NAPAK TILAS PUPUTAN BAYU, REFLEKSI PERANG PUNGKASAN RAKYAT BLAMBANGAN MELAWAN PENJAJAH BELANDA


Setiap tahun warga Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi menggelar acara Napak Tilas Puputan Bayu untuk mengenang perjuangan heroik laskar kerajaan Blambangan - yang merupakan cikal bakal Kabupaten Banyuwangi - berperang melawan penjajah Belanda pada tahun 1771 lalu. Bagi Pemda Banyuwangi napak tilas ini dimaknai sebagai wujud meningkatkan patriotisme dan semangat pahlawan melawan penjajah. Sebuah ajang refleksi pembelajaran sejarah yang tentunya sangat diperlukan bagi generasi masa kini.
Napak tilas perang Puputan Bayu, Songgon, Bayuwangi.
Courtesy film Puputan (sumber :Harianjambi.com)
Selain warga setempat, napak tilas juga diikuti peserta yang datang dari berbagai wilayah Banyuwangi, yang berasal dari berbagai elemen, mulai dari dinas/instansi, pelajar, mahasiswa dan umum.

Peserta napak tilas terdiri perorangan maupun beregu menyusuri sepanjang jalur perang Puputan Bayu. Setiap tahun jarak tempuhnya bisa berubah, sesuai dengan pertimbangan tertentu.
Untuk tahun 2015 peserta menempuh jarak 9 kilometer yang terdiri dari 2 kilometer jalan aspal dan 7 kilometer jalan setapak ditengah hutan, dimulai dari kantor Kecamatan Songgon dan berakhir di kawasan wana wisata Rowo Bayu, di Desa Bayu, Songon.
Wisata Banyuwangi
Kirab pusaka (sumber : Detik.com)
Selain itu ada yang berbeda dalam acara napak tilas perang Puputan Bayu. Bersamaan dengan acara tersebut, warga Desa Bayu, Kecamatan Songgon menggelar kirab pusaka perang dan kirab tumpeng hasil bumi. Kirab ini menempuh 3 kilometer, juga di finish di petilasan Prabu Tawangalun, yang berada di wana wisata Rowo Bayu.

Terdapat ratusan pusaka yang dikirab, terdiri dari keris, tombak. Kesemua pusaka tersebut merupakan warisan leluhur yang digunakan saat perang Bayu. 

Perang Puputan Bayu


Perang Puputan Bayu terjadi pada Agustus 1771 sampai Desember 1772, tercatat sebagai puncak perlawanan prajurit Blambangan terhadap Belanda. Dalam Bahasa Osing, puput mempunyai arti habis, puputan berarti habis-habisan, maka Perang Puputan Bayu berarti perang habis-habisan di daerah Bayu, yang sekarang masuk wilayah administratif Kecamatan Songgon, Banyuwangi.

Perang Puputan Bayu yang merupakan perlawanan rakyat Blambangan terhadap kolonialisme Belanda tercatat sebagai perang terkejam dan brutal  yang pernah terjadi sepanjang sejarah Indonesia. Pihak Belanda sendiri mengakui bahwa ini merupakan peperangan yang sangat menegangkan, paling kejam, dan paling banyak memakan korban jiwa dan harta benda dari semua peperangan yang pernah dilakukan Belanda di Indonesia.

Tindakan Belanda yang sewenang-wenang dan kejam menyebabkan kebencian rakyat dimana-mana. Pejuang Blambangan Jagapati menghimpun rakyat Blambangan di benteng Bayu. Ribuan penduduk rela meninggalkan desa mereka untuk bergabung dengan Jagapati.

Puncaknya pada tanggal 18 Desember 1771, para pejuang Blambangan melakukan serangan umum secara Puputan atau habis-habisan terhadap Belanda. Pertempuran berkobar di Songgon dan Susukan mengakibatkan kekalahan pasukan VOC dan terbunuhnya letnan Reigers. Namun pertempuran paling brutal belum lagi pecah. Pada serangan terhadap pasukan VOC kedua di bulan yang sama, penyergapan mendadak yang dilakukan para pejuang Bayu bersamaan dengan deras hujan menyebabkan pasukan VOC yang dikomandani Vaandrig Schaar menderita kekalahan parah.

Para prajurit Blambangan maju ke medan perang secara serentak dengan  berteriak-teriak histeris untuk membangun semangat juang mereka dan meruntuhkan semangat musuh, dengan membawa senjata apa adanya seperti keris, golok, pedang, tombak, dan senjata api yang mereka peroleh dari hasil rampasan dari tentara VOC atau yang di dapat dari orang-orang inggris yang telah membuka kantor dagangnya di Tirtaganda.

Pangeran Repeg Jagapati memimpin  peperangan ini, namun ia gugur akibat luka-luka dalam perang Puputan Bayu ini.

Dalam  peperangan ini pasukan VOC benar-benar di hancur luluhkan. Sebagian dari mereka digiring ke parit-parit jebakan yang telah sengaja dibuat oleh pejuang- pejuang Blambangan untuk kemudian menghujaminnya dengan senjata dari atas.

Vaandrig Schaar yang merupakan komandan pasukan VOC, Letnan Kornet Tinned dan tak terhitung banyaknya tentara Belanda lainnya yang terbunuh dalam  peperangan tersebut. Kepala Schaar dipotong, kemudian ditancapkan pada ujung tombak dan diarak keliling desa-desa.

Setelah itu Belanda melakukan cooling down sambil menunggu bantuan tenaga dan amunisi sebelum melakukan serangan balasan besar-besaran.

Pada tanggal 11 Oktober 1772 Belanda melakukan serangan mengejutkan. Bayu digempur habis-habisan dengan tembakan-tembakan meriam oleh Belanda. Heinrich dengan 1.500 pasukannya menerobos dan meyerang benteng Bayu dari sayap kiri.

Melalui pertempuran sengit akhirnya Bayu dapat direbut VOC. Para pejuang Bayu yang tertangkap diperintahkan oleh Heinrich untuk dibunuh. Kemudian kepalanya dipotong dan digantung di pohon- pohon atau ditancap-tancapkan di tonggak pagar di sepanjang jalan desa.

Itulah akhir dari sebuah peperangan habis-habisan yang sangat mengerikan yang telah merenggut ribuan bahkan puluhan ribu korban. Baik dari pihak musuh dan terutama dari pihak rakyat Blambangan. Sebanyak 60 ribu rakyat Blambangan gugur, padahal jumlah penduduk Blambangan ketika itu tak lebih dari 65 ribu orang.

Dalam dokumen yang ditulis J.K.J. de Jonge pada 1883, yang mengutip surat Gubernur Jenderal Reiner de Klerk kepada pemimpin VOC tertanggal 31 Desember 1781, Puputan Bayu yang berlangsung sekitar 1 tahun 4 bulan itu membuat pemerintah kolonial Belanda harus mengeluarkan dana yang luar biasa besar. Setidaknya dana yang dikeluarkan setara dengan 80 ton emas.

Setelah Puputan Bayu, wilayah Blambangan (Banyuwangi) menjadi lengang. Disamping amuk kematian yang disebabkan oleh bedil VOC, juga kelaparan, wabah penyakit, dan migrasi besar-besaran orang Blambangan ke luar  daerah merupakan faktor berkurangnya jumlah penduduk Blambangan.

Akhir tahun 1772 penduduk Blambangan tinggal 3.000 jiwa atau 8,3% dari jumlah penduduk yang ada sebelum pendudukan Belanda.

Akhirnya, berdasarkan kisah pertempuran Puputan Bayu tersebut, DPRD Banyuwangi pada sidangnya tanggal 9 Mei 1995 lewat cara aklamasi menetapkan 18 Desember sebagai hari jadi Banyuwangi. Jadilah napak tilas Puputan Bayu diselenggarakan sebagai rangkaian kegiatan hari jadi Kabupaten Banyuwangi.

Sumber :
- http://lepasparagraf1.blogspot.co.id/2011/03/petaka-blambangan-puputan-bayu-minak.html
- http://harianjambi.com/berita-laskar-tangguh-dari-ujung-timur-jawa.html
- http://www.academia.edu/7512680/Perang_Puputan_Bayu_Di_Blambangan_Pada_1771
- http://banyuwangikab.go.id/berita-daerah/ribuan-orang-napak-tilas-susuri-jalur-perang-puputan-bayu.html
- https://news.detik.com/berita-jawa-timur/3094611/masyarakat-banyuwangi-gelar-napak-tilas-dan-kirab-pusaka

Napak tilas Puputan Bayu 2015.


loading...

Back To Top