SNACKPACKING BANYUWANGI: MENJELAJAH KOTA LEWAT JAJANAN, PASAR DAN CERITA LOKAL

infor snacpacking makanan dan jajanan khas lokal Banyuwangi


BANYUWANGI tidak hanya menawarkan Kawah Ijen, pantai, perkebunan, dan wisata alam. Ada cara lain yang lebih sederhana namun menarik untuk mengenal daerah paling timur Pulau Jawa ini: berburu kuliner dan jajanan lokal dari pasar ke pasar.

Inilah konsep yang kini dikenal sebagai snackpacking—gaya berwisata yang menjadikan jajanan lokal, pasar tradisional, warung, dan kuliner khas sebagai bagian utama dari perjalanan.

Bagi wisatawan, terutama generasi muda, snackpacking bukan sekadar mencari makanan enak. Perjalanan menjadi kesempatan untuk menemukan rasa yang belum pernah dicoba, bertemu pedagang lokal, mengetahui cerita di balik makanan, sekaligus menikmati suasana sebuah daerah.

Dan Banyuwangi memiliki banyak bahan untuk itu.

Mulai dari kuliner khas masyarakat Osing, jajanan pasar, makanan tradisional Banyuwangi, hingga pasar-pasar yang tumbuh di tengah suasana pedesaan dan kawasan hutan.


Apa Itu Snackpacking Banyuwangi?

Secara sederhana, snackpacking Banyuwangi bisa diartikan sebagai perjalanan menjelajahi Banyuwangi melalui makanan dan jajanan lokal.

Bukan hanya datang ke restoran terkenal, memesan makanan, kemudian pulang.

Konsepnya lebih dekat dengan petualangan:

datang → mencari → menemukan → mencicipi → berbincang → bercerita.

Wisatawan bisa memulai perjalanan dari pasar tradisional pada pagi hari, mencari jajanan yang jarang ditemukan di tempat lain, berpindah ke warung lokal, kemudian mengunjungi pasar kuliner atau sentra UMKM.

Yang dicari bukan hanya makanan yang populer di media sosial.

Justru makanan yang belum banyak dikenal bisa menjadi penemuan paling menarik.

Sebuah jajanan sederhana yang dijual puluhan tahun oleh sebuah keluarga bisa memiliki cerita yang jauh lebih kuat daripada makanan yang sudah terkenal secara nasional.


Perbedaan Snackpacking dan Wisata Kuliner

Sama-sama berburu kuliner lokal, apa yang membedakan snackpacking dengan wisata kuliner biasa? Kuncinya pada cara pengunjung menjelajahi makanan.

Wisata kuliner biasa bisa berarti datang ke satu warung untuk makan. Sementara itu, snackpacking lebih menekankan kegiatan berkeliling, menemukan makanan yang menarik, mencicipi beberapa jenis jajanan, dan mengenal siapa yang membuatnya.

Agar sebuah lokasi benar-benar menarik untuk snackpacking, ada empat hal yang perlu diperhatikan:

  1. Banyak pilihan dalam satu lokasi. Pengunjung tidak perlu berpindah-pindah tempat terlalu jauh.
  2. Ada makanan lokal atau tradisional. Misalnya kue basah, jajanan pasar, kudapan khas Osing, atau olahan hasil bumi.
  3. Ada keterlibatan usaha rumahan. Ini memberikan cerita tentang pembuat makanan, resep keluarga, dan tradisi setempat.
  4. Ada pengalaman berburu. Pengunjung dapat mencoba jajanan yang belum pernah dicicipi, menemukan makanan langka, atau membandingkan jajanan dari beberapa penjual.

Perlu dibedakan pula bahwa makanan yang dijual oleh pedagang lokal belum tentu dibuat sendiri di rumah. Untuk mengangkat unsur homemade, kita perlu menanyakan langsung kepada penjual mengenai pembuat dan proses produksinya.


Mengapa Banyuwangi Cocok untuk Snackpacking?

Banyuwangi memiliki kekayaan kuliner yang sangat beragam.

Karakter geografisnya yang luas membuat setiap kawasan memiliki kebiasaan makan dan produk lokal yang berbeda. Selain makanan khas Banyuwangi, wisatawan juga dapat menemukan berbagai jajanan tradisional Jawa, makanan rumahan, kuliner pasar, hingga kreasi UMKM generasi baru.

Yang menarik, perjalanan kuliner di Banyuwangi tidak harus dilakukan di pusat kota.

Wisatawan justru dapat bergerak menuju desa-desa dan kawasan pinggiran untuk menemukan pengalaman yang berbeda.

Di sanalah konsep snackpacking menjadi menarik.

Tujuannya bukan hanya mencari makanan, tetapi mencari cerita di balik makanan.


Kategori Snackpacking Di Banyuwangi


Banyuwangi memiliki kekayaan kuliner yang sangat beragam. Berdasarkan jenis pengalaman yang ditawarkan, karakter makanan, cara pedagang berkumpul, dan asal-usul jajanan tersebut, setidaknya kita bisa membuat pengelompokan destinasi snackpacking yang berbeda.

Pengelompokan ini berguna karena tidak semua tempat snackpacking harus berupa pasar tradisional permanen. Kegiatan mingguan yang menghadirkan banyak penjual jajanan rumahan juga bisa menjadi tujuan berburu kuliner.

Kategori-kategori tersebut bukan klasifikasi resmi pemerintah, melainkan kerangka kerja untuk memetakan potensi snackpacking. Satu tempat dapat masuk lebih dari satu kategori. Misalnya, Pasar Kampoeng Osing bisa dikategorikan sebagai pasar jajanan tradisional sekaligus sentra kuliner khas daerah.

Berikut 8 kategori  snackpacking Banyuwangi :


1. Snackpacking Pasar Jajanan Tradisional


Menikmati kuliner dan jajanan khas Banyuwangi di Pasar Witwitan Alas Malang (Validnews.id) 


Karakter utama: banyak penjual berkumpul di satu tempat dan menawarkan jajanan tradisional, kue basah, serta makanan lokal yang bisa dicicipi atau dibawa pulang.

Ini merupakan kategori yang paling dekat dengan pengertian snackpacking yang sedang kita bahas.

Destinasi yang masuk kategori ini:

  • Pasar Wit-Witan Alasmalang — dikenal dengan jajanan pasar dan makanan tradisional.
  • Pasar Kampoeng Osing — menawarkan pengalaman mencicipi jajanan dan kuliner tradisional masyarakat Osing.
  • Kuliner Olehsari — kawasan kuliner yang berkaitan dengan tradisi pasar jajanan malam.

Yang diburu: kucur, cenil, lupis, lanun, tiwul, gatot, serta jajanan tradisional lain yang tersedia pada hari kunjungan.

Nilai snackpacking-nya: tinggi. Pengunjung dapat menjelajahi banyak lapak tanpa harus berpindah-pindah lokasi.


2. Snackpacking CFD atau Pasar Kuliner Mingguan

Karakter utama: berburu makanan di kawasan yang berubah menjadi pusat keramaian kuliner pada waktu tertentu, biasanya pada akhir pekan.

Kategori ini perlu dibedakan dari pasar jajanan tradisional karena CFD tidak selalu berfokus pada makanan tradisional. Di dalamnya bisa ada makanan berat, jajanan kekinian, minuman, produk rumahan, dan hasil bumi.

Destinasi potensial

A. CFD Banyuwangi

Cocok untuk berburu kuliner pagi di pusat kota. Konten dapat difokuskan pada jajanan pasar, makanan khas Banyuwangi, dan lapak UMKM.

B. CFD Karetan, Purwoharjo

Kawasan ini menggabungkan olahraga, rekreasi, suasana alam, dan pasar kuliner. Pada September 2026, Pemkab Banyuwangi melaporkan sekitar 500 pelaku UMKM turut meramaikan CFD yang membentang antara Desa Karetan dan Desa Glagahagung. 

C. CFD Pasar Pinusan Songgon

Menarik untuk eksplorasi jajanan tradisional, kuliner, dan produk hasil bumi di kawasan hutan pinus.

Nilai snackpacking-nya: tinggi untuk berburu banyak jenis makanan sekaligus, tetapi bergantung pada komposisi pedagang setiap pekan.

Catatan pemetaan: jangan otomatis menganggap semua CFD sebagai destinasi jajanan tradisional. Lokasinya layak masuk direktori snackpacking, tetapi perlu dicatat secara terpisah apakah didominasi jajanan tradisional, makanan khas, atau kuliner kekinian.


3. Snackpacking Pasar Kuliner Desa dan Pasar Rakyat Tematik

Kategori ini penting karena banyak pasar yang menarik justru tumbuh dari prakarsa masyarakat, bukan dari destinasi wisata besar.

Karakter utama: pasar yang tumbuh dari inisiatif masyarakat desa, biasanya melibatkan pedagang setempat dan mengangkat potensi kuliner daerah.

Berbeda dari pasar jajanan yang identik dengan kue basah, pasar rakyat tematik bisa menawarkan kombinasi jajanan, makanan siap santap, minuman tradisional, kerajinan, dan produk UMKM lainnya.

Contoh yang pernah diberitakan di Banyuwangi:

  • Pasar Parijatah Kulon (Parkul) — pasar rakyat yang menghadirkan kuliner olahan, jajanan tradisional, kerajinan, dan batik warga. Salah satu kuliner yang diperkenalkan adalah kopi cemplung, yang dinikmati bersama singkong rebus dan gula aren. 
  • Pasar Cunduk Menur di Tegalarum, Sempu — pernah menjadi contoh pasar rakyat tematik yang menggerakkan ekonomi warga desa. 

Potensi snackpacking: tinggi apabila pasar tersebut masih aktif dan mempunyai cukup banyak penjual makanan.


4. Snackpacking Sentra Produksi Jajanan Rumahan

Kategori ini justru sangat potensial untuk membedakan snackpacking Banyuwangi dari wisata kuliner biasa. 

Karakter utama: pengunjung tidak hanya datang ke tempat yang menjual makanan, tetapi juga mencari kawasan tempat jajanan dibuat oleh warga atau usaha rumahan.

Salah satu contoh yang pernah diberitakan adalah Kampung Kuliner Jajag, di kawasan Kampung Baru, Kecamatan Gambiran. Pada 2022, kawasan ini diberitakan memiliki banyak produsen jajanan pasar rumahan, seperti lemper, kue tok, terang bulan, mendut, klepon, dan jenang jagung. Produk mereka dipasarkan melalui pasar kuliner setempat dan berbagai pasar di wilayah sekitar. 

Pemberitaan Pemkab Banyuwangi pada Februari 2026 juga menyebut sekitar 20 ibu rumah tangga di Kampung Baru, Jajag, memproduksi aneka makanan rumahan, terutama untuk kebutuhan pasar takjil dan warung.

Sentra produksi jajanan rumahan sebagai tujuan snackpacking sangat menarik. 

Bayangkan pengunjung bisa:

  • Melihat berbagai jenis jajanan yang diproduksi warga.
  • Membeli langsung dari pembuatnya, jika produsen menerima pembelian langsung.
  • Mengetahui nama jajanan, bahan, dan cara pembuatannya.
  • Menemukan jajanan yang tidak banyak dijual di pusat oleh-oleh.
  • Membawa pulang jajanan untuk keluarga atau dibagikan kepada teman.

Tentu, perlu dipastikan terlebih dahulu apakah produsen menerima kunjungan dan pembelian langsung. Kawasan produksi belum tentu merupakan pasar yang bebas dikunjungi wisatawan.

Nilai snackpacking: sangat tinggi untuk pengalaman autentik, tetapi memerlukan informasi lapangan lebih mendalam.


5. Snackpacking Pasar Malam dan Pasar Kuliner Sore

Karakter utama: berburu jajanan ketika pasar atau sentra kuliner mulai ramai pada sore hingga malam hari.

Kategori ini memiliki suasana yang berbeda dari CFD. Pengunjung datang bukan untuk berolahraga pagi, melainkan untuk berjalan-jalan, mencicipi makanan, dan menikmati suasana pasar.

Contoh yang layak ditelusuri:

  • Pasar Jadoel, Licin — pernah diberitakan menawarkan kuliner tradisional dan jajanan dengan suasana pasar bernuansa tempo dulu. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memberitakan aktivitasnya pada November 2025.
  • Pasar Bengi Olehsari — salah satu lokasi yang disebut dalam pengenalan snackpacking Banyuwangi. 
  • Pasar Sore Moro Seneng, Jajag — pernah menjadi tempat pemasaran jajanan pasar yang dibuat produsen lokal. 

Nilai snackpacking: tinggi jika banyak lapak jajanan berkumpul pada waktu yang sama.

Ide konten: “Snackpacking Malam Minggu: Berburu Jajanan Tradisional Banyuwangi.”

Catatan penting: Keberadaan pasar-pasar ini mungkin tidak selalu aktif, perlu dikonfirmasi jadwal dan keberlangsungan kegiatannya sebelum dikunjungi.


6. Snackpacking Pasar Tradisional Harian

Kategori ini agak berbeda dari lima kategori sebelumnya dan cocok bagi pemburu kuliner yang ingin melihat keseharian masyarakat, bukan hanya mendatangi pasar wisata yang telah ditata khusus.

Karakter utama: menjelajahi pasar tradisional yang beroperasi secara rutin setiap hari untuk menemukan jajanan pasar, kue basah, gorengan, dan makanan lokal.

Pasar harian tidak selalu dirancang sebagai destinasi wisata kuliner. Namun, pasar semacam ini bisa menjadi tujuan snackpacking jika terdapat konsentrasi pedagang jajanan yang cukup besar.

Contohnya adalah kawasan Pasar Banyuwangi di pusat kota Banyuwangi.

Untuk kategori ini, yang perlu dipetakan bukan hanya nama pasarnya, melainkan juga:

  • Bagian pasar yang memiliki konsentrasi penjual jajanan.
  • Jam ketika kue basah dan jajanan tradisional paling banyak tersedia.
  • Jenis jajanan yang dibuat sendiri oleh pedagang atau dipasok produsen rumahan.
  • Harga dan variasi jajanan.
  • Kemudahan berjalan kaki dari satu lapak ke lapak lain.

Nilai snackpacking: sedang hingga tinggi, tergantung konsentrasi pedagang jajanan.


7. Snackpacking Kuliner Khas Daerah

Warung rujak soto Mbok Mbret Benculuk, salah satu jujugan snackpacking kuliner khas Banyuwangi di wilayah Banyuwangi selatan (Google maps)


Kategori ini menitikberatkan pada makanan yang memiliki identitas kuliner Banyuwangi, bukan semata-mata bentuk tempat penjualannya.

Misalnya:

  • Sego cawuk.
  • Sego tempong.
  • Pecel pitik.
  • Ayam kesrut.
  • Rujak soto.
  • Kopi lokal dan olahan hasil bumi.
  • Jajanan tradisional Osing.

Destinasinya bisa berupa pasar tematik, sentra kuliner, atau kawasan yang memiliki beberapa penjual makanan khas dalam jarak berdekatan, atau bahkan berupa sebuah warung makan yang otonom.

Sebagai contoh, Pasar Kampoeng Osing di Kemiren menawarkan pengalaman yang menggabungkan makanan tradisional dengan suasana budaya masyarakat Osing. Sementara itu, beberapa lokasi juga dikenal sebagai tempat kuliner khas tertentu yang banyak direkomendasikan, seperti :

- Sego Tempong Mbok Nah di kota Banyuwangi

- Sego Cawuk Bu Mantih di Rogojampi

- Rujak Soto Mbok Mbret di Benculuk

- Ayam Pedes Rantinem di Genteng

- Ayam Kesrut Kanggo Riko di Kec. Licin, dll.

Kategori Snackpacking Kuliner Khas Daerah dan Snackpacking Jajanan Tradisional (kategori pertama) mungkin bisa tumpang tindih. 

Sebuah pasar dapat menawarkan jajanan tradisional sekaligus makanan khas daerah, begitu juga sebuah warung yang populer dengan jenis makanan tertentu, bisa juga menyediakan kudapan khas Osing.


8. Snackpacking Musiman dan Pasar Kuliner Temporer

Kategori terakhir adalah tempat yang muncul pada momen atau periode tertentu.

Contohnya:

  • Pasar takjil selama Ramadan.
  • Bazar kuliner desa.
  • Festival makanan tradisional.
  • Bazar UMKM dalam rangka acara budaya.
  • Pasar kuliner yang hanya berlangsung pada hari atau pekan tertentu.

Banyuwangi memiliki contoh kegiatan semacam ini. Pada Ramadan 2026, Pemkab Banyuwangi memberitakan pasar takjil yang menjadi saluran pemasaran bagi produsen kuliner rumahan, termasuk pelaku usaha di Jajag. 

Contoh lainnya adalah Bazar Kuliner Kampoeng Cungking yang berlangsung pada November 2024. Acara tersebut menghadirkan 86 stan UMKM yang menjual jajanan tradisional dan kuliner khas Banyuwangi. Namun, penyelenggaraan pada 2024 tidak otomatis berarti bazar tersebut berlangsung rutin sampai sekarang. 

Nilai snackpacking: bisa sangat tinggi selama kegiatan berlangsung, tetapi tidak selalu bisa dikunjungi setiap minggu.


Bagaimana Membuat Rute Snackpacking Banyuwangi?

Agar snackpacking tidak berubah menjadi sekadar “wisata kuliner sebanyak-banyaknya”, perjalanan sebaiknya dibuat seperti sebuah misi.

Misalnya:

Misi 1: Cari Sarapan Lokal

Mulailah pagi dengan mencari makanan yang biasa disantap masyarakat setempat.

Jangan langsung mencari restoran terkenal.

Cari pasar, warung sederhana, atau pedagang yang ramai didatangi warga.

Misi 2: Temukan Tiga Jajanan Tradisional

Pilih tiga jajanan yang belum pernah dicoba.

Tidak harus mahal.

Yang penting adalah menemukan sesuatu yang memiliki cerita.

Misi 3: Tanya Pedagang

Tanyakan:

“Ini makanan khas mana?”

“Sudah berapa lama dijual?”

“Resepnya dari siapa?”

“Biasanya dimakan kapan?”

Dari sini, perjalanan kuliner berubah menjadi perjalanan budaya.

Misi 4: Cari Satu Hidden Gem

Jangan hanya mengikuti rekomendasi internet.

Tanyakan kepada pedagang:

“Kalau mau makan yang khas di sini, biasanya orang sini beli apa?”

Jawaban tersebut bisa membawa Anda ke tempat yang tidak pernah muncul di daftar wisata populer.

Misi 5: Bawa Pulang Cerita

Di akhir perjalanan, jangan hanya menghitung berapa makanan yang sudah dicoba.

Catat:

makanan apa yang ditemukan, siapa penjualnya, di mana lokasinya, berapa harganya, dan cerita apa yang paling menarik.

Itulah yang membuat snackpacking berbeda.    


Tips Snackpacking Banyuwangi agar Tidak Boros

Snackpacking tidak harus mahal.

Justru salah satu keseruannya adalah membuat perjalanan dengan anggaran tertentu.

Misalnya:

Rp100.000 untuk satu hari berburu jajanan.

Bagi menjadi beberapa pos:

  • Rp20.000 untuk sarapan

  • Rp30.000 untuk jajanan

  • Rp20.000 untuk minuman

  • Rp20.000 untuk makanan yang ingin dibawa pulang

  • Rp10.000 untuk cadangan

Angka tersebut hanyalah contoh. Sesuaikan dengan harga aktual dan kebutuhan perjalanan.

Prinsipnya adalah:

jangan habiskan uang dan perut di tempat pertama.

Simpan sebagian anggaran untuk penemuan yang mungkin muncul di tengah perjalanan.   


Jangan Lupa Etika Snackpacking

Ada satu hal yang sering terlupakan ketika tren wisata berkembang: wisatawan datang ke ruang hidup masyarakat.

Karena itu, ada beberapa etika yang penting.

Hormati pedagang

Jangan meremehkan makanan hanya karena harganya murah atau tempat jualannya sederhana.

Minta izin sebelum merekam

Terutama ketika ingin mengambil gambar pedagang secara dekat.

Jangan menawar berlebihan

Jika harga makanan sudah terjangkau, selisih beberapa ribu rupiah mungkin sangat berarti bagi pedagang.

Jaga kebersihan

Bawa kembali sampah atau buang pada tempatnya.

Hal ini juga penting karena pengembangan wisata kuliner harus tetap menjaga lingkungan. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bahkan mengingatkan pengunjung dan pedagang di kawasan CFD Purwoharjo agar pengelolaan sampah diperhatikan sehingga kawasan tetap nyaman dan alam terjaga.


Banyuwangi Bisa Dikenal Lewat Rasanya

Pada akhirnya, snackpacking bukan sekadar tren makan sambil jalan-jalan.

Ia merupakan cara lain untuk membaca sebuah daerah.

Banyuwangi bisa dikenal melalui pemandangan alamnya.

Bisa melalui budayanya.

Bisa melalui sejarahnya.

Tetapi Banyuwangi juga bisa dikenali melalui semangkuk makanan, jajanan pasar, secangkir minuman hangat, dan cerita seorang pedagang.

Dari Pasar Sejati di Karetan, suasana pedesaan Purwoharjo, hingga berbagai pasar dan sentra kuliner lainnya, perjalanan dapat dibuat sederhana tetapi tetap penuh pengalaman.

Karena dalam snackpacking, tujuan perjalanan bukan sekadar:

“Sudah berapa tempat yang kita datangi?”

Melainkan:

“Berapa banyak cerita yang kita temukan?”

Dan mungkin, ketika pulang dari Banyuwangi, yang dibawa bukan hanya oleh-oleh.

Tetapi juga ingatan tentang rasa, orang-orang, dan cerita yang membuat sebuah perjalanan menjadi berarti.



Artikel BANYUWANGI BAGUS Lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar


Scroll to top
close