GANDRUNG SEWU 2026 KEMBANG DERMO: SAAT TRADISI SEBLANG BERSINAR DI PANGGUNG MALAM

Gandrung Sewu 2026 malam hari dengan konsep baru glow in the dark
Ilustrasi

Ada yang berbeda dari Gandrung Sewu tahun ini. Jika selama ini pertunjukan kolosal Tari Gandrung identik dengan suasana siang di kawasan Pantai Boom Banyuwangi, pada 2026 panggung tersebut akan berubah menjadi pertunjukan malam yang penuh cahaya.

Perubahan itu menjadi semakin menarik karena Festival Gandrung Sewu kembali masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, kalender event pariwisata unggulan yang disusun Kementerian Pariwisata. Masuknya Gandrung Sewu dalam KEN menempatkannya sebagai salah satu event budaya Banyuwangi yang dipromosikan dalam kalender pariwisata nasional.

Namun, kejutan Gandrung Sewu 2026 tidak berhenti pada perubahan waktu pertunjukan. Mengusung tema “Kembang Dermo”, pergelaran ini membawa cerita yang berakar pada tradisi Seblang, menghadirkan lebih dari 200 penari dari luar Banyuwangi, serta memberi ruang lebih besar kepada pengrawit muda.

Semua unsur tersebut akan berpadu dengan konsep visual modern, termasuk kostum yang memiliki unsur fosfor sehingga dapat menghasilkan efek glow in the dark ketika berada dalam kondisi minim cahaya.


Kembang Dermo, Bunga dari Tradisi Seblang

kembang dermo ritual seblang olehsari
Kembang Dermo dalam ritual adat Seblang Olehsari (via Facebook)


Di balik kemeriahan cahaya dan ribuan penari, Gandrung Sewu 2026 tetap berpijak pada akar budaya Banyuwangi.

Tema Kembang Dermo diangkat dari bunga yang menjadi bagian penting dalam ritual adat Seblang Olehsari. 

Kembang Dermo adalah rangkaian bunga khas dalam ritual Seblang Olehsari, tradisi adat masyarakat Osing di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Rangkaian ini terdiri dari dua kuntum bunga kenanga berwarna kuning dan hijau serta bunga kantil (cempaka putih) di bagian tengah, yang ditancapkan pada sebilah bambu. Kembang Dermo diperjualbelikan dalam prosesi Adol Kembang atau “menjual bunga”.

Istilah Kembang Dermo juga dikaitkan dengan filosofi “sak dermo”, yang dimaknai sebagai keikhlasan dalam menjalani kehidupan sesuai peruntukannya.

Dalam kepercayaan masyarakat setempat, Kembang Dermo memiliki makna simbolis dan dipercaya membawa keberuntungan, memudahkan jodoh, serta menjadi sarana tolak bala. 

Karena menjadi bagian dari prosesi sakral Seblang Olehsari, Kembang Dermo kemudian dipilih sebagai tema Gandrung Sewu 2026 untuk mengangkat kembali akar tradisi dan filosofi budaya Osing ke dalam pertunjukan kolosal.


Kostum Glow in the Dark Jadi Kejutan

Tema Kembang Dermo kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa visual yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Untuk pertama kalinya dalam 14 tahun, Gandrung Sewu digelar pada malam hari. Tata cahaya menjadi bagian penting dari pertunjukan, termasuk pemanfaatan unsur fosfor pada kostum penari yang dirancang menampilkan efek bercahaya ketika berada dalam kondisi minim cahaya.

Efek glow in the dark tersebut akan berpadu dengan tata cahaya panggung, gerakan ribuan penari, serta suasana pesisir Pantai Boom.

Sejumlah detail teknologi pencahayaan masih dirahasiakan penyelenggara. Konsep tersebut sengaja disimpan sebagai kejutan agar penonton dapat merasakan langsung perubahan suasana ketika pertunjukan dimulai. Hasilnya gerakan ribuan penari dapat terlihat seperti membentuk pola cahaya di tengah panggung.

Konsep tersebut menjadi salah satu pembeda paling mencolok antara Gandrung Sewu tahun ini dengan penyelenggaraan sebelumnya.

Jika pada pertunjukan siang kekuatan visual terutama berasal dari warna kostum, koreografi massal dan latar Pantai Boom, tahun ini permainan cahaya akan menjadi bagian dari pengalaman pertunjukan.

Penonton nantinya tidak hanya menyaksikan ribuan penari bergerak secara serempak, tetapi juga melihat perubahan visual ketika kostum dan cahaya berpadu dalam suasana malam.


Teknologi Disiapkan, Tetapi Detailnya Masih Dirahasiakan

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama InJourney menyiapkan konsep baru tersebut sebagai bagian dari pengembangan Gandrung Sewu.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan pertunjukan malam merupakan gagasan yang telah lama diinginkan dan baru dapat diwujudkan melalui kolaborasi dengan InJourney.

Menurutnya, kejutan mengenai tata cahaya dan teknologi yang akan digunakan masih dirahasiakan agar menjadi pengalaman tersendiri bagi wisatawan yang datang.

Dengan kata lain, efek fosfor pada kostum baru merupakan salah satu bagian yang telah diketahui publik. Masih ada elemen pertunjukan lain yang belum dibuka secara lengkap oleh penyelenggara.

Hal ini membuat Gandrung Sewu 2026 tidak hanya menawarkan pertunjukan budaya, tetapi juga menyimpan unsur kejutan bagi penonton.


Lebih dari 200 Penari dari Luar Banyuwangi

Perbedaan lainnya datang dari komposisi penari.

Tahun ini, Gandrung Sewu membuka ruang lebih luas bagi penari dari luar Banyuwangi. Seleksi eksternal dilakukan di luar daerah untuk menjaring talenta yang ingin menjadi bagian dari pertunjukan kolosal tersebut.

Talenta yang terjaring berasal dari berbagai daerah, mulai Jakarta, Bondowoso, Lampung hingga Bali. Kehadiran mereka memperluas partisipasi dalam salah satu pertunjukan budaya terbesar Banyuwangi tersebut.

Secara keseluruhan, keterlibatan penari dari luar Banyuwangi mencapai lebih dari 200 orang. Mereka hadir bukan hanya sebagai peserta, tetapi menjadi bagian dari perjumpaan berbagai talenta seni dengan tradisi Gandrung.


Pengrawit Muda Isi Barisan Musik Tradisi

Jika mata penonton nantinya akan dibuat terpaku oleh cahaya dan gerak penari, telinga mereka juga akan mendapatkan warna berbeda.

Gandrung Sewu 2026 memberi ruang lebih besar kepada pengrawit muda sebagai pengisi musik pertunjukan. Mayoritas pengrawit yang terlibat merupakan pelajar tingkat SD dan SMP.

Kehadiran generasi muda di barisan gamelan menjadi bagian dari upaya regenerasi seni pertunjukan tradisional Banyuwangi.

Dengan demikian, pembaruan Gandrung Sewu 2026 tidak hanya terjadi pada tata cahaya dan kostum. Regenerasi juga hadir di balik panggung melalui keterlibatan anak-anak muda yang memainkan musik pengiring.


Bukan Hanya Gandrung Sewu

Pengalaman wisatawan juga tidak hanya berlangsung pada saat pertunjukan utama.

Rangkaian Gandrung Sewu 2026 dijadwalkan berlangsung pada 22–24 Oktober. Berdasarkan informasi Banyuwangi Tourism, rangkaian tersebut mencakup pertunjukan keroncong Banyuwangi dan Hadrah Kuntulan Cilik pada 22 Oktober, kemudian Live Music Jalanan dan Gandrung Terob pada 23 Oktober.

Puncaknya berlangsung pada 24 Oktober dengan sejumlah atraksi, termasuk Jaranan Show, ritual Meras Gandrung, drone show, pertunjukan Gandrung Sewu dan konser musik.

Dengan rangkaian tersebut, wisatawan yang datang tidak hanya memiliki satu agenda untuk disaksikan, tetapi dapat menikmati suasana budaya Banyuwangi selama beberapa hari.


Promosi Gandrung Sewu Bahkan Dimulai dari Kereta

Penampilan 7 penari Gandrung di KA Sangkuriang (via Kompas.com)


Menariknya, promosi menuju Gandrung Sewu 2026 juga dilakukan di luar lokasi festival.

Pada September lalu, penari Gandrung hadir di KA Sangkuriang dalam agenda "Gandrung On Train". Atraksi tersebut berlangsung dalam perjalanan dari kawasan Kalibaru hingga Stasiun Ketapang dan menjadi bagian dari promosi Gandrung Sewu kepada penumpang kereta.

Strategi promosi seperti ini menunjukkan bahwa Gandrung Sewu tidak hanya diposisikan sebagai pertunjukan satu hari, tetapi sebagai bagian dari pengalaman wisata yang mulai diperkenalkan sejak wisatawan dalam perjalanan menuju Banyuwangi.


Tradisi, Teknologi dan Generasi Baru

Senja di pantai Boom Marina Banyuwangi, lokasi event Gandrung Sewu


Gandrung Sewu 2026 akhirnya menawarkan kombinasi yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Ada Kembang Dermo yang membawa akar tradisi Seblang. Ada lebih dari seribu penari yang menjadi kekuatan utama pertunjukan. Ada lebih dari 200 penari dari luar Banyuwangi yang memperluas partisipasi. Ada pengrawit muda yang membawa semangat regenerasi. Dan ada teknologi pencahayaan yang mengubah panggung Gandrung menjadi pertunjukan malam.

Semua unsur tersebut akan bertemu pada 24 Oktober 2026 di Pantai Boom Banyuwangi.

Statusnya sebagai bagian dari KEN 2026 juga membuat Gandrung Sewu tidak hanya menjadi agenda budaya daerah, tetapi bagian dari kalender event yang dipromosikan dalam ekosistem pariwisata nasional.

Yang menarik, penonton tidak hanya akan menyaksikan bagaimana ribuan penari bergerak dalam formasi kolosal. Mereka juga akan melihat bagaimana unsur tradisi diterjemahkan ke dalam cahaya, bagaimana kostum menjadi bagian dari efek visual, serta bagaimana generasi muda ikut menjaga musik dan tari tradisional.

Gandrung Sewu 2026 bukan sekadar memindahkan pertunjukan dari siang ke malam. Kembang Dermo menjadi jembatan antara akar tradisi Seblang, kreativitas panggung modern, dan regenerasi seniman muda.

Dan ketika lampu mulai diredupkan, kostum dengan unsur fosfor mulai berpendar, gamelan dimainkan para pengrawit muda, lalu ribuan penari bergerak dalam satu formasi, di situlah wajah baru Gandrung Sewu 2026 akan benar-benar terlihat.

Ayo ke Banyuwangi!


Artikel BANYUWANGI BAGUS Lainnya :

0 komentar:

Posting Komentar


Scroll to top
close