ENAK TINGGAL DI BANYUWANGI, BIAYA HIDUPNYA TERENDAH DI INDONESIA, TAPI PENGHASILAN WARGANYA TERUS NAIK


Salah satu alasan banyak orang mengadu nasib ke kota besar adalah kecilnya penghasilan bekerja di daerah. Dengan bekerja di kota orang berharap mendapatkan penghasilan yang lebih besar yang akhirnya bisa meningkatkan taraf hidup mereka. Namun faktanya, meskipun kota besar menjanjikan gaji yang besar, namun biaya hidupnya juga mahal. Alhasil, perubahan hidup yang diharapkan tak kunjung datang.
Biaya hidup di Banyuwangi terendah di Indonesia
Suatu hari di jalan utama Banyuwangi (sumber : Wijanarko.net)

Kondisi berbeda terjadi Kabupaten Banyuwangi yang berada di ujung timur Pulau Jawa. Berdasarkan data hasil Survei Biaya Hidup (SBH) yang dilakukan BPS (Badan Pusat Statistik), Banyuwangi dinyatakan sebagai kabupaten/kota dengan biaya hidup terendah di Indonesia. 

Berdasarkan SBH untuk hidup dalam satu bulan di Banyuwangi dengan satu keluarga berjumlah 4 orang hanya membutuhkan biaya Rp 3,03 juta.

SBH merupakan kegiatan rutin yang diadakan oleh BPS setiap lima tahun sekali di 82 kota/kabupaten. SBH terakhir diadakan pada 2012 mencakup 136.080 rumah tangga.

Rumah tangga ini dipantau besarnya nilai pengeluaran konsumsi baik jenis barang maupun jasa selama setahun penuh.

Biaya hidup di Banyuwangi berada di peringkat pertama terendah, disusul Kudus  dengan biaya hidup Rp 3,08 juta per bulan. Sedangkan secara nasional rata-rata biaya hidup di Indonesia adalah Rp 5,5 juta per bulan.

"Biaya hidup di Banyuwangi paling rendah di Indonesia. Jadi enak tinggal di Banyuwangi," kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, Jumat (16/12/2017).

Indikasi biaya hidup ini diperkuat dengan data BPS lain tentang tingkat inflasi di Kabupaten Banyuwangi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Banyuwangi pada September 2016 mencapai 0,02 persen, terendah di Indonesia. Adapun rata-rata inflasi secara nasional mencapai 0,22 persen pada periode tersebut.

Seperti diketahui, inflasi merupakan indikator penting makroekonomi karena berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat. Tingkat inflasi yang tinggi membuat daya beli masyarakat melemah. Pemkab Banyuwangi memiliki sejumlah strategi pengelolaan pasar agar tingkat tetap berada di level stabil, seperti operasi pasar murah, vertikultur di kalangan rumah tangga, dan gerakan 10.000 kolam ikan.

Ada salah satu kiat efektif Pemkab Banyuwangi untuk mengendalikan harga-harga bahan pokok agar tetap murah. Untuk mencegah agar tidak ada pihak yang memainkan harga, masyarakat harus mengetahui harga bahan-bahan pokok di Banyuwangi. Caranya, tiap hari Pemkab Banyuwangi mengumumkan harga-harga bahan pokok melalui videotron di jalan-jalan.

Videotron di Banyuwangi menampilkan info bahan pokok.
Videotron di Banyuwangi yang menampilkan harga-harga bahan pokok (sumber : Twitter)

Nah, yang bikin keren lagi, sudah biaya hidupnya terendah, yang artinya biaya hidup di Banyuwangi paling murah di Indonesia, di sisi lain, penghasilan warganya terus meningkat! Hal ini berbeda dengan kondisi  umum di kota besar, dimana penghasilan warganya yang lebih besar tergerus oleh biaya hidup dan laju yang inflasi yang tinggi juga.

Di Banyuwangi sebaliknya, pendapatan per kapitanya meningkat secara signifikan dalam 5 tahun terakhir. Pendapatan per kapita Kabupaten Banyuwangi naik tajam 80 persen dari Rp 20,8 juta pada 2010 menjadi Rp  37,53 juta per orang pada 2015, dan ditargetkan bisa menembus Rp 40 juta pada akhir 2016.

Dengan demikian pendapatan masyarakat naik, sedangkan biaya hidup murah.

"Percuma pendapatan masyarakat naik, kalau kebutuhan hidup masih mahal," kata Bupati Anas.

Anas mengatakan dari keseluruhan program pembangunan, sektor ekonomi menjadi fokus utama yang digenjot pertumbuhannya karena berkaitan langsung guna mendongkrak kesejahteraan masyarakat.

“Kesejahteraan ekonomi warga akan menjadi pondasi yang kuat dalam proses pembangunan daerah secara keseluruhan,” kata mantan ketua umum IPNU pusat tersebut.

Pertumbuhan ekonomi Banyuwangi karena sektor perekonomian daerah bergerak, dari pertanian, perikanan, UMKM, sektor barang dan jasa hingga pariwisata.

Baik pemerintah daerah maupun pihak swasta masing-masing memiliki peran yang menentukan dalam mendorong semua sektor tersebut bergerak.

“Pemerintah daerah tidak mungkin bekerja sendirian. Tugas kami adalah menjadi trigger bagi perkembangan daerah, yang kami ejawantahkan lewat kebijakan yang mampu memicu sektor perekonomian warga. Masyarakat dan sektor swasta justru yang memiliki peran besar dalam menggerakkan roda industri dan proses kreatif di masyarakat,” ujar Anas.

Dalam lima tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Banyuwangi berada pada tren positif. Pertumbuhannya di atas rata rata Jawa Timur dan nasional.

Salah satu indikator yang mencerminkan besaran perekonomian daerah adalah produk domestik regional bruto (PDRB).

Pada 2010 PDRB Banyuwangi sebesar 32,46 triliun, meningkat Rp. 36,95 triliun (2011), Rp. 42,10 triliun (2012), Rp 47,23 triliun (2013) dan Rp. 53,37 triliun (2014), menjadi Rp 60,2 triliun (2015).
“Pertumbuhan nilai PDRB tersebut menunjukkan perputaran ekonomi yang terjadi di masyarakat bergerak secara positif dan berkesinambungan,” Anas menambahkan.

Yang unik, bila di kota-kota lain umumnya pertumbuhan ekonominya bersifat konvergen karena memusat di kota, di Banyuwangi pertumbuhannya bersifat divergen karena relatif merata ke kota-kota kecamatan.

Wilayah pusat kota Banyuwangi yang terdiri atas 6 kecamatan dengan luas 25% dari total wilayah Banyuwangi menyumbang 42% PDRB Banyuwangi. Sedangkan 18 kecamatan lain dengan luas 75% mampu mendominasi PDRB hingga 58%.

Dengan demikian perputaran ekonomi di Kabupaten Banyuwangi menunjukkan pemerataan. Bahkan dibandingkan pusat kota, di perputaran uang di kecamatan-kecamatan lebih besar.

Perkembangan positif dunia usaha di Banyuwangi juga terkonfirmasi lewat kinerja perbankan. Data Bank Indonesia menunjukkan, penyaluran kredit di Banyuwangi pada 2010 sebesar 3,29 triliun, tumbuh menjadi Rp. 8,93 triliun pada 2015 (data November 2015). Secara kumulatif tumbuh 171,43 persen atau rata-rata 34,82 persen per tahun. Selain itu tingkat kredit macet (non performing loan atau NPL) perbankan di Banyuwangi juga jauh di bawah batas maksimal BI sebesar 5%. 

Bupati Anas punya strategi jitu untuk  "memaksa" perbankan agar rajin mengucurkan kredit ke segmen mikro. Bank yang memberikan kredit mikro cukup baik, diberikan reward dengan menempatkan uang pemda di bank tersebut lebih banyak.

Sebaliknya bank yang malas dalam membantu pendanaan bagi sektor mikro,  Pemda juga akan memberikan porsi kecil dari APBD-nya untuk disimpan di bank bersangkutan atau memindahkan ke bank lain. 

"Kami geser Rp 100 miliar saja, kepala cabangnya sudah keringat dingin itu," ucap Anas sambil berseloroh.

Tak heran, atas sejumlah prestasi dan terobosan yang telah dilakukan Banyuwangi, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Sofjan Djalil memberikan penghargaan Government Award 2016 sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi terbaik. Penghargaan ini diberikan atas kinerja sektor ekonomi Banyuwangi yang dinilai moncer dalam beberapa tahun terakhir.

Bupati Anas menerima Government Award 2016 dari Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Sofjan Djalil.

Selain itu ada sejumlah prestasi lain yang mengukuhkan Banyuwangi sebagai daerah yang layak dipertimbangkan menjadi tempat tinggal yang menarik.

Perencanaan Pembangunan Banyuwangi Salah SatuTerbaik di Indonesia

Perencanaan pembangunan Banyuwangi menjadi salah satu terbaik di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan diperolehnya penghargaan Pangripta Nusantara dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada tahun 2014 dan 2015.

Anugerah Pangripta Nusantara ini diberikan untuk kabupaten/kota dengan perencanaan terbaik dan dinilai sukses meningkatkan kualitas pembangunan daerah berdasarkan 4 parameter dan 16 indikator. Parameter yang dinilai antara lain konsistensi, komprehensif, keterkaitan, dan keterukuran bagaimana sebuah perencanaan bisa diaplikasikan dengan baik.

Tata Ruang Banyuwangi Terbaik Se Indonesia

Pada tahun 2014 Banyuwangi dinobatkan sebagai kabupaten dengan penataan ruang terbaik se Indonesia oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Penilaian penataan ruang terbaik tersebut berdasarkan tiga kriteria penilaian, yaitu perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian tata ruang.

Selain itu pada tahun 2015 Kabupaten banyuwangi berhasil meraih penghargaan terbaik nasional dalam bidang pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang, dari kementrian agraria dan tata ruang RI. 

Inovasi Pelayanan Publik Banyuwangi Banyak Diapresiasi


Inovasi pelayanan publik Pemkab Banyuwangi banyak meraih penghargaan dan apresiasi dari para pejabat negara.

Misalnya inovasi pengelolaan keuangan daerah melalui teknologi informasi yang diterapkan Pemkab Banyuwangi ditunjuk oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) sebagai salah satu role model pelayanan publik nasional dan programnya bisa direplikasi oleh seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

Bahkan untuk menunjukkan komitmen mewujudkan pelayanan publik yang transparan dan akuntabel, sekaligus memacu kinerja birokrasi daerah untuk mewujudkan layanan public yang prima bagi masyarakat, tahun ini Kabupaten Banyuwangi menggelar Festival Pelayanan Publik.

Festival yang masuk dalam agenda Banyuwangi Festival 2016 ini menjadi etalase berbagai inovasi pelayanan publik unggulan daerah yang hampir kesemuanya pernah mendapatkan penghargaan tingkat nasional, seperti Program Smart Kampung, Lahir Procot Pulang Bawa Akta, Siswa Asuh Sebaya (SAS), Transparansi Pengelolaan Anggaran Keuangan Daerah, Sistem Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (SAKIP), e-village budgeting dan monitoring.

Tak heran, kini Kabupaten Banyuwangi juga menjadi destinasi wisata belajar bagi kota-kota lain dari berbagai provinsi di Indonesia untuk mempelajari manajemen dan pengelolaan keuangan serta pelayanan publik di Banyuwangi.

Banyuwangi Peduli Lingkungan Hidup


Piala Adipura adalah bukti nyata tentang kebersihan lingkungan di Banyuwangi. Selama 4 tahun berturut-turut Banyuwangi berhasil mempertahankan kebersihan lingkungannya, sehingga pada 2016 berhak mendapat Piala Adipura Buana, sebagai penghargaan kepada daerah yang dinilai mampu menggabungkan unsur sosial dengan lingkungan untuk membentuk kota yang layak huni yang tercermin dari masyarakat kota yang peduli lingkungan.

Pemkab Banyuwangi memiliki sejumlah program pemeliharaan dan pelestarian lingkungan yang bukan hanya sebagai bentuk komitmen pemerintah, melainkan bukti keseriusan Banyuwangi dalam menghadapi global warning yang semakin ekstrim.

Sejumlah program Pemkab Banyuwangi seperti festival toilet bersih, kali (sungai) bersih, hingga sedekah oksigen dianggap mampu mengajak masyarakat berpartisipasi dalam  penyelamatan lingkungan. Banyuwangi juga punya program Merdeka Dari Sampah pada 2020.

Keseriusan Banyuwangi membenahi kotanya dibuktikan dengan diberikannya Green Awards (IGA) 2016 dari The La Tofi School of CSR yang bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) serta Kementerian Perindustrian. Pemkab Banyuwangi dinilai memiliki komitmen dan kebijakan membangun wilayahnya dengan mengedepankan pemeliharaan dan pelestarian lingkungan.

Banyuwangi Kota Welas Asih


Berkat sejumlah program yang menghargai nilai-nilai kasih sayang, humanisme, dan kebhinnekaan, Kabupaten Banyuwangi dijadikan sebagai Kota Welas Asih (Compassionate City) pertama di Indonesia pada 2014.

Banyuwangi masuk dalam jaringan 40 kota di dunia yang telah ditetapkan menjadi Kota Welas Asih sesuai inisiasi program Compassion Action International yang ditandatangani lebih dari 100 ribu tokoh di dunia, termasuk sejumlah tokoh terkemuka di Indonesia.
"Banyuwangi berkomitmen menjadi daerah yang penuh cinta, bertaburan kasih sayang, tidak hanya dalam konteks ekonomi tetapi juga secara hubungan sosial antar warganya," ujar Bupati Anas seusai menandatangani Charter for Compassion.
Seorang dosen dan peneliti Universitas Indonesia, AA Chaniago disalah satu media ibukota pernah mengusulkan Banyuwangi sebagai kota teraman dan nyaman di Indonesia, baik bagi investor maupun wisatawan. Tentu saja klaim seperti ini kurang valid tanpa didukung data akurat. Tapi setidaknya tentu nya ada pertimbangan tertentu yang mendasari penilaian semacam itu untuk seorang pakar.

Banyuwangi Kota Inklusi


Membawa spirit sebagai kota welas asih, Banyuwangi mendeklarasikan diri sebagai kabupaten Inklusi pada 2014. Yakni, kabupaten yang memberi kesempatan pendidikan kepada semua anak, baik normal maupun anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk bisa belajar di sekolah yang sama, mempelajari mata pelajaran yang sama dan mengikuti semua kegiatan disekolah tanpa ada diskriminasi.

Sebagai wujud nyata, Banyuwangi mengembangkan 210 sekolah inklusi dengan anggaran 3 miliar pada 2016.

Banyuwangi Kota Ramah Anak

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berkomitmen menjadi kabupaten layak anak. Hal ini dibuktikan dengan menandatangani pakta integritas Menuju Banyuwangi Layak Anak yang bersinergi dengan berbagai pihak stage holder. Pakta tersebut berisi komitmen menjadikan Banyuwangi sebagai kota yang aman, nyaman dan ramah bagi pertumbuhan anak.

Caranya dengan memberikan ruang yang nyaman bagi pertumbuhan anak sekaligus pelayanan keamanan. Sejumlah ruang publik seperti kantor-kantor pemerintahan mulai tingkat desa sampai kabupaten, hotel restauran, pasar modern, dan ruang publik lain akan diimbau menyediakan ruang bermain untuk anak-anak.

Banyuwangi juga punya komitmen serius memberikan perlindungan keamanan bagi anak-anak melalui layanan Banyuwangi Children Center (BCC) yang dibentuk pada 20 Mei 2016.
BCC adalah sebuah pusat perlindungan anak dimana masyarakat disiapkan kanal khusus pengaduan dengan call center dan SMS center di nomor 082139374444.

Banyuwangi Children Center

BCC ini dibentuk untuk menekan angka kekerasan terhadap anak di kabupaten Banyuwangi, baik kekerasan fisik, seksual, maupun verbal.

BCC adalah satuan tugas terintegrasi sejak dari pengaduan hingga penanganan kasus kekerasan terhadap anak yang melibatkan lintas sektor, baik dari pemerintah daerah, aparat penegak hukum, tokoh masyarakat dan agama, hingga kalangan guru, siswa, dan petugas kesehatan. 

Setiap laporan dari warga terkait kasus kekerasan terhadap anak yang diterima BCC akan diteruskan ke satgas terdekat dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A)  untuk segera menindaklanjuti laporan tersebut.

Selain pencegahan terhadap kekerasan anak, Pemkab Banyuwangi juga menyediakan ruang bagi tumbuh kembang anak melalui Festival Mainan Tradisional Anak-Anak dan Festival Anak Yatim.

Banyuwangi Serius Terhadap Pendidikan Dan Masa Depan Generasi Muda 


Selain memberikan perhatian terhadap persamaan hak setiap anak untuk mengenyam pendidikan tanpa diskriminasi melalui sekolah inklusi, Pemkab Banyuwangi memiliki program Garda Ampuh (Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah), sebuah gerakan menjaring anak yang berhenti sekolah dan mengajaknya kembali ke kelas.

Garda Ampuh merupakan bagian dari upaya pelaksanaan wajib belajar 12 tahun. Sejatinya program ini telah dimulai sejak akhir 2013 di mana Pemkab Banyuwangi membentuk Tim Pemburu Anak Putus Sekolah. Mereka bekerja menjaring dan memburu anak-anak putus sekolah. Tim ini digerakkan Dinas Pendidikan dengan melibatkan sejumlah elemen masyarakat.

Garda Ampuh Banyuwangi.
Peluncuran Garda Ampuh melibatkan berbagai elemen masyarakat di Taman Blambangan, 2/5/2016 (sumber : Kompas.com)

Targetnya adalah anak-anak di Banyuwangi minimal lulus SMA. Mereka akan diajak untuk kembali menyelesaikan sekolah secara formal ataupun informal melalui kejar paket yang di sesuaikan dengan waktu, usia dan kapasitas.

Pada 2015, Garda Ampuh berhasil mengentaskan 1.037 anak putus sekolah dengan rincian jenjang SMA 638 anak, SMP 343 anak, dan SD 56 anak. Untuk tahun 2016, Pemkab menyediakan anggaran sebesar Rp 3,33 miliar. Sedangkan sampai akhir 2016, Garda Ampuh telah mengentaskan 5.093 anak putus sekolah dari 5.191 jumlah anak putus sekolah yang terdata.

Untuk menyiapkan SDM yang handal, Pemkab Banyuwangi memberikan kesempatan bagi mahasiswa berprestasi yang tidak mampu, mahasiswa yatim piatu dan para penyandang disabilitas berprestasi melalui program beasiswa Banyuwangi Cerdas sejak 2011.

Mereka yang lolos seleksi akan ditempatkan di 4 PTN yang menjadi mitra Pemkab Banyuwangi, yaitu Universitas Negeri Jember (Unej), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, Universitas Airlangga (Unair), dan Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi). Pada tahun 2016 anggaran yang disediakan untuk beasiswa Banyuwangi Cerdas mencapai Rp 3,75 miliar. 

Selain itu Pemkab Banyuwangi juga punya program Banyuwangi Belajar yang diperuntukan bagi siswa tidak mampu SD hingga SLTA. Mereka akan mendapatkan kartu Banyuwangi Belajar yang digunakan untuk mendapatkan fasilitas keringanan biaya pendidikan mulai buku, bimbingan belajar hingga kebutuhan personal.

Ada lagi inovasi pendidikan yang dilakukan Pemkab Banyuwangi, yakni program SAS (Siswa Asuh Sebaya).

Program SAS menjadi salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan tangan pemerintah dalam membiayai pendidikan masyarakat. Sekaligus cara Banyuwangi membangun kepedulian dan empati antar siswa sebagai modal sosial di antara generasi muda di Banyuwangi. Program SAS juga bertujuan memberikan penanaman pendidikan karakter sejak dini bagi anak.

SAS merupakan program mengumpulkan dana sukarela dari siswa mampu, lalu diberikan untuk rekannya dari keluarga kurang mampu. Program SAS diikuti oleh seluruh sekolah di Banyuwangi mulai tingkat SD, SMP sampai SMA dengan jumlah 911 sekolah. Tiap minggu, siswa di sekolah menggalang dana secara sukarela untuk membantu temannya yang kurang mampu.

Pengelolaan program SAS dilakukan dari siswa, oleh siswa, dan untuk siswa dengan bimbingan dari guru. Bantuan SAS ini diberikan ke siswa yang membutuhkan tanpa melalui prosedur yang berbelit dan tepat sasaran karena sasarannya siswa yang ada di lingkungan sekolah. Sejak pertama kali diluncurkan pada 2011, program ini mampu mengumpulkan dana hingga Rp 12 miliar.

Sementara itu untuk pendidikan tinggi, Banyuwangi tiga perguruan tinggi negeri, yaitu Politeknik Banyuwangi dan Unair cabang Banyuwangi yang kelak akan menjadi Universitas Negeri Banyuwangi, selain itu di Banyuwangi juga terdapat Sekolah Pilot Negeri yang menjadi pusat pendidikan bagi calon pilot.

Hanya Di Banyuwangi Ada UGD Kemiskinan

Angka kemiskinan di Banyuwangi terus menurun dari waktu ke waktu. Hal ini tak lepas dari komitmen Pemkab Banyuwangi untuk menyejahterakan warganya melalui sejumlah program penanganan kemiskinan.

Salah satu wujud riilnya dengan membentuk satuan petugas integrasi yang disebut "Unit Gawat Darurat" (UGD) khusus penanganan kemiskinan. Dalam UGD ini diintegrasikan data mulai dari Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, serta Bagian Kesejahteraan Masyarakat sebagai sekretariat UGD.

UGD tersebut dikoneksikan di masing-masing kecamatan dalam satuan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Penanganan Kemiskinan. Dalam pelaksanaanya unit ini bertugas di tingkat lokal memberikan perkembangan informasi dan penanganan kasus per kasus.

Dalam pelaksanaannya, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Penanganan Kemiskinan di masing-masing kantor kecamatan  menjadi tim reaksi cepat dalam merespons beragam permasalahan yang dialami warga miskin. Terutama dalam hal pelayanan dasar, seperti akses kesehatan dan pendidikan.

Jika untuk masalah pendidikan ada Tim Pemburu Anak Putus Sekolah, maka untuk menyisir permasalahan sosial warga Banyuwangi, dibentuk Tim Pemburu Kemiskinan yang antara lain melibatkan personil Linmas (Perlindungan Masyarakat) untuk berperan aktif 

Berkat UGD Kemiskinan ini angka kemiskinan di Banyuwangi berkurang dari 20,4% tahun 2010 turun menjadi 9,2 persen pada 2015. Oleh Menteri Sosial, program ini akan dijadikan percontohan nasional untuk progam percepatan penanggulangan kemiskinan.

Banyuwangi Adalah Digital Society

Di bidang teknologi informasi, meskipun berada di ujung paling timur Pulau Jawa yang cukup jauh dari pusat pemerintahan baik pusat maupun provinsi, masyarakat Banyuwangi tidak gaptek. Banyuwangi memiliki jaringan wifi dan ekosistem digital terlengkap di Indonesia, bahkan Banyuwangi ditahbiskan sebagai kota pertama di Indonesia yang mengimplementasi konsep digital society sekaligus terpilih sebagai Kabupaten percontohan di Indonesia program digital society oleh PT Telkom.

Masyarakat Banyuwangi sudah terkoneksi internet hingga ke seluruh kecamatan, tidak sulit mencari akses internet di sini karena terdapat 1.500 tersebar di penjuru Banyuwangi. Banyuwangi punya program andalan Smart Kampung yang membuat banyak perubahan dalam pelayanan publik terhadap masyarakat.

Lounge Pelayanan Publik Pemkab Banyuwangi

Kunci dari pelayanan publik di Banyuwangi adalah transparansi kerja. Salah satunya dengan membuat ruang pusat pelayanan publik di dalam area Kantor Pemkab Banyuwangi dengan nama “Lounge Pelayanan Publik”.

Lounge pelayanan publik Banyuwangi
Lounge pelayanan publik Pemkab Banyuwangi, red carpet di depan pintu (sumber : Detik.com)

Lounge atau ruang tunggu ini dimaksudkan untuk semakin mendekatkan antara masyarakat dengan para SKPD terkait, yang sedang mengurus segala perijinan.

Fungsi lounge tersebut untuk menerima semua tamu pemerintah daerah, baik tamu bupati, wakil bupati, sekretaris kabupaten, maupun tamu dari setiap kantor bagian yang ada di lingkungan Sekretariat Daerah.

Semua tamu yang datang ke kantor Pemkab akan langsung diarahkan menuju ruangan lounge ini. Setelah itu petugas resepsionis akan menghubungi  bagian atau staf Pemkab yang dituju. Tidak ada pertemuan rahasia di sini, semuanya bertemu di lounge ini secara terbuka.

Lounge pelayanan publik Pemkab Banyuwangi bak ruang hotel bintang lima. (sumber : Detik.com)

Lounge Pelayanan Publik Pemkab Banyuwangi ini eksklusif dan nyaman. Desainnya terbilang mewah layaknya hotel berbintang, mulai dari ruang tamu hingga kamar mandi. Dilengkapi AC dengan banyak kursi empuk untuk menampung sampai 60 orang sekaligus. Kursi-kursinya ditata dengan melingkar agar bisa juga dipakai untuk rapat kecil.

Selain itu para tamu juga bisa menikmati sajian yang ada secara self service. Tamu bebas menikmati minuman dan makanan ringan khas Banyuwangi yang disediakan dengan mengambil sendiri.

Kursi untuk menerima tamu bersifat terbuka. (sumber : Detik.com)

Ada makanan dan minuman ringan self service untuk para tamu. (sumber : Detik.com)

Lounge tersebut dilengkapi dengan 6 layar komputer besar yang terkoneksi dengan internet untuk mempermudah akses data bagi para tamu. Mulai dari program-program pemkab, hingga tampilan CCTV yang mengkoneksikan antara pemkab dengan berbagai dinas terkait.

Di dalamnya terdapat berbagai data seputar kinerja SKPD maupun laporan APBD juga bisa diakses dengan mudah.

Selain itu, berbagai program seperti capaian bedah rumah, beasiswa, pelatihan pemuda, hingga hibah bisa dipantau. Aktivitas di rumah sakit, puskesmas, sejumlah pasar, hingga dinas-dinas bisa dipantau melalui CCTV yang tersambung dengan komputer di lounge tersebut.

Deretan komputer yang siap menyajikan data seputar pembangunan di Banyuwangi. (sumber : Detik.com)

Berbagai pencapaian pembangunan di Banyuwangi sebagaimana tersaji di lounge pelayanan publik ini, membuat Dubes Korea Selatan Cho Thai-Young yang pernah datang ke Banyuwangi, berdecak kagum.

" Wah..wah..wah..ini luar biasa. Ternyata kemajuan Banyuwangi bukan isapan jempol belaka. Baru melihat tempat ini saja sudah begini luar biasa. Ini berkat pemimpinnya yang luar biasa pula," ujar Dubes Cho Tai-Yong ketika itu.

Dubes Korsel, Cho Thai-Young di Banyuwangi.
Dubes Korea Selatan, Cho Thai Young (kanan) saat di lounge pelayanan publik Pemkab Banyuwangi.

Bahkan secara khusus, ia mempunyai sebutan untuk Banyuwangi sebagai The Mother of Benchmarking atau pusat dari segala jujugan belajar.

"Saya punya sebutan khusus untuk Banyuwangi. The Mother of Benchmarking. Pantas banyak daerah belajar di Banyuwangi," ujar Cho Tai-Young.

Anda pun boleh datang untuk belajar sesuatu di Banyuwangi, karena dewasa ini Banyuwangi sudah menjadi daerah tujuan studi banding dari daerah-daerah lain di Indonesia. 

Selain menikmati pariwisata dan budaya Banyuwangi, ada banyak hal yang menarik di Banyuwangi.

Atau mungkin bahkan tertarik pindah ke Banyuwangi? Siapa tahu!

Berjalan kaki di Kota Banyuwangi sebenarnya cukup nyaman. Kotanya bisa dibilang tidak terlalu luas namun sangat sangat bersih. Hanya dalam waktu hitungan jam Anda sudah bisa mengelilingi kota. Trotoar di tengah kota digunakan sebagaimana mestinya. Pepohonan juga sangat rimbun berada di tepian mapun median jalan. Lebih nyaman lagi karena lalu lintas di kota ini bisa dibilang cukup sepi. Tidak banyak kendaraan yang lewat baik itu mobil maupun motor. Yang jelas tidak sepadat kota-kota besar. Angkutan umum di kota ini didominasi oleh angkot yang cukup sering hilir-mudik mengantarkan penumpang. ... Di kota yang satu ini Anda jangan berharap bertemu banyak mall layaknya di kota besar. … Bagi yang tidak suka dengan riuhnya kota besar, Kota Banyuwangi merupakan kota yang cukup nyaman untuk ditinggali mengingat suasananya yang tidak terlalu crowded bahkan cenderung sepi. Tidak seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, maupun Makassar yang selalu saja macet setiap hari. 
Begitulah Banyuwangi di mata traveler blogger, Tri Setyo Wijanarko, dalam salah satu tulisan blognya di www.wijanarko.net


Bagaimana menurut Anda?

loading...


Back To Top