Banyuwangi punya banyak alasan untuk dikunjungi. Ada Kawah Ijen dengan fenomena blue fire, hutan eksotis De Djawatan, pantai-pantai di pesisir selatan, Taman Nasional Alas Purwo, hingga kekayaan budaya masyarakat Osing.
Namun, bagi pecinta kopi, Banyuwangi menawarkan alasan lain yang tak kalah menarik: menjelajahi kopi dari kebun hingga tradisi ngopi yang masih hidup di masyarakat.
Salah satu kawasan yang patut masuk dalam daftar adalah Kalibaru.
Kalibaru, Menikmati Kopi dari Daerah Asalnya
![]() |
| Kopi asal Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, memborong tiga gelar juara dalam kompetisi Jawara Coffee Competition di ajang Jogja Coffee Week (JCW) 2026 (Harian.disway.id) |
Kalibaru dikenal sebagai salah satu kawasan perkebunan kopi di Banyuwangi. Kopi Robusta menjadi salah satu produk yang menonjol dari wilayah ini.
Kualitas kopi Kalibaru bahkan semakin mendapat perhatian setelah Robusta Blambangan dari kawasan Gunung Kendit, Malangsari, Kalibaru, meraih Juara 3 kategori Robusta pada Jawara Coffee Competition di Jogja Coffee Week 2026, dengan cup score 84,250.
Bagi pencinta kopi, pencapaian tersebut menjadi alasan menarik untuk mengenal Kalibaru lebih jauh. Sebab, menikmati kopi di daerah asalnya memberikan pengalaman berbeda dibanding sekadar membeli kopi dalam kemasan.
Di Kalibaru, wisatawan dapat mengenal lanskap perkebunan, aktivitas petani, proses pemetikan hingga pengolahan kopi. Pengalaman semacam ini membuat secangkir kopi tidak lagi sekadar minuman, tetapi memiliki cerita tentang tanah, kebun, petani dan proses panjang di baliknya.
Inilah yang membuat wisata kopi Kalibaru menarik untuk dipadukan dengan perjalanan wisata Banyuwangi.
Gombengsari dan Telemung, Wajah Kopi di Kalipuro
![]() |
| Salah satu kampung kopi di Banyuwangi (Ngopibareng.id) |
Cerita kopi Banyuwangi tidak berhenti di Kalibaru. Di Kecamatan Kalipuro, terdapat Gombengsari dan Telemung yang juga dikenal sebagai kawasan perkebunan kopi.
Gombengsari khususnya telah berkembang dengan potensi wisata berbasis kopi. Wisatawan dapat menikmati suasana pedesaan dan perkebunan sambil mengenal kehidupan petani serta proses pengolahan kopi.
Sementara Telemung menawarkan lanskap perkebunan di kawasan perbukitan yang memperlihatkan bagaimana kopi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Gombengsari: Kopi Lego, Menikmati Kopi Langsung dari Kebunnya
Di Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, wisatawan dapat mengenal Kopi Lego (Kampong Kopi Lerek Gombengsari).
Nama Lego merujuk pada Lingkungan Lerek, kawasan perkebunan kopi rakyat di lereng Gunung Ijen. Hampir setiap rumah warga memiliki tanaman kopi di pekarangan maupun kebunnya.
Kopi Lego dikembangkan sebagai wisata edukasi berbasis masyarakat. Pengunjung dapat menyusuri kebun, mengenal tanaman kopi, mengikuti proses petik saat musim panen, melihat pengolahan kopi secara tradisional, hingga belajar menyangrai dan menyeduh kopi sendiri.
Pengalaman tersebut dapat dilengkapi dengan melihat peternakan dan proses pemerahan kambing etawa, serta menikmati kuliner lokal Gombengsari.
Daya tariknya terletak pada pengalaman “ngopi langsung dari kebunnya”. Jadi, wisatawan tidak hanya menikmati secangkir kopi, tetapi juga melihat perjalanan kopi dari tanaman, panen, pengolahan, hingga menjadi minuman.
Kopi Lego sekaligus menjadi contoh bagaimana perkebunan rakyat dikembangkan menjadi agrowisata yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat setempat.
Telemung: Omah Kopi dan Kopi Robusta Honey
![]() |
| Omah Kopi Telemung (via Google maps) |
Tidak jauh dari Gombengsari, Desa Telemung, Kecamatan Kalipuro, juga menawarkan pengalaman wisata kopi melalui Omah Kopi.
Desa ini memiliki sekitar 330 hektare perkebunan kopi rakyat dari total wilayah sekitar 550 hektare, dengan mayoritas penduduknya merupakan petani kopi.
Telemung dikenal sebagai penghasil Robusta dan Excelsa, sementara Robusta Telemung memiliki karakter khas karena banyak diolah menggunakan metode honey process.
Omah Kopi yang berdiri sejak 2015 menjadi wadah untuk memperkenalkan kopi Telemung sekaligus mendukung petani lokal.
Pengunjung dapat menikmati kopi di lingkungan pedesaan dan mengenal beragam produk, mulai dari Arabika, Robusta, Excelsa, espresso blend, specialty hingga kopi luwak.
Yang membuat Telemung menarik bagi pencinta kopi adalah perpaduan antara suasana perkebunan, kehidupan masyarakat petani, dan pengalaman menikmati kopi dari sumbernya.
Dengan demikian, Gombengsari dan Telemung dapat menjadi dua destinasi yang saling melengkapi: Kopi Lego menawarkan pengalaman wisata edukasi dari kebun hingga seduhan, sedangkan Omah Kopi Telemung menghadirkan kopi lokal dengan kekhasan Robusta honey process.
Bagi wisatawan, kedua desa ini menawarkan pengalaman yang berbeda dari wisata kopi di kedai. Kopinya bisa dinikmati sambil melihat lingkungan tempat kopi tersebut tumbuh.
Kopi Uthek Banjar, Ketika Cara Menikmati Kopi Menjadi Tradisi
![]() |
| Kopi Uthek khas desa Banjar (Cookpad.com) |
Menariknya, budaya kopi Banyuwangi juga hadir dalam bentuk tradisi.
Di Desa Banjar, terdapat Kopi Uthek, cara menikmati kopi yang khas dengan memadukan kopi dan gula aren. Kopi diminum sambil menikmati gula aren yang digigit sedikit demi sedikit.
Salah satunya adalah Kopi Uthek di Desa Banjar.
Cara menikmatinya cukup unik: kopi pahit diseruput bersamaan dengan gigitan gula aren yang disajikan terpisah. Bunyi "thek" ketika gula aren digigit menjadi asal penamaan kopi tersebut.
Tradisi sederhana tersebut memperlihatkan bahwa kopi di Banyuwangi bukan hanya soal jenis biji dan cita rasa, tetapi juga tentang cara masyarakat menikmati dan menyajikannya.
Kemiren dan Filosofi “Ngopi Sak Corot Dadi Seduluran”
![]() |
| Festival Ngopi Sepuluh Ewu, menampilkan keramahan khas Suku Osing (Banyuwangikab.go.id) |
Jika Kalibaru, Gombengsari dan Telemung memperlihatkan sisi perkebunan kopi, Desa Adat Kemiren menunjukkan bagaimana kopi menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Osing.
Kemiren dikenal dengan Festival Ngopi Sepuluh Ewu, tradisi ketika warga menyajikan kopi di depan rumah dan mengajak masyarakat maupun wisatawan untuk duduk bersama menikmati kopi.
Ada filosofi yang sangat menarik di balik budaya ngopi masyarakat Kemiren:
“Ngopi Sak Corot Dadi Seduluran.”
Secara harfiah, ungkapan ini menggambarkan bagaimana secangkir atau seteguk kopi dapat menjadi awal terjalinnya persaudaraan.
Di Kemiren, kopi bukan sekadar minuman untuk menghilangkan kantuk. Kopi menjadi alasan untuk duduk bersama, membuka percakapan, mengenal orang lain dan menciptakan keakraban.
Filosofi inilah yang membuat pengalaman ngopi di Kemiren berbeda. Wisatawan tidak hanya mencicipi rasa kopi, tetapi juga merasakan nilai sosial yang menyertainya.
Menariknya, Kemiren bukan dikenal sebagai sentra produksi kopi seperti Kalibaru. Namun, masyarakatnya memiliki tradisi penyajian kopi yang kuat sebagai bagian dari keramahan dan budaya Osing.
Dengan demikian, perjalanan kopi di Banyuwangi memiliki dua sisi yang saling melengkapi: Kalibaru memperkenalkan kopi dari kebunnya, sementara Kemiren memperlihatkan bagaimana kopi menjadi bagian dari kehidupan dan persaudaraan.
Banyuwangi, Destinasi Menarik bagi Coffee Lover
Jika dirangkai, perjalanan kopi di Banyuwangi menawarkan pengalaman yang cukup lengkap.
Kalibaru mengajak wisatawan mengenal Robusta dari salah satu kawasan perkebunan utama.
Gombengsari dan Telemung memperlihatkan kehidupan perkebunan kopi di Kalipuro.
Banjar menghadirkan keunikan Kopi Uthek. Sementara Kemiren menunjukkan bagaimana kopi menjadi bagian dari tradisi, keramahan dan persaudaraan.
Semua pengalaman tersebut dapat dipadukan dengan wisata alam dan budaya Banyuwangi lainnya.
Bagi wisatawan umum, kopi mungkin hanya menjadi teman perjalanan. Tetapi bagi pecinta kopi, perjalanan ke Banyuwangi bisa menjadi kesempatan untuk mengenal kopi dari perspektif yang lebih luas—dari kebun, proses pengolahan, cita rasa hingga tradisi yang mengiringinya.
Saatnya Memasukkan Kopi dalam Itinerary Banyuwangi
Banyuwangi memang punya banyak destinasi untuk dijelajahi. Tetapi jika Anda seorang coffee lover, jangan hanya memasukkan Kawah Ijen, pantai atau taman nasional ke dalam itinerary.
Sisihkan waktu untuk menyusuri perkebunan kopi Kalibaru, mengenal Gombengsari dan Telemung, mencoba Kopi Uthek di Banjar, atau merasakan hangatnya tradisi ngopi di Kemiren.
Sebab di Banyuwangi, kopi bukan sekadar minuman.
Ada kebun, petani, budaya, keramahan dan cerita di balik setiap cangkirnya.
Dan mungkin, perjalanan Anda ke Banyuwangi akan terasa lebih lengkap ketika ditutup dengan secangkir kopi sambil mengingat filosofi sederhana dari Kemiren:
“Ngopi Sak Corot Dadi Seduluran.”
Secangkir kopi, sejuta cerita, dan siapa tahu menjadi awal sebuah persaudaraan.
Dan mungkin, secangkir kopi itulah yang membuat perjalanan ke Banyuwangi menjadi lebih berkesan.







0 komentar:
Posting Komentar