JELAJAH KAMPOENG PRIMITIF DI BANYUWANGI, SERASA BERADA DI DUNIA YANG BERBEDA


Bayangkan, kamu terdampar di suatu tempat yang dihuni suku pedalaman. Apa yang akan kamu lakukan? Apa yang ada dalam pikiranmu? Ketakutan? Hopeless? Merasa tidak ada harapan hidup lagi?

Tenang bro, dijamin aman dan bahkan kamu merasa nyaman, dan boleh jadi akan betah berlama-lama di situ. Karena kamu berada di Banyuwangi. Wow, memangnya di Banyuwangi ada Kampoeng Primitif? Benar bro, tapi ini bukan dalam pengertian sebenarnya.

Kampoeng Primitif di Dusun Krajan, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi adalah sebuah destinasi wisata hasil kreasi warga setempat. Begitulah. Jangan salah tafsir ya, Kampung Primitif ini berasal dari kata “prima” dan “inovatif”.

Wisata Kampoeng Primitif Banyuwangi.


Anak-anak muda Desa Purwodadi yang memiliki bakat di bidang taman dan ide kreatif mengekspresikan potensi alam desanya menjadi sebuah kampung yang identik dengan kehidupan pedalaman atau prasejarah. Wisata ini tergolong masih gres, karena baru dilaunching secara resmi pada akhir Desember 2017 lalu.

Kampung wisata primitif ini tidak semata tentang suku dan budaya tertentu saja lo, tetapi meliputi berbagai suku dan budaya nusantara dengan pernak-pernik yang bernuansa kehidupan primitif. Salah satunya nanti akan menghadirkan Suku Osing, yang merupakan suku asli Banyuwangi.

Dengan konsep back to nature, pengunjung seakan diajak memasuki dunia yang sama sekali berbeda dengan kehidupan keseharian masa kini. Kamu akan merasakan sensasi menjadi bagian dari suku pedalaman, mulai dari cara berpakaian warganya, aktivitas, rumah tinggal dan lingkungan sekitar yang lekat dengan nuansa kehidupan primitif.

Memasuki obyek wisata ini kamu akan disambut dengan penampilan “penghuni”nya yang mengenakan dandanan primitif ala suku adat pedalaman. Penampilan mereka bak suku pedalaman di Indonesia, lengkap dengan riasan wajah dan aksesoris penutup kepala dan badan yang mirip koteka.

Rumah-rumah adat yang ada di lokasi juga sangat primitif, berbentuk bulat dengan dinding kayu serta beratapkan jerami, dilengkapi sejumlah kursi dari kayu. Mereka pun beraktivitas layaknya sebuah masyarakat primitif, seperti memasak dengan kayu bakar dan bermain di sungai untuk mencari ikan dengan peralatan tombak.

Jangan ragu untuk berkenalan dengan warga kampoeng Primitif, mereka sangat ramah kok. Dengan senang hati warga yang terdiri dari anak-anak, remaja sampai yang dewasa melayani keinginan pengunjung foto bersama.



Jangan bayangkan wajah penghuninya serem-serem. Malah sebaliknya. Yang cowok gagah dan ganteng, yang cewek cantik-cantik, yang anak-anak juga menggemaskan tingkah polahnya. Semua menampilkan raut muka yang friendly, tidak ada yang cemberut.

Jika kamu datang pada hari biasa, mungkin hanya akan bertemu dengan beberapa warga primitif saja. Tapi jika kamu berkunjung di hari Minggu atau libur, jumlahnya sampai belasan bahkan puluhan. Mereka akan tersebar di berbagai tempat sesuai dengan job description nya. Malah masing-masing ada jadwal piketnya.  

Cobalah bertanya pada mereka, siapa sebenarnya para penghuni Kampoeng Primitif ini? Kalau tebakan kamu mereka adalah para penduduk desa setempat, ini tidak salah tapi kurang betul. Ternyata mereka tidak hanya berasal dari warga sekitar, tapi juga dari desa bahkan kecamatan lain.

Latar belakang kesehariannya mereka ada yang sudah bekerja dengan berbagai profesi, yang remaja tentu saja masih pelajar, kalau yang anak-anak ya tentu belum sekolah mas bro.

Menurut informasi salah satu pengelolanya, mereka ini suka rela dirias dan didandani ala orang primitif, tanpa dibayar, hanya dikasih makan. Khususnya yang masih remaja, mereka memang senang bertemu orang-orang lalu diajak berfoto. Makanya tidak ada kamusnya, mereka bakal menolak kamu ajak wefie.

Berada di tempat wisata yang anti mainstream di Banyuwangi ini memang bikin betah. Selain menikmati suasana sejuk alam pedesaan dengan nuansa kembali ke alam, kamu juga bisa belajar tentang budaya serta suku-suku di Indonesia. 

Suara kincir air yang menyapa setiap pengunjung, gemericik aliran kali kecil yang mengalir ditengah alam hutan, gemerisik daun bambu tertiup angin, dan udara yang segar, bisa-bisa membuatmu enggan beranjak pulang. Banyak gubuk dan tempat duduk yang tersedia untuk menikmati suasana alam yang masih asri. Tapi kalau sudah lapar jangan ditahan ya, kamu bisa memesan makanan tradisional dengan harga terjangkau.

Wisata di kampung primitif memang belum selesai dikembangkan. Masih banyak wahana yang akan dibuat. Meskipun demikian, fasilitas mendasar seperti toilet dan musola sudah disiapkan pengelola. Tidak ada alasan untuk tidak mencoba main ke tempat ini. Dijamin seru.

Kamu hanya dikenakan parkir Rp 2 ribu untuk motor, 5 ribu untuk mobil. Selain itu tiket masuknya juga ramah kantong, hanya Rp 5 ribu per orang. 

Puas berkeliling Kampoeng Primitif, sebelum pulang kamu juga bisa naik perahu menyusuri sungai yang terletak di sisi tempat wisata ini. 

Pengunjung disambut penjaga yang ramah.







Para bidadari Kampoeng Primitif.

Si manis Kampoeng Primitif











Gubuk buat leyeh-leyeh, adem.


Ada aliran sungai kecil disisi utara Kampoeng Primitif.

Waroeng makan serba lesehan.

Toilet khas Kampoeng Primitif.

Kampoeng Primitif Desa Purwodadi Kecamatan Gambiran, Banyuwangi.
Jalan masuk menuju Kampoeng Primitif  berada di sisi sungai Talang yang cukup lebar. Saat ini sudah tersedia sarana perahu yang bisa dinaiki pengunjungi untuk mengarungi sepanjang aliran sungai. Sementara di sisi lain direncanakan akan dibangun kios-kios yang menjajakan aneka makanan, oleh-oleh khas dan pernak-pernik lain.



RUTE MENUJU WISATA KAMPOENG PRIMITIF

Untuk mencapai Kampoeng Primitif terbilang mudah, karena jaraknya sangat dekat dengan kota Jajag, hanya sekitar 2 km saja kamu sudah sampai di lokasi. Selain itu lokasinya masih searah dengan Pulau Merah, sehingga kamu bisa sekalian mampir di wisata ala suku adat pedalaman tersebut. 

Untuk mudahnya kamu mengambil titik awal dari Terminal Jajag. Dari sini rutenya ke perempatan yang searah menuju Benculuk. Dari perempatan tersebut kemudian belok kanan ke jalan Juanda sejauh kurang-lebih 700 meter nanti akan bertemu jalan cabang lima (perliman), disitu terdapat patung pejuang dan tentara.

Ambil arah lurus saja sejauh 900 m sampai melewati jembatan dan bertemu perempatan pertama, lalu belok kiri. Nah dalam jarak 200 meter kamu sudah sampai di tujuan, wisata Kampoeng Primitif, yang lokasinya di sebelah kiri jalan. 

Kamu tinggal parkir kendaraan di sekitar lokasi lalu berjalan kaki menuju pintu masuk wisata yang berada di sisi sungai. Bagi pengunjung luar kota bisa memanfaatkan Google maps untuk membantu mengarahkan ke lokasi tujuan.

Jangan sampai penasaran. Ayo kakak kesini yuk!





loading...

Back To Top