JAMAN NOW, ERA KOMPETISI SUDAH LEWAT, SEKARANG SAATNYA ERA KOLABORASI. INI YANG DILAKUKAN BANYUWANGI DENGAN GO-JEK


Go-Jek pun go Banyuwangi ...

Di banyak daerah, kehadiran transportasi online Go-Jek mendapat penolakan dari berbagai komunitas. Umumnya karena merasa Go-Jek dianggap pesaing yang akan mengambil rejeki mereka. Tapi kondisi berbeda dialami Go-Jek di Banyuwangi.

Karpet merah digelar menyambut hadirnya Go-Jek di bumi Blambangan. Pemkab Banyuwangi merangkul erat, dan tidak ada resistensi dari masyarakat Banyuwangi. Semua welcome dengan Go-Jek.

Bahkan secara khusus, Bupati Azwar Anas merasa perlu menyambangi markas Go-Jek di Jakarta untuk bertemu petingginya. Maka tak heran bos Go-Jek, Nadiem Makarim pun merasa semringah. Baru kali ini Go-jek mendapat sambutan begitu hangat.

Kolaborasi Pemkab Banyuwangi dan Go-Jek.
Kolaborasi dua bos. Gaya santai Azwar Anas (kiri) bos Banyuwangi 1 dan Nadiem Makarim, bos Go-Jek, saat mengadakan konfenrensi pers Pesta Kuliner Go-Food sambil menikmati sop buah. (via TimesIndonesia.co.id)
Banyuwangi pun menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang menerima Go-Jek dengan tangan terbuka dan secara resmi mengajak berkolaborasi. Oktober lalu nota kesepahaman antara kedua belah pihak ditandatangani.

Kerjasama Go-Jek dengan Pemkab Banyuwangi terdiri dari tiga sektor, yakni kesehatan, UMKM dan transportasi.

Pertama, kolaborasi dalam pengantaran obat untuk program “Gancang Aron” yang artinya lekas sembuh. Gancang Aron adalah program layanan pengiriman obat ke rumah masyarakat yang sedang sakit dan ditujukkan bagi warga miskin yang disubsidi oleh Pemkab Banyuwangi.

Pola kerjasamanya, pasien yang selesai berobat di rumah sakit, tidak perlu antri obat di apotik. Resep cukup dibawa ke pos yang disebut Shelter Go-Jek Gancang Aron di RSUD Blambangan, lalu diproses petugas, pasien bisa langsung pulang. Driver Go-Jek yang menggantikan antri obat, sekaligus mengantarkan obat ke rumah pasien tersebut. Khusus pasien miskin, gratis semuanya. Ya berobatnya, ya obatnya, ya biaya pengantaran obatnya, ditanggung Pemkab Banyuwangi. Ini satu cara Banyuwangi memanusiakan warganya yang tak mampu.

Kerjasama pengambilan dan pengantaran obat bagi pasien ini sangat penting, karena di RSUD Blambangan saja, setiap hari ada 700 orang mengantre obat dan urutan terakhir akan mendapatkan obat pukul 3 sore hari.



Driver Go-Jek menerima pelatihan dalam pendistribusian obat bagi pasien rumah sakit di Banyuwangi.
Driver Go-Jek mendapatkan pelatihan pendistribusian obat dan mengikuti serangkaian tes. Hanya mereka yang lolos ujian akan diberikan kartu identitas resmi dari RS sebagai pengantar obat ke pasien. (via Antaranews.com)
Kedua, berkolaborasi soal pengenalan dan promosi UMKM kuliner Banyuwangi lewat acara pesta kuliner Go-Food.

Ketiga, kerja sama dengan perusahaan taksi lokal untuk memperkuat armada Go-Car. Perusahaan taksi lokal diajak bergabung dengan Go-Jek dan mau menerima orderan dari aplikasi Go-Jek. Sedangkan untuk ojek online, Pemkab Banyuwangi sudah menggandeng 800 tukang ojek bergabung dengan Go-Jek.

Untuk Go-Car, telah dilakukan penandatanganan nota kesepahaman GoCar dengan Taksi Bosowa dan Taksi Banyuwangi, sehingga pengguna Go-Car bisa menikmati layanan taksi lokal.

“Banyuwangi merupakan salah satu tujuan wisata andalan Indonesia, kini turis pun tidak perlu khawatir kalau ingin bepergian. Sebab, begitu tiba di bandara, terminal, stasiun, ataupun pelabuhan, bisa mencoba membuka aplikasi Go-CAR untuk memesan kendaraan dari sana, dan bisa mendapatkan layanan taksi lokal,” ujar Malikulkusno Utomo, Senior Vice President Government Relations GoJek seperti dikutip dari Kontan.co.id.

Pertanyaan pentingnya, mengapa Pemkab Banyuwangi bersikap begitu kooperatir dengan Go-Jek ?Apa kepentingan Banyuwangi dengan Go-Jek?

Kolaborasi Go-Jek dan Pemkab Banyuwangi.
Bahasa tubuh yang berbicara, kehangatan ekspresi kedua petinggi ini (via Antaranews.com)
Ini alasannya. Menurut Bupati Anas, pemanfaatan teknologi tidak dapat dihindari, dan Pemda harus dapat memanfaatkannya untuk pelayanan kepada masyarakat. Kolaborasi adalah cara Banyuwangi menjawab perkembangan jaman yang tidak bisa lepas dari perkembangan dunia digital. Masuknya Go-Jek ke Banyuwangi dilihat sebagai peluang untuk melakukan kolaborasi.

Dikutip dari portal Antaranews.com, bagi Anas, daerah yang bisa berkembang adalah yang mau dan bisa berkolaborasi dengan banyak pihak untuk mempermudah warganya.
Banyuwangi sudah tidak bicara kompetisi, ini eranya kolaborasi. Kolaborasi akan membangun ekosistem. Namanya ekosistem itu tidak bisa hidup sendiri, mereka harus saling terkait untuk bisa saling menghidupkan. Kalau sudah sama-sama, apa-apa bisa lebih mudah digapai. - Azwar Anas -
Di bagian lain, Anas kembali menegaskan, kolaborasi adalah kunci peningkatan kualitas layanan publik.

"Kami di Banyuwangi percaya bahwa hanya lewat pemerintahan yang kolaboratif, kita bisa mempercepat peningkatan kualitas layanan publik, sekaligus membantu masyarakat terus berkembang," papar Anas. 

Dan Anas punya alasan kuat mengajak Go-Jek berkolaborasi secara resmi.

"Go-Jek adalah satu dari sedikit entitas bisnis yang mampu mewujudkan kewirausahaan sosial dengan baik, yang mampu mengajak orang lain untuk maju bersama. Inovasi-inovasi sosial seperti itulah yang perlu didukung, karena pemerintah jelas tak bisa berjalan sendirian," jelas Anas. 

Anas menggarisbawahi pentingnya sinergi antara swasta dan pemerintah.

"Swasta punya inovasi, Pemda Banyuwangi punya inovasi, namun bila berjalan masing-masing tidak akan berjalan seperti yang diinginkan," kata Anas seperti dilansir dari Times Indonesia

Dicontohkan Go-Jek yang tidak memiliki motor sama sekali untuk ojeknya, namun melakukan sinergi dengan driver, hingga bisa sebesar seperti sekarang ini.

Anas percaya, melalui kolaborasi pemeritahannya dengan perusahaan penyedia transportasi daring itu, bisa membawa dampak positif bagi masyarakat Banyuwangi. Khususnya untuk pekerja sektor informal, UMKM, pelaku usaha transportasi, dan masyarakat umum.

Banyuwangi Di Mata Bos Go-Jek

Uluran tangan yang hangat dari Banyuwangi membuat Nadiem Makarim rajin ke Banyuwangi. Lalu, bagaimana pandangannya terhadap Kabupaten Banyuwangi yang begitu pro inovasi?.

Pihaknya berterima kasih kepada Pemkab Banyuwangi, yang telah memberikan kesempatan untuk membantu meningkatkan pelayanan publik bagi masyarakat Banyuwangi melalui solusi teknologi yang ditawarkan Go-Jek.

Nadiem menyebut kolaborasi Go-Jek dengan Pemkab Banyuwangi dapat memacu ekosistem digital di Indonesia.

Menurutnya, Banyuwangi pantas menjadi role model pembangunan kota di Indonesia. Perkembangan Banyuwangi menjadi salah satu yang paling pesat di Tanah Air.

CEO Go-Jek Nadiem Makarim dan Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas saat membuka Pesta Kuliner Go-Food di Banyuwangi. Pemkab Banyuwangi (via Tempo.co)
Menurut Nadiem, ada tiga hal yang mendukung inovasi di Banyuwangi bisa berjalan dengan baik.

Pertama, asimilasi teknologi dari offline ke online di Banyuwangi berjalan cepat alias Banyuwangi terbuka pada inovasi dan hal baru.

Kedua, Banyuwangi terbuka pada kolaborasi dengan pihak lain.

Ketiga, dukungan pemerintah daerah mampu menciptakan iklim inovasi di jajaran birokrasinya sehingga muncul banyak program kreatif untuk melayani warga.

Nadiem pun mengaku salut atas keterbukaan Banyuwangi pada pendekatan teknologi dan kolaborasi. Pemkab Banyuwangi merangkul banyak inovator sosial berbasis teknologi untuk meningkatkan pelayanan ke warganya.

"Banyuwangi menjadi inkubasi inovasi untuk menunjukkan bahwa kolaborasi pemda dan perusahaan teknologi swasta akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk banyak pihak. Teknologi akan membantu masyarakat mendapatkan pelayanan dengan efisien. Selain itu, teknologi bisa memperbesar skala pelayanan," puji Nadiem seperti dilansir dari Tempo.co.

GO-JEK HADIR, BANYUWANGI PUN BERUBAH

Sejak resmi masuk Banyuwangi pada Oktober 2917, hadirnya Go-Jek di Banyuwangi membawa dampak yang signifikan di masyarakat dalam waktu yang singkat. Layanan Go-Jek sudah menjadi buah bibir di kehidupan keseharian warga.

Portal Timesindonesia.co.id membuat catatan tentang berbagai perubahan di Banyuwangi, terutama dampak dari Go-Food.

Sekarang melihat pegawai dan staff Pemkab Banyuwangi berangkat kerja diantar Go-Jek sudah biasa, begitu juga melihat driver berjaket Go-Jek mengantre di warung-warung kuliner favorit di Banyuwangi, juga sudah biasa.

Warga Banyuwangi makin akrab dengan si jaket hijau di jalanan Banyuwangi.
Tidak beda seperti di Jakarta, 80 persen transaksi Go-Food di Banyuwangi juga melibatkan warung-warung kecil dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), alih-alih pemain besar.

"Orang kaya makan di warung nggak mungkin. Tapi dengan Go-Food mereka jadi beli ke warung-warung kecil dan UMKM yang mana makanan yang dijual memang memiliki cita rasa yang paling enak dan otentik," kata Nadiem.

Sementara Bupati Anas berharap dengan adanya layanan Go-food, UMKM Kuliner Banyuwangi semakin berkembang dan bisa menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat melalui kekuatan ekonomi digital.

"Saya berharap, mbok-mbok penjual kuliner kaya rasa yang resep masakannya sudah diwariskan dari generasi ke generasi di sudut-sudut kampung, mereka yang tak punya biaya untuk buka ruko di pinggir jalan, bisa tambah laris dengan pemesanan lewat aplikasi ini. Wisatawan bisa menunggu di hotel, makanan pun diantarkan," kata Anas. 

Menurut Bupati Anas, berkat Go-Food banyak orang kaya yang menginap di hotel-hotel di Banyuwangi memesan kuliner khas Banyuwangi tanpa keluar hotel. Seperti Rujak Soto, Nasi Cawuk, Nasi Tempong, Pecel Pitik hingga kuliner kreasi terbaru.

"Orang kaya menginap di kamar mewah, makannya pesan ke warung kaki lima," kata Anas.

PESTA KULINER GO-FOOD 

Lewat program Pesta Kuliner Go-Food, Go-Jek memperkenalkan para merchant yang tergabung di aplikasi Go-Food agar lebih dikenal masyarakat Banyuwangi. Sehingga nantinya masyarakat bisa memesan makanan dengan mudah lewat aplikasi dan membayar menggunakan Go-Pay. 

Pesta kuliner Go-Food berlangsung selama 3 hari, 15-17 Desember 2017, di Gedung Wanita jalan RA Kartini Banyuwangi menghadirkan VJ Daniel Mananta yang menjadi brand ambassador aplikasi kuliner Go-Jek. Bahkan Daniel mengaku terkesan dengan Rujak Soto. Ia pun lahap menghabiskan semangkuk Rujak Soto.

"Gila, ini enak banget, pas dengan lidah saya, " pujia Daniel berulangkali.

Saat ini ada 1.200 merchant kuliner yang tergabung di Go-Food, 200 di antaranya dari Banyuwangi. Dan masih banyak UMKM kuliner Banyuwangi lain yang antre bergabung dengan Go-Food.

Bravo kuliner Banyuwangi.
Pesta kuliner Go-Food di Banyuwangi.
Pesta Kuliner Go-Food di Gedung Wanita, Banyuwangi.

Pesta kuliner Go-Food 2017 di Banyuwangi.
Deretan stand kuliner di Pesta Kuliner Go-Food Banyuwangi.






Ada gamesnya juga lo.

Dimeriahkan komunitas motor di Banyuwangi. Mereka berkeliling kota mempromosikan Go-Food.


loading...

Back To Top