ke Kawah Ijen dari Banyuwangi kota, sehingga bagi pendaki Kawah Ijen bisa mampir sejenak setelah melakukan pendakian. Dari Paltuding, Desa Banjar jaraknya hanya sekitar 19 KM.

  
#updated.



loading...

Back To Top