HANYA ADA DI BANYUWANGI, PENYU BERTELUR DI TENGAH KOTA


Di Banyuwangi Penyu Bertelur ditengah Kota - Sebutan Banyuwangi Kota Penyu bukanlah basa-basi dan bisa dibuktikan. Ayo ke Banyuwangi kalau tidak percaya!

Banyuwangi yang memiliki garis pantai sepanjang 175 km memang ideal sebagai salah satu tempat penyu bertelur. Data menunjukkan dari 7 jenis penyu yang terdapat di dunia, 4 diantaranya terdapat di Banyuwangi. Yaitu penyu hijau (Chelonia mydas), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricate), dan penyu lekang (Lepidochelys olivace). Keempat jenis penyu itu hidup di pantai-pantai yang ada di Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) dan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Terutama di pantai Ngagelan dan Sukamade.
Penyu bertelur di Pantai Boom Banyuwangi.
Warga menyaksikan penyu bertelur di bawah payung wisata Pantai Boom Banyuwangi. (foto : www.jawapos.com) 
Selain 2 tempat itu, penyu memilih Pantai Boom sebagai tempat bertelur. Kejadian ini diluar dugaan banyak orang karena dianggap menyimpang dari pakem habitat penyu yang menyukai tempat yang terpencil, sepi dan bersih untuk bertelur. Sedangkan pantai Boom letaknya saja di tengah kota Banyuwangi, dekat dengan pemukiman penduduk dan setiap hari riuh dengan keramaian. Karena memang pantai Boom termasuk salah satu lokasi wisata favorit warga kota Banyuwangi. Benar-benar suatu keajaiban!
Wisatawan bule ikut menyaksikan penyu bertelur di Pantai Boom (foto : www.bstf.org)
Aneh namun kalau diruntut kebelakang,  sejatinya sejak puluhan tahun lalu saat kondisi Banyuwangi belum seperti sekarang, pantai Boom telah menjadi tempat pendaratan penyu. Bisa jadi penyu-penyu yang sekarang bertelur di pantai ini dulu induknya pernah bertelur disini. Penyu memang memiliki ingatan yang kuat, mereka cenderung mengingat tempat dimana mereka menetas. Penyu dewasa selalu kembali ke tempat dimana dia dulu menetas untuk bertelur. Pola ini akan diikuti oleh “keturunannya”. Setelah telur tersebut menetas, maka lahirlah tukik (sebutan anak penyu) yang kelak setelah dewasa dan memasuki masa reproduksi, akan mencari tempat dimana dulu ia “dilahirkan”. Namun dengan syarat, jika lingkungan tempat tersebut telah rusak dan tercemar, maka kemungkinan besar penyu tidak akan kembali dan mencari tempat lain.
Warga dan para relawan memindahkan telur penyu yang masih fresh di Pantai Boom. (foto : www.jpnn.com)
Bagaimana cara penyu mengetahui tempat kelahirannya, memang masih jadi misteri, karena sejak tukik menjadi dewasa, ia telah mengarungi lautan luas selama berpuluh-puluh tahun sebelum akhirnya ia memasuki usia reproduksi. Sedangkan jumlah pantai di dunia ini jumlahnya sangat banyak. Diperkirakan secara instintif  tukik telah menandai pantai kelahirannya sebelum ia melakukan pengembaraan di lautan. Penyu dapat kembali ke tempat mereka menetas sebelumnya dengan cara mengikuti medan magnet bumi. Namun belum diketahui, faktor apa yang membuat penyu-penyu ini dapat mengenali medan magnet bumi. 

Misalnya  pola migrasi yang dilakukan penyu Tempayan. Berdasarkan penelitian, penyu jenis itu melakukan migrasi dengan menggunakan isyarat magnetik yang mirip kompas. Dengan isyarat magnetik dari medan magnet bumi yang dipunyainya itu, maka selain bisa menentukan garis lintang, mereka pun mampu menentukan garis bujur juga. Begitu juga dengan penyu hijau yang pola migrasinya pernah diteliti oleh WWF  (World Wildlife Fund) dengan memasang penjejak satelit pada tubuh penyu. Dari perairan Indonesia, penyu tersebut berbelok ke perairan Australia Barat. Mereka akan kembali ke tempat kelahirannya untuk bertelur kembali tanpa tersesat meski tanpa petunjuk. Inilah keunikan dan kelebihan penyu.

Nah jika sekarang Pantai Boom menjadi tempat penyu menetas, ini berarti dulunya Pantai Boom pernah menjadi tempat habitat penetasan penyu. Konon puluhan tahun silam Pantai Boom sudah dikenal sebagai tempat pendaratan penyu. Menurut pembina Banyuwangi Sea Turtles Foundation (BSTF) Banyuwangi, Wiyanto Haditanojo, dulunya Pantai Boom adalah tempatfavorit hewan langka ini bertelur. Namun dengan semakin padatnya hunian dan pengunjung di pantai paling ujung timur Pulau Jawa ini, membuat enggan penyu mendarat.

Situasi berubah sejak Pantai Boom mulai dibenahi dan dikembangkan menjadi kawasan wisata yang dikelola dengan baik. Secara tertahap Pantai Boom dibersihkan dari sampah di perairan dan kawasan pantai. Begitu juga dengan dilakukannya pembatasan pengunjung di Pantai Boom, rupanya menjadi daya tarik bagi penyu untuk mendarat dan meneruskan generasinya di pantai ini. Kembalinya penyu bertelur di Pantai Boom berarti bisa menjadi  indikasi bahwa pantai Banyuwangi masih bersih dan belum tercemar.

Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan dari kesadaran dan peran serta masyarakat Banyuwangi dalam menjaga kelestarian penyu. Kesadaran ini mutlak harus ditumbuhkan mengingat ada ancaman serius terhadap kepunahan habitat penyu di Banyuwangi  dan wilayah lain di Indonesia akibat perburuan dan pencurian telur penyu yang telah berlangsung lama.

Penyu adalah satwa langka di dunia yang harus dilindungi dan dilestarikan. Penyu masuk dalam Convention International Trade Endangered Species (CITES) yang harus dilindungi dan tidak boleh diperdagangkan karena masuk dalam daftar Apendik I yang terancam punah.

Di Indonesia penyu juga dilindungi berdasarkan UU No 5 tahun 1990 tentang Konservasi dan Sumber Daya Alam yang diperkuat oleh PP No 07 dan No 08 Tahun 1999. Bagi yang mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan, atau memiliki telur dan atau sarang satwa yang dilindungi tersebut bisa dikenai hukuman pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.


Namun ancaman pidana ini tidak ada artinya tanpa dibarengi tindakan nyata. Jika usaha perlindungan dan pelestarian penyu tidak dilakukan secara massif, maka seperti nasib hewan langka lain, pada generasi mendatang penyu hanya tinggal nama.

Populasi penyu sebagai hewan langka terancam punah akibat perburuan dan eksploitasi manusia secara tak terkendali. Faktor ekonomi menjadi pemicu utama. Selain telurnya, daging penyu diburu dan dikonsumsi untuk kesehatan. Di sejumlah wilayah di indonesia, 1 ekor penyu bisa dijual Rp 3-5 juta. Semakin besar penyu, semakin mahal. Di Banyuwangi harga sebutir telur penyu dijual seharga Rp 6 ribu sampai Rp 7 ribu per butir bergantung musim.

Berdasarkan survei yang dilakukan ProFauna Indonesia di sejumlah daerah, seperti Surabaya, Jakarta, Denpasar, Malang, Palembang, Yogyakarta, Medan dan Lampung, setidaknya 50 restoran di Indonesia menyuguhkan aneka menu daging satwa liar termasuk penyu. Selain itu, pemanfaatan telur penyu untuk dijual-belikan, kulitnya dimanfaatkan untuk dijadikan cenderamata, serta penggunaan penyu hijau yang diformalin dan diperdagangkan ke luar negeri.

Selain itu secara alami perkembangbiakan penyu yang sangat lambat dan banyak predator yang mengincarnya ikut berperan menyumbang kelangkaan habitat penyu. Penyu mulai bertelur setelah mencapai usia 20 tahun bahkan 30 tahun. Itupun bertelurnya tiap 2 sampai 8 tahun sekali. Sekali bertelur, seekor penyu betina melepaskan telur sebanyak 60 sampai 150 butir, dan secara alami tanpa adanya perburuan oleh manusia dan predator pengincar seperti tikus, ular, burung, biawak, kepiting dan ikan yang lebih, hanya sekitar 11 ekor anak yang berhasil sampai ke laut kembali untuk berenang bebas sampai tumbuh dewasa. Secara rasio, dari 1.000 tukik yang lahir, rata-rata hanya satu yang bisa hidup sampai dewasa. Jadi sangat bisa dipahami jika penyu menghadapi ancaman kepunahan yang sangat nyata.

Untuk melindungi dan mencegah atau minimal memperlambat masa kepunahan penyu, harus ada kesadaran dan tindakan nyata dari manusia untuk menjaga kelestarian penyu di muka bumi ini.


Di Banyuwangi, selain peran pemerintah melalui BKSD (Balai Konservasi Sumber Daya Alam), pelestarian penyu dilakukan oleh sebuah yayasan yang bernama Banyuwangi Sea Turtles Foundation (BSTF) atau Yayasan Penyu Banyuwangi, yang diketuai oleh Wiyanto Haditanojo. Yayasan yang berdiri pada 27 Juli 2011 tersebut didirikan Wiyanto karena prihatin terhadap nasib penyu yang semakin terancam.

Dalam situsnya disebutkan BSTF adalah organisasi Nirlaba, Non Pemerintah yang memiliki misi untuk menyelamatkan dan melestarikan penyu (di luar kawasan konservasi), dengan tidak membedakan suku, ras, dan agama.

Kegiatan yang dilakukan BSTF berfokus pada sosialisasi, edukasi dan konservasi penyu kepada masyarakat luas. Program kerjanya antara lain berupa sosialisasi serta mengajak penduduk pantai dan nelayan agar menyadari bahwa penyu merupakan satwa liar langka yang dilindungi. Selain itu juga memberikan edukasi di sekolah formal maupun informal dari seluruh jenjang pendidikan mengenai konservasi penyu dengan mengunjungi sekolah-sekolah. BSTF juga bekerjasama dengan masyarakat pantai dan instansi terkait, mengevakuasi telur penyu (di luar kawasan konservasi) yang rawan mendapat gangguan ke lokasi penetasan semi alami di Pantai Boom (relokasi) agar lebih mudah pemantauan dan pengamanannya.
Sosialisasi pada para pelajar (foto : www.bstf.org)

Sosialisasi dan edukasi tentang pentingnya pelestarian penyu terbukti bermanfaat. Lewat kegiatan itu BSTF berhasil menggandeng masyarakat di sekitar pantai Boom untuk ikut  andil menyelamatkan penyu.  Beberapa warga yang tadinya pemburu telur penyu akhirnya sadar dan menjadi bagian dari komunitas pelestari penyu.


Secara rutin setiap malam para relawan BSTF melakukan patroli di Pantai Boom. Jika ditemukan penyu bertelur di Pantai Boom, maka para relawan akan segera memindahkan telur-telur tersebut ke tempat penangkaran semialami milik BSTF yang letaknya tidak jauh dari tempat penyu bertelur. Di tempat penangkaran tersebut telur-telur penyu dimasukkan dalam pagar kotak dari bambu dengan ukuran 3x6 meter dengan tinggi sekitar 1,5 meter. Tidak kurang terdapat 129 sarang di penangkaran telur penyu milik dari warga dan BSTF di Pantai Boom. 


Setelah sekitar 46-50 hari, telur tersebut nanti menetas. Tukik (anak penyu) selanjutnya dilepasliarkan ke laut oleh BSTF setelah berumur 2 minggu lebih. Berdasarkan data BSTF, sampai 31 Juli 2015, sudah sekitar 13.000 telur yang dapat diselamatkan. BSTF memiliki 129 sarang di penangkaran Pantai Boom. 

Momen pelepasan tukik dilakukan jika ada even tertentu atau jika ada tamu yang datang ke Banyuwangi. Misalnya pada peringatan HUT RI ke 69 tahun 2014, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas memanfaatkan momen itu dengan melepasliarkan 69 tukik di Pantai Boom bersama jajaran Forum Pimpinan Daerah (Formida). Bagi Bupati Anas pelepasan tukik tersebut dimaknai sebagai simbol dari kemerdekaan.
Pelepasan 69 ekor tukik di Pantai Boom oleh jajaran Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) Kab. Banyuwangi dalam rangka HUT RI ke 69 tahun 2014. Sebelumnya tukik-tukik tersebut ditaruh dalam mangkuk kecil yang membentuk formasi RI 69. (Foto : www.bstf.org)
"Tukik yang dilepaskan merupakan simbol dari kemerdekaan Indonesia yang telah lepas dari penjajahan. Seperti halnya tukik yang berjuang dan bertahan hidup di lautan, bangsa Indonesia juga harus punya semangat untuk terus berubah untuk menjadi lebih baik untuk kemajuan bersama"                                 -Bupati Abdullah Azwar Anas -
Pelepasliaran tukik bersama peserta balap sepeda Audax-Jawa Pos 2014 (foto :www.bstf.org)
Pelepasliaran tukik di Pantai Boom bersama seluruh elemen masyarakat lintas agama. (foto : www.bstf.org)



loading...

1 komentar:

smeoga penyu terus ada dn tidak punah

Back To Top