ENDOG-ENDOGAN, TRADISI MULUDAN YANG HANYA ADA DI BANYUWANGI


Wisata Banyuwangi - Untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiul Awal penanggalan Islam, di Banyuwangi ada tradisi unik yang dikenal oleh masyarakat sebagai Tradisi Muludan Endog-endogan. Tradisi endog-endogan ini merupakan tradisi masyarakat Banyuwangi yang telah berlangsung puluhan tahun dan salah satu budaya yang dimiliki oleh masyarakat Banyuwangi yang tidak ada di tempat lain. Tradisi endog-endogan ini menunjukkan budaya gotong royong masyarakat dan sebagai bentuk kecintaan masyarakat Islam terhadap Nabi Muhammad SAW. Sebuah sumber menyebut, ritual Endog Endogan diyakini sebagai  ritual peninggalan para ulama terkemuka yang menyebarkan Islam pertama kali di tanah Jawa yang dikenal dengan Wali Sanga. Salah seorang dari Wali Sanga tersebut, Sunan Giri adalah putra Blambangan, yang merupakan cikal bakal Kabupaten Banyuwangi.
Pawai Endog-endogan
Endog dalam bahasa Indonesia berarti telur. Telur tersebut direbus dan diletakkan pada tusukan bambu kecil yang dihias dengan kembang kertas yang disebut dengan kembang endog. Nantinya kembang endog akan ditancapkan pada jodang, yaitu pohon pisang yang dihias dengan kertas warna-warni untuk menancapkan hiasan endog-endogan yang telah diikat pada batang-batang bambu. Kembang endog adalah visual pohon kehidupan yang berupa sebuah telur dimasukkan ke semacam sangkar yang terbuat dari bambu, dihias dengan aneka cara, dan diatasnya ditutup dengan hiasan bunga mawar.
Endog-endogan

Endog-endogan

Biasanya dalam satu jodang berisi 27, 33 ataupun 99 kembang endog. Kemudian jodang-jodang yang sudah ditancap kembang endog akan diarak keliling kampung, bisa dipanggul ataupun menggunakan becak serta diiringi dengan alat musik tradisional seperti alat musik patrol, terbang, ataupun rebana.

Setelah diarak keliling kampung, jodang akan diletakkan di serambi masjid atau mushola dan akan dibagikan kepada masyarakat selepas pengajian dan makan bersama.
 



Tradisi endog-endogan sendiri tidak hanya dilakukan pada satu wilayah, tapi tersebar di 24 kecamatan di wilayah Kabupaten Banyuwangi, terutama di wilayah-wilayah yang ditempati Suku Using, suku asli Banyuwangi. Mulai dari mushola kecil di desa, masjid, sekolah, bahkan organisasi Islam, semuanya menggelar tradisi endog-endogan.

Tradisi endog-endogan di Banyuwangi.

Menurut Suhailik, sejarawan lokal Banyuwangi, munculnya tradisi endog-endogan sejak akhir abad 18. Endog-endogan ini masuk setelah Islam masuk ke wilayah Kerajaan Blambangan. 

Kisah awal tradisi Endog-endogan di Banyuwangi konon diawali dengan adanya pertemuan di Bangkalan antara Mbah Kyai Kholil, pimpinan Ponpes Kademangan Bangkalan dengan KH Abdullah Fakih pendiri Ponpes Cemoro Balak, Songgon, Banyuwangi.

Dalam pertemuan tersebut, Kyai Kholil mengatakan bahwa kembange Islam wes lahir di nusantara (Nadlatul Ulama) yang dipersonifikasikan sebagai endhog (telur). Yaitu kulit telur melambangkan kelembagaan NU sendiri, sementara isi telur melambangkan amaliyah.

Sepulang dari pertemuan tersebut, Kyai Fakih pun menyebarkan amanah tersebut dengan cara mengarak keliling kampung gedebog (batang) pisang yang telah dihias dengan tancapan telur-telur dan bunga, dengan disertai lantunan sholawat dan dzikir. Ini kemudian menjadi cikal bakal tradisi endog-endogan yang ada di Banyuwang.

Selain itu ada makna filosofi yang tinggi dari Tradisi Endog-endogan ini. Endog atau telur memiliki tiga lapisan, yang terdiri dari kuningan, putihan dan cangkang. Berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad, ketiga lapis telur tersebut merupakan bahasa simbolik. Pertama, kuning telur terdapat di bagian paling dalam dari sebuah telur. Dari kuning telur ini merupakan embrio dari sebuah proses kehidupan. Dalam bagian ini terdapat protein yang tinggi maka dapat di ibaratkan sebagai IHSAN dalam kehidupan, sebagai bagian yang paling penting.

Kedua, Putihan  yang berfungsi sebagai pembungkus dan pelindung kuningan. Putihan disini ibarat ISLAM, setelah ihsan maka membentuklah sebuah kenyakinan yaitu berupa islam. Ketiga, Cangkang adalah kulit terluar dari telur yang melindungi putihan dan kuningan telur tersebut. Cangkang ibarat IMAN dalam kehidupan.

Ditancapkannya telur di pohon pisang maknanya adalah pohon pisang di ibaratkan manusia. Dalam diri manusia  terdapat perangkat qolbu yang  didalamnya dapat tancapkan apa saja, kebaikan ataupun keburukan. Maka iman, islam dan ihsan  adalah harmonisasi risalah yang di bawa Nabi Muhammad SAW, yang jika di tancapkan pada diri manusia akan  menghasilkan manusia yang tercermin dari pribadi Nabi Muhammad SAW.

Yang juga unik, tradisi Endog-endogan tidak serentak dilaksanakan pada tanggal 12 Rabiul Awal, tapi dilaksanakan selama satu bulan. Waktunya bergantian, hari ini bisa di kampung A, besok di kampung B. Yang jelas selama satu bulan penuh di Banyuwangi akan banyak pawai endog-endogan.

Namun dengan perkembangan zaman, kembang endog sudah berubah tidak hanya berbentuk bunga tetapi berubah sesuai kreativitas masyarakat, seperti berbentuk barong, ular naga, pesawat ataupun model kerucut.


Menurut Salimah, salah satu pembuat kembang endog, bentuk yang banyak dicari oleh masyarakat adalah bentuk seperti burung dan juga kerucut. "Jadi telurnya tidak lagi ditusuk bambu tapi digantung agar tidak cepat basi. Bentuknya juga lebih menarik terutama bagi anak-anak," katanya.


FESTIVAL ENDOG-ENDOGAN


Sejak 2014 tradisi Endog-endogan ini dikemas menjadi salah satu bentuk wisata budaya yang unik di Banyuwangi dan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Banyuwangi Festival yang digelar setiap tahun.

Pada tahun 2014 Festival Endog-endogan bertema Arak-arakan Endog-endogan, yang diawali dengan zikir maulid dan pujian-pujian lalu dilanjutkan dengan musik Hadrah Kuntulan dengan judul lagu "Bulan Mulud". Selain itu juga ada penampilan teatrikal yang menceritakan masuknya Islam di Nusantara. Termasuk pula kisah awal Sunan Kalijaga menjadi salah satu Wali Songo hingga perjalanan dakwahnya melalui seni diiringi dengan gending-gending yang pernah dibawakan Sunan Kalijaga seperti Dandanggula, Semarangan, dan Lir-ilir.

Selain itu juga ada teatrikal yang menjelaskan kisah awal tradisi Endog-endogan di Banyuwangi, masuknya Islam di Bumi Blambangan dengan mengangkat kisah Syekh Maulana Ishak dan Sekar Dalu. Selain menampilkan beberapa teatrikal, ada juga beberapa kreasi endog-endogan yang ditampilkan dalam beberapa bentuk seperti bunga, masjid, ataupun dikreasikan dalam bentuk baju.


Festival Endog-endogan Banyuwangi.
Festival Endog-endogan 2014
Pada 2015 Festival endog-endogan mengusung tema “Menebar Sholawat Menuai Cinta Nabi Muhammad SAW, Banyuwangi Penuh Rahmat”, berlangsung pada 17 Januari 2015. Kali ini Endog-endogan dilaksanakan serempak di 24 Kecamatan di Kabupaten Banyuwangi, yang diikuti oleh masyarakat, pelajar dan para SKPD.


Yang berbeda dalam festival Endog-endogan 2015 dengan tahun sebelumnya adalah lebih menekankan pada pembacaan sholawatnya dengan tidak mengurangi tradisi ngarak kembang endog. Selain itu untuk tahun 2015 kembang endognya selain ditancapkan pada jodang juga harus ditancapkan pada ancaknya, dan  telurnya harus ditusuk, bukan dibungkus dengan plastik dan wadah sejenisnya.




loading...

Back To Top