MAJESTIC IJEN DALAM PARADE KARNAVAL BANYUWANGI ETHNO CARNIVAL 2017


Ada puluhan even yang ditampilkan dalam Banyuwangi Festival 2017, beberapa diantaranya bahkan berkelas dunia. Salah satunya adalah Banyuwangi Ethno Carnival (BEC). Setiap tahun selalu mengusung tema berbeda yang digali dari unsur budaya lokal Banyuwangi. Even BEC selalu ditunggu baik oleh masyarakat lokal Banyuwangi maupun para wisatawan domestik dan mancanegara.

BEC 2017 Majestic Ijen
Keagungan Kawah Ijen ditampilkan dalam pagelaran BEC 2017 (via grup Bwi Sosmed)

Sejauh ini BEC satu-satunya atraksi budaya Indonesia yang selalu konsisten menghadirkan tema yang berbasis kultur budaya dan kearifan lokal, dalam hal ini Banyuwangi. Daerah lain mungkin banyak tergoda menghadirkan tema global dalam gelaran lokal, tapi Banyuwangi bersemangat mengglobalkan tema lokalnya.

Dalam kata-kata Bupati Azwar Anas, BEC tidak hanya sebagai wadah kreativitas anak muda Banyuwangi melalui desain pakaian, namun juga sebagai penyampai pesan budaya dan sejarah. Dari Banyuwangi untuk dunia.

Pada gelaran yang ke tujuh tahun ini, terhitung sejak digelar pada tahun 2011 lalu, BEC mengambil tema Majestic Ijen atau Keagungan Kawah Ijen. Benar-benar tema yang pas, bukan hanya karena Kawah Ijen sudah menjadi salah satu pesona pariwisata Banyuwangi, namun juga saat ini wisata Kawah Ijen tengah dikembangkan menjadi kawasan wisata kelas dunia.

Majestic Ijen juga dapat diartikan sebagai penjabaran dari Majestic Banyuwangi, yang menjadi tagline pariwisata Banyuwangi. Jadi tema Majestic Ijen adalah bagian dari konsep pemasaran pariwisata kabupaten paling timur di Pulau Jawa ini.

Majestic Ijen dijabarkan dalam Tiga Tema besar yang akan dikemas dalam bentuk kostum unik nan megah,  antara lain Blue Fire, Belerang, dan Landscape Ijen. Selain itu masih ada Tema Fauna Ijen untuk BEC Cilik dengan peserta anak-anak.

Sebanyak 160 busana adikarya desainer lokal Banyuwangi yang bertemakan Majestic Ijen, yang terinspirasi dari keindahan Gunung Ijen Banyuwangi, ditampilkan dalam parade.

Ada yang menggambarkan fenomena blue fire dengan busana unik berhiaskan api berwarna biru menyala-nyala yang memukau mata. Ada pula busana yang mengejewantahkan belerang dalam kostum dominasi warna kuning, hingga landscape Ijen yang dirupakan busana berbentuk flora dan fauna yang ada di  Gunung Ijen.

Karnaval BEC 2017 yang berlangsung pada Sabtu, 11/11/2017 semakin istimewa dengan kehadiran dua menteri, yaitu Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani serta Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Selain itu ada Fitri Carlina, pedangdut asal Banyuwangi yang membuka BEC yang digelar di jalan Veteran Taman Blambangan, Banyuwangi, dengan lagu Lungset Makk ciptaan Dedy Boom yang berbahasa lokal. Sebelumnya Fitri juga dinobatkan sebagai Duta Pariwisata Banyuwangi oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia.

Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2017 dengan tema Majestic Ijen mampu memukau para wisatawan. Meskipun tujuh tahun digelar, BEC tidak kehilangan pamor, bahkan tetap mampu menjadi magnet yang mengundang ribuan penonton dan ratusan peserta. Ini menjadi bukti budaya lokal bisa jadi seni kreatif modern. 

Di mata Menteri Puan, Banyuwangi dinilai berhasil menumbuhkan kreativitas warga, etalase budaya yang patut disuguhkan di dunia internasional.

"Apa yang telah disuguhkan oleh Banyuwangi ini adalah peneguhan budaya yang terbukti telah meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan di kabupaten ini. Ini juga membuktikan jika Kabupaten The Sunrise of Java ini akan menjadi destinasi andalan Indonesia di masa yang akan datang," ujar Puan.

Untuk BEC tahun depan pun sudah disiapkan tema dan waktu pelaksanaannya. Banyuwangi Ethno Carnival 2018 akan mengusung tema Puter Kayun dan berlangsung pada 28-29 Juli 2018. Puter Kayun adalah tradisi masyarakat Desa Boyolanggu, Kecamatan Giri, Banyuwangi dalam merayakan lebaran dengan cara khas, yaitu melakukan pawai dengan mengendarai dokar yang dihias.



Penambang Ijen (via https://www.facebook.com/abdul.basar.75491)





Badzlina Sukmawati, Runer up I Putri indonesia Jatim 2016, dalam ajang Banyuwangi Ethno Carnival 2017.



loading...

Back To Top