BENARKAH HARIMAU JAWA MASIH HIDUP DI LERENG GUNUNG RAUNG?


Keberadaan Harimau Jawa menjadi misteri. Secara resmi, sub spesias harimau ini sudah masuk daftar sebagai satwa punah oleh International Union of Conservation for Nature (IUCN) pada 1970. Namun polemik tentang keberadaannya masih berlangsung sampai sekarang. Masih banyak kelompok masyarakat yang meyakini hewan tersebut masih ada.
 
Harimau Jawa masih belum punah?
Foto harimau Jawa yang diambil pada tahun 1938 di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten (via Liputan6.com)
Laporan perjumpaan manusia dengan satwa karnivora itu masih terus ada. Hanya yang menjadi masalah, sejauh ini belum ada bukti empiris yang mendukung klaim tentang keberadaannya.

Yang paling baru, pada pertengahan 2018 lalu sekelompok pemuda di Desa Songgon, Banyuwangi,  mengaku melihat harimau loreng.

"Kalau Harimau Jawa katanya punah, saya meragukannya. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Tidak saya saja, tapi juga 6 teman lainnya," kata Wawan, salah satu pemuda Desa Songgon , seperti dilansir situs Jatimnow.com (4/1/2019).

Saat itu, pada sore hari di pertengahan Juli 2018 Wawan mengaku melihat harimau loreng yang sangat banyak. Jarak dengan harimau sekitar 50 meter. Tak tanggung-tanggung, menurut taksiran Wawan jumlahnya ada sekitar 30 harimau.

Pemandangan itu terlihat di sekitaran hutan lereng Gunung Raung. Tepatnya  5 kilometer dari Air Terjun Lider, yang masuk Dusun Lider, Desa Sumberarum.

Semula Wawan tidak percaya jika apa yang dilihatnya adalah kawanan harimau loreng. Sebab, harimau loreng di hutan Gunung Raung hanya menjadi cerita di tengah masyarakat selama ini.

Dia dan teman-temannya menjadi yakin setelah mengamati kawanan harimau loreng itu dengan menggunakan teropong secara bergantian.

"Sebagian terlihat jelas, sebagian berkamuflase di semak-semak terlihat separuh badan dan ekornya dikibaskan. Saya yakin jika itu Harimau Jawa karena bulunya loreng, ukuran badannya besar tidak seperti macan tutul yang pernah saya jumpai juga," tambahnya.

Wawan sempat berpikir jika kawanan harimau tersebut hasil dari pelepasliaran yang dilakukan taman nasional atau BKSDA. Disisi lain, dirinya tidak yakin karena sejumlah referensi menyebutkan status harimau Jawa dinyatakan punah.

"Saya heran kok jumlahnya begitu banyak. Harimau ini katanya punah tapi kok masih ada, makanya saya pikir apa pemerintah melepasliarkan harimau?" cetus pria yang hobi menjelajah hutan ini.

Sepengetahuannya, lokasi kawanan harimau terlihat juga menjadi habitat babi hutan. Namun pada saat itu tidak terlihat babi hutan sama sekali. Juga dengan satwa lainnya.

"Biasanya kalau saya pas main ke hutan sering jumpa babi hutan disitu. Kadang rusa. Tapi waktu itu tidak ada satupun," ucapnya.

Kawanan harimau itu sendiri bertahan di lokasi cukup lama. Sayangnya, Wawan dan 6 temannya tidak sempat mengabadikannya. Hal itu pula yang disesalinya hingga hari ini.

"Padahal saya bawa handphone berkamera, juga dengan teman-teman. Tapi sangking takutnya, kami jadi panik. Kami pergi dengan mengendap-endap dan jantung ini dag dig dug," katanya.

Alumni Universitas Jember, ini berharap kawasan hutan Gunung Raung bisa dilindungi secara ketat. Agar tetap menjadi rumah yang nyaman bagi satwa-satwa penghuninya, termasuk satwa berjuluk El Jawi tersebut.

"Selama ini hanya dapat ceritanya saja. Saya senang bisa melihat harimau loreng masih ada di hutan Gunung Raung. Ternyata memang masih ada. Semoga hutannya terus lestari," harapnya.

Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri, Khalid Indarto mengatakan, harimau Jawa memang sudah dinyatakan punah. Diakuinya hingga saat ini masih banyak laporan dari masyarakat perihal keberadaan satwa tersebut.

"Namun kita butuh bukti emperis, kalau terkait hal-hal kepercayaan (mistis) ya sah-sah saja. Informasi ini akan kami tindak lanjuti," katanya, Sabtu (5/1/2019).

Ia melanjutkan, dulu sebelum dinyatakan punah, kawasan Taman Nasional Meru Betiri sebagai habitat populasi Harimau Jawa. Dan tersambung dengan kawasan hutan lindung di Gunung Raung.


"Daya jelajah Harimau Jawa itu dalam sehari bisa 80 kilometer. Sangat mungkin mereka menjelajah kawasan Raung hingga Ijen dan Baluran," pungkasnya.


loading...

Back To Top