ASRAMA INGGRISAN DI BANYUWANGI TERNYATA BUKAN DIBANGUN OLEH INGGRIS LO!


Asrama Inggrisan Banyuwangi - Sebagian besar masyarakat Banyuwangi pasti mengenal atau minimal pernah mendengar nama Asrama Inggrisan, tapi hanya sebagian saja yang pernah melihat langsung bangunan kuno ini. Padahal letak Asrama Inggrisan ini berada di dalam kota Banyuwangi, tepatnya di jalan Diponegoro no. 05, masuk wilayah Kelurahan Kepatihan, Banyuwangi. Letaknya cukup strategis karena berada di sebelah barat RTH Taman Blambangan Banyuwangi, cukup untuk mencapainya.
Asrama Inggrisan Banyuwangi.
Asrama Inggrisan di Banyuwangi (sumber : Banyuwangitourism.com)
Dalam sejarahnya, penguasaan bangunan kuno seluas 1 hektar ini sempat berpindah tangan beberapa kali dan berubah pengunaannya sesuai kepentingan penguasanya. Selain itu masih menjadi pertanyaan tentang siapa yang pertama kali membangun tempat ini.

ASAL USUL ASRAMA INGGRISAN

Selama ini banyak masyarakat Banyuwangi yang beranggapan, karena namanya Asrama Inggrisan, tentunya bangunan tersebut merupakan peninggalan Inggris. Beberapa sumber menyebutkan, sebenarnya Asrama Inggrisan yang membangun adalah pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1776-1811.
Wisata Banyuwangi
Sudut lain Asrama Inggrisan (sumber : Tempo.co)
Menurut sumber lain, bangunan ini dibangun pada tahun 1811 sampai dengan tahun 1816 oleh Letnan Kolonel Meycin S.Y, orang Inggris yang menikah dengan wanita Belanda.

Namun ada juga sumber yang merujuk bahwa masa pembuatannya lebih awal lagi, yaitu antara tahun 1736-1757. Menurut sumber ini, “Inggrisan” tersebut dibangun oleh rakyat Blambangan pada saat Pangeran Danuringrat yang merupakan raja ke 2 Blambangan, berkuasa. Raja Danuningrat adalah kakak kandung dari Agung Wilis, salah seorang pahlawan Blambangan yang gigih melawan Belanda. Awalnya bangunan tersebut merupakan sebuah markas yang bernama Singodilaga.
Sisi belakang Inggrisan yang butuh penanganan segera. (sumber : Facebook.com)
Enam tahun setelah bangunan itu selesai dibangun, tepatnya tahun 1763 Inggris datang menjajah tanah Blambangan. Seiring dengan bercokolnya Inggris, banyak saudagar Inggris yang datang untuk berdagang di Blambangan. Untuk menampung akomodasi saudagar ini, bangunan markas yang semula bernama Singodilaga dirubah fungsinya menjadi penginapan. Sehingga namanya pun berubah menjadi Lodge atau Loji menurut lidah masyarakat lokal, yang berarti penginapan.

Menyesuaikan dengan keberadaan Lodge, maka Taman Blambangan yang berada di depan Lodge disebut Tegal Lodge (Tegal Loji) yang berarti ladang yang berada di depan penginapan. Di sekitar Lodge dibangun gorong-gorong yang terhubung dengan Kali Lo (di selatan) dan Pantai Boom (di timur). Selain berfungsi penginapan, bangunan tersebut juga berfungsi sebagai Kantor Dagang Inggris yang berdiri pada tahun 1766, sebagai pusat perdagangan di Bumi Blambangan.

Pada tahun 1767 Belanda datang ke Banyualit, dekat pelabuhan Gintangan, dekat kecamatan Rogojampi, sedangkan Inggris berada di Tirtoganda. Keduanya bersaing memperebutkan posisi Blambangan sebagai pelabuhan transit yang amat strategis, namun meski bersitegang tidak pernah sampai terjadi perseteruan yang melibatkan kekuatan militer.

Pada tahun 1881 Tirtoganda berubah menjadi kadipaten dan pada tahun yang sama diadakan London Converention yang intinya “Inggris bertukar wilayah jajahan bersama Belanda, Belanda mendapatkan wilayah Blambangan, sedangkan Inggris mendapatkan wilayah Singapura dan Malaka.”

Maka sejak 1811 "Inggrisan" pun beralih tangan dan dikuasai oleh Belanda yang dimanfaatkan sebagai asrama perwira.

Pada tahun 1942 Jepang datang dan menguasai Indonesia, bangunan "Inggrisan" pun berpindah tangan ke Jepang dan digunakan sebagai markas Kanpetai, yaitu polisi rahasia Jepang.

Berikutnya pada tahun 1945 – 1949, pasca Indonesia merdeka, "Inggrisan" digunakan sebagai asrama Batalion Macan Putih, kemudian tahun 1949 digunakan sebagai asrama Batalion 510. Dan sekarang Asrama Inggrisan berfungsi sebagai rumah dinas para anggota Kodim 0825 Banyuwangi.

Pada tahun 2009, bersamaan dengan pencanangan tahun pariwisata oleh Pemkab Banyuwangi, asrama Inggrisan akan dijadikan sebagai salah satu cagar budaya di Banyuwangi. Namun niat baik menyelamatkan benda yang bernilai sejarah tinggi ini tidak mudah direalisir karena terganjal oleh birokrasi di tingkat pusat.

DIGUNAKAN STASIUN KABEL TELEGRAF 

Salah satu peninggalan penting yang masih terdapat di Asrama Inggrisan adalah bukti-bukti yang menunjukkan bahwa tempat ini dulunya pernah digunakan sebagai Stasiun Kabel Telegraf bawah laut yang menjadi penghubung komunikasi antara Australia dengan Asia dan Eropa.

Stasiun kabel telegraf itu dibuat oleh perusahaan Inggris British-Australian Telegraph Company pada tahun 1870. Perusahaan Inggris tersebut memasang kabel bawah tanah dari Banyuwangi ke Darwin, Australia. Rute ini merupakan salah satu bagian dari proyek menghubungkan dunia melalui kabel.

Menurut Munawir, ketua Komunitas Banjoewangie Tempo Doeloe, untuk memasang kabel bawah laut dari Banyuwangi ke Darwin tersebut, pihak perusahaan Inggris mendatangkan para pekerja dan tenaga ahli dari Singapura. Mereka merupakan orang-orang Inggris yang tinggal di Singapura. Hal itu cukup masuk akal, karena saat itu Singapura merupakan daerah koloni Inggris yang jaraknya cukup dekat dengan Indonesia.

Para pekerja tersebut yang jumlahnya tidak sedikit, dijemput dengan kapal laut yang mengangkut kabel dari Inggris. Kapal tersebut lebih dulu mampir ke Singapura untuk menjemput para pekerja yang akan memasang kabel bawah laut dari Banyuwangi ke Australia itu,” kata Munawir sebagaimana dikutip dari Ringtimes.net.

Bukti bahwa Asrama Inggrisan pernah digunakan sebagai rumah kabel telegraf  antara lain berupa tutup lorong/gorong-gorong di Asrama Inggrisan yang bertulis “Burn Brothers Rotunda Works 3 Blackfriars Road London S.E.”.
Identitas rumah kabel telegraf pada tutup gorong-gorong (sumber : Usemayjourney.wordpress.com)
Menurut Munawir, itu keterangan tentang perusahaan asal Inggris yang memproduksi benda-benda kedap air, di antaranya kabel kedap air. Selain itu, di peta Belanda yang dirilis pada tahun 1800-an tertera Asrama Inggrisan tersebut sebagai Kabelhuis alias Rumah Kabel.

Selain itu di sekitar Asrama Inggrisan juga terdapat tidak kurang tujuh buah ruang bawah tanah. Ruangan itu berukuran kurang-lebih 1,5 m x 2 m x 2 m, dengan dinding berwarna putih bersih tanpa ada lumut sekalipun.

Keberadaan ruang bawah ini dikemukakan oleh Suwarno, penghuni asrama Inggrisan yang sekaligus ketua RT setempat. Menurut pria yang masih aktif sebagai prajurit TNI itu, sejak bertugas dan tinggal di asrama Inggrisan mulai tahun 2007, karena penasaran ia sudah tiga kali membuka ruang bawah tanah tersebut.

Menurutnya ruang-ruang bawah tanah itu tidak saling tersambung. Hanya selokannya yang tersambung. Cerita yang didengar Suwarno dari banyak pihak, konon selokan di ruang bawah tanah itu berjajar rapi dan mengarah ke pantai Pulau Santen.

Suwarno menduga, mungkin ruangan tersebut semacam tempat penyimpanan senjata. Sebab, di dasar ruang bawah tanah itu terdapat selokan yang teraliri air. “Bisa jadi air itu berfungsi sebagai pendingin,” tegasnya.

Menurut Munawir, ruang bawah tanah itu sebetulnya bak kontrol kabel telegraf. Namun berdasar penuturan beberapa sumber, jejak dan sisa-sisa kabel telegraf itu sudah dihancurkan oleh Jepang pada saat Perang Dunia II. Kemungkinan besar yang masih utuh berada di bawah laut, katanya.

MENGAPA DISEBUT ASRAMA INGGRISAN?

Dari rangkaian catatan sejarah tadi jelas bahwa Asrama Inggrisan memang tidak dibuat atau dibangun oleh Inggris. Pertanyaannya, jika bukan dibangun oleh Inggris, mengapa dikenal sebagai Asrama Inggrisan? 

Bahwa kalau pada akhirnya masyarakat Banyuwangi lebih mengenalnya sebagai Asrama Inggrisan, hal ini diperkirakan karena diawal-awal berdirinya bangunan tersebut pernah digunakan sebagai tempat penginapan bagi para saudagar/pedagang dari Inggris antara tahun 1763-1811.

Kemudian pada tahun 1870 ketika Inggris membangun jaringan kabel bawah laut di Banyuwangi, bangunan itu menjadi Stasiun Kabel Telegraf dan para pekerjanya yang merupakan tenaga ahli orang-orang inggris tinggal di situ. Barangkali kondisi itu yang menyebabkan bangunan tersebut disebut "Asrama Inggrisan". Meskipun sebetulnya pemerintah Inggris tidak pernah menggunakan asrama itu sama sekali, hanya para pekerja kabel telegraf.

Yang tercatat dalam sejarah, menurut Munawir, yang pernah menggunakan asrama yang kini bernama Asrama Inggrisan tersebut adalah pemerintah kolonial Belanda dan Kempetai yang merupakan unit pasukan tentara Kekaisaran Jepang di era perang Asia Pasifik.

LALU SIAPA YANG PERTAMA MEMBANGUN "INGGRISAN"?

Berkaitan dengan pendapat bahwa bangunan "Inggrisan" tersebut sebetulnya dibangun oleh Belanda, mungkin bisa diartikan bahwa ketika Belanda menguasai bangunan tersebut sejak 1811, pernah dilakukan pembangunan ulang atau perombakan total dari bangunan sebelumnya, sehingga menjadi bentuk bangunan sebagaimana yang terlihat saat ini.

Bila dilihat bahwa fungsi awal bangunan tersebut adalah sebuah penginapan, sedangkan ketika dikuasai oleh Belanda, bangunan tersebut digunakan sebagai Asrama Perwira, maka bisa jadi pernah dilakukan perombakan atas bangunan sebelumnya. Karena bangunan Inggrisan tersebut dengan bangunan utamanya berupa sebuah aula berbentuk rumah panggung yang memiliki banyak pintu dengan lapangan luas didepannya dan pintu masuk berupa gapura, serta disampingnya terdapat bangunan lain yang memiliki banyak kamar berderet lebih mirip sebagai sebuah barak atau markas militer daripada sebagai sebuah penginapan.

Dengan kata lain, bangunan Inggrisan seperti yang terlihat sekarang bisa jadi bukan bangunan asli sebagaimana saat pertama kalinya dibangun, melainkan sudah mengalami perombakan dan perbaikan dibeberapa bagiannya. Tapi ini tentunya masih bersifat perkiraan yang membutuhkan klarifikasi lebih lanjut dari para pakar dan dukungan data-data yang lebih akurat.

Bagaimana pun keberadaan Asrama Inggrisan ini tetap merupakan bangunan yang bernilai sejarah tinggi bagi masyarakat Banyuwangi khususnya, yang layak mendapat perhatian segera dari para pihak yang berwenang. Asrama Inggrisan butuh segera ditangani sebelum semakin terlambat. Jika dibiarkan berlarut tanpa kepastian, bukan tidak mungkin kondisi bangunan semakin rusak. 


loading...

Back To Top