PANORAMA KILI-KILI MUNCAR, TEMPAT KONSERVASI MANGROVE SEKALIGUS DESTINASI WISATA


Wisata Kili-Kili Muncar awalnya adalah sebuah area tambak udang sejak masa penjajahan Jepang hingga berakhir pada akhir 1980-an. Saat itu bisnis tambak menurun, dan area tersebut mulai ditinggalkan dalam kondisi terbengkelai dan rusak.

Hutan mangrove Kili-Kili, Muncar, Banyuwangi.
Melalui jembatan bambu ini pengunjung diajak menyusuri hutan mangrove Kili-Kili Muncar (via Kompas.com) 
Baru kemudian sejak tahun 2003, sekelompok masyarakat berinisiatif untuk meremajakan wilayah tersebut dengan menanami mangrove dan terus berlangsung hingga sekarang. Saat ini wilayah yang diremajakan dengan mangrove tersebut sudah berubah menjadi hutan mangrove. Sebagian lahan hutan mangrove yang memiliki luas 600 hektar di Desa Tegalpare, Desa Wringin Putih, Kecamatan  Muncar ini masuk wilayah taman nasional Alas Purwo, dan sebagian lainnya adalah lahan masyarakat.

Sejalan dengan perkembangan pariwisata Banyuwangi, anak muda Dusun Tegalpare berinisiatif mengoptimalkan potensi wisata di daerahnya dengan membuat destinasi wisata berbasis konservasi Mangrove, yang dinamakan Panorama Kili-Kili.

Salah satu sudut perairan Kili-Kili, di Teluk Pang-Pang, Muncar (via Wisan6geni.blogspot.co.id)
Selama empat bulan sejak April 2017, mereka mempersiapkan destinasi wisata baru ini. Langkah awal yang dilakukan adalah membangun jembatan berbahan bambu dan kayu sepanjang 500 meter di antara pohon mangrove dan membuat panggung-panggung kecil  atau shelter di tengah hutan yang bisa digunakan bersantai. Ini dilakukan secara swadaya dengan bimbingan Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Banyuwangi.

Bahan bambu dan kayu dipilih agar ramah lingkungan. Saat ini jembatan tersebut sudah mencapai 1 km dan akan terus diperpanjang hingga menyeberangi sungai. Selain itu juga akan dibangun semacam menara untuk mengawasi seluruh hutan mangrove dari atas.

Di sepanjang jalur trekking saat menyusuri hutan mangrove dari atas jembatan , pengunjung disuguhi berbagai informasi tentang jenis-jenis mangrove dan fauna yang ada di sekitar perairan Kili-Kili. 
Setidaknya terdapat lima jenis mangrove yang tumbuh berada di kawasan perairan Kili-Kili, yaitu Rizhopora Apiculata, Rhizopora Mucronata, Sonneratia Alba, Ceriop Tagal dan Excoecaria Agllocha.

Di hutan mangrove kamu juga akan menjumpai aneka satwa liar, terutama jenis burung air (water birds), terdapat 30 jenis burung 10 di antaranya merupakan jenis yang dilindungi undang-undang.
Yaitu Bangau Tontong (Leptoptilos Javanicus), Pecuk Ular (Anhinga melanogaster) dan Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster). Selain itu terdapat mamalia, seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan kijang (Muntiacus muntjak). Satwa laut seperti kepiting, pari, udang, dan kerang mudah ditemukan di sini.

Habitat burung kuntul di mangrove Kili-Kili hidup bebas dan bisa dinikmati pengunjung (via Cakiar.com)
Setelah puas berkeliling kamu bisa istirahat di shelter sembari menikmati kuliner khas Tegalpare. Seperti Iwak pe (pari) rica-rica, sate kerang, kepiting asam manis, dan aneka kuliner lainnya.
Kamu bisa memesannya di warung-warung yang dikelola oleh ibu-ibu nelayan setempat di lokasi hutan mangrove.

Buat yang hobi mancing, di sekitar lokasi juga terdapat kolam pancing. Jangan kuatir jika kamu lupa membaca alat pancing, pihak pengelola sudah menyediakan alatnya yang bisa kamu sewa.

Panorama Kili-Kili ini dikelola oleh anak-anak muda yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Bangkit Remaja Tagalpare (Baret), beranggota 30 orang yang merupakan remaja dan anak muda desa, petani tambak, serta remaja nelayan Dusun Tegalpare.

Mungkin ada yang penasaran dengan nama Kili-Kili? Ternyata nama tempat ini berasal dari Taman Kili-Kili, yaitu nama perusahaan tambak udang yang dulu pernah beroperasi di wilayah hutan mangrove ini.

Dengan menjadikan tempat konservasi dan perlindungan mangrove ini sebagai destinasi wisata, secara tak langsung diharapkan membuat masyarakat ikut menjaga kelestarian mangrove.

Warung-warung yang berada di lokasi wisata tersebut juga bertanggungjawab mengelola sendiri sampah yang dihasilkan. Para pengunjung pun juga diedukasi agar tidak membuang sampah sembarangan, melainkan pada tempat yang sudah disediakan di sepanjang jalur trekking.

Sebagai destinasi wisata berbasis konservasi, kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan harus ditumbuhkan di kalangan generasi muda. Antara lain melalui gerakan penanaman mangrove. Dukungan pun muncul dari Nadine Chandrawinata, mantan puteri Indonesia 2005 yang peduli dengan isu lingkungan hidup.

Mantan Puteri Indonesia 2005, Nadine Chandrawinata  (kanan) dan Dinni, dua pendiri Sea Soldier di Teluk Pangpang, Banyuwangi, ikut terlibat dalam penanaman mangrove Kili-Kili (via grup WA Bwi Sosmed)
Bersama anggota komunitas Sea Soldier yang didirikannya, Nadine terlibat dalam penanaman 1000 bibit mangrove di kawasan konservasi di Telukpangpang tersebut.

Selain berkampanye agar anak muda terlibat dalam pelestarian lingkungan, Nadine juga memberikan contoh lain agar anak muda lebih perhatian pada isu lingkungan. Seperti tidak buang sampah sembarangan, membawa botol minum sendiri, tidak menggunakan sedotan plastik serta membawa tas sendiri untuk meminimalisir pengggunaan sampah plastik. 

Bahkan Nadine memberikan ide yang menarik tentang tren selfi di tempat wisata, yaitu mengajak anak muda selfie pada saat menanam mangrove.

"Mendingan daripada selfie tidak jelas kenapa kita tidak selfie pada saat nanam mangrove. Ini akan diikuti juga sama follower kita," jelas Nadine. Oke juga khan? 

Nadine Chandrawinata menanam mangrove di hutan Kili-Kili Muncar, Banyuwangi.
Nadine selfie sambil menanam bibit mangrove (via http://discoverybanyuwangi.blogspot.co.id)

Gerakan pro lingkungan seperti ini seharusnya menjadi tren di kalangan masyarakat Banyuwangi khususnya, dan setidaknya bisa menginspirasi para pengunjung untuk bersikap ramah lingkungan dengan tidak mencemari hutan mangrove Kili-Kili dengan tumpukan sampah.
Destinasi wisata Panorama Kili-Kili tentunya sangat cocok untuk wisata keluarga, dan edukasi untuk anak-anak sekolah agar ikut merawat lingkungannya. Datanglah ke mangrove Kili-Kili tidak cuma menikmati keindahannya, namun sambil melakukan penanaman bibit mangrove.


CARA MENUJU WISATA MANGROVE PANORAMA KILI-KILI

Wisata mangrove Panorama Kili-Kili berada di Dusun Tegalpare, Desa Ringin Putih, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Letaknya di Pantai Telukpangpang Muncar, berjarak 45 km dari Banyuwangi kota ke arah selatan atau diperlukan tak kurang dari satu jam perjalanan untuk sampai di tempat tujuan.

Untuk mencapai lokasi hutan mangrove Panorama Kili-Kili bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun empat. Dari Banyuwangi kota kamu tinggal mengarahkan kendaraan ke arah Rogojampi, sesampai di pertigaan yang mengarah ke Genteng dan Srono, ambil jalan lurus saja menuju Srono.

Setelah sampai di pertigaan Srono, belok ke kiri menuju Muncar. Dalam perjalanan Srono-Muncar kamu akan menemukan traffic light pertama, ambil jalur ke kanan ikuti jalan sampai melewati Pasar Sumberayu. Selanjutnya belok ke kiri sebelum jembatan. Dari sini perjalanan akan banyak melewati jalan yang berliku-liku, namun sudah ada petunjuk jalannya di setiap persimpangan. Jika kamu ragu-ragu bisa menanyakan pada warga yang kamu temui di sepanjang perjalanan.

Jika kamu berangkat dari arah kabupaten Jember, pertama-tama kamu menuju Genteng, dan selanjutnya ke Srono dengan melewati Gambiran-Jajag-Benculuk-Srono. Selanjutnya setelah sampai pertigaan Srono ikuti petunjuk seperti diatas.

Untuk menikmati kawasan wisata Panorama Kili-Kili ini, pengunjung dikenakan ongkos parkir Rp 2 ribu untuk motor dan Rp 5 ribu untuk mobil, dan tarif masuk hanya Rp seribu per orang.




loading...

Back To Top